5 Negara Asia yang Diam-Diam Menjadi Pusat Startup Baru

Last Updated: 30 September 2026, 05:53

Bagikan:

5 Negara Asia yang Diam-Diam Menjadi Pusat Startup Baru
Table of Contents

Garap Media- Peta startup Asia sedang berubah. Jika dulu perhatian investor global lebih banyak tertuju pada China, India dan Singapura, kini gelombang baru mulai muncul dari negara-negara yang sebelumnya belum menjadi pusat utama teknologi. OECD mencatat Asia kini menjadi ekosistem startup terbesar kedua di dunia berdasarkan investasi modal ventura. Menariknya, Indonesia, Vietnam, Thailand dan sejumlah negara Asia Tenggara berkembang dalam waktu relatif cepat. Perubahan ini menunjukkan bahwa pusat inovasi Asia mulai menyebar ke lebih banyak negara.

Fenomena tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Digitalisasi, pertumbuhan konsumen, kebijakan pemerintah, perusahaan teknologi dan meningkatnya akses terhadap modal ikut membentuk ekosistem baru. Bahkan pada kuartal kedua 2026, investasi VC di Asia mencapai US$50,8 miliar melalui 2.676 transaksi, menjadi kuartal terkuat sejak akhir 2021. AI, robotika, semikonduktor, manufaktur maju dan energi menjadi sektor yang banyak menarik modal. Lalu, negara mana yang diam-diam mulai membangun posisi penting?

1. Indonesia

Indonesia menjadi salah satu pusat startup yang pertumbuhannya sulit diabaikan. OECD menempatkan Indonesia sebagai ekosistem startup terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Singapura berdasarkan data investasi dan jumlah startup. Besarnya populasi membuat Indonesia memiliki pasar konsumen digital yang sangat luas. Fintech, e-commerce, transportasi dan layanan digital menjadi sektor yang banyak mendapatkan perhatian investor. Kondisi tersebut membuat Jakarta berkembang sebagai salah satu titik penting aktivitas startup regional.

Kekuatan Indonesia juga berasal dari masalah besar yang bisa diubah menjadi peluang bisnis. Sistem pembayaran, logistik, pendidikan, kesehatan dan layanan keuangan masih memiliki ruang besar untuk didigitalisasi. Startup lokal dapat membangun solusi yang kemudian digunakan oleh jutaan konsumen. Tantangannya adalah pendanaan yang lebih selektif dan kebutuhan membangun bisnis yang benar-benar sehat. Namun, ukuran pasar membuat Indonesia tetap menjadi salah satu ekosistem yang diperhitungkan.

2. Vietnam

Vietnam sedang mengubah citra dari basis manufaktur menjadi salah satu tempat berkembangnya perusahaan teknologi. OECD mencatat Vietnam merupakan hub startup terbesar ketiga di Asia Tenggara berdasarkan investasi modal ventura dan jumlah startup. Pemerintah juga melihat startup sebagai bagian penting dari strategi inovasi dan digitalisasi nasional. Perkembangan tersebut berjalan bersamaan dengan kekuatan Vietnam sebagai pusat manufaktur global. Kombinasi teknologi dan industri menciptakan peluang bagi startup untuk masuk ke sektor bernilai tambah lebih tinggi.

Startup Vietnam juga mendapatkan keuntungan dari ekosistem perusahaan yang semakin terhubung dengan pasar internasional. Teknologi manufaktur, fintech, e-commerce, software dan layanan digital menjadi beberapa area yang berkembang. Posisi Vietnam dalam rantai pasok global dapat memberikan peluang bagi startup yang mampu menyelesaikan masalah industri secara spesifik. Tantangannya tetap berada pada akses modal, talenta dan kemampuan membawa startup menuju skala internasional. Meski demikian, Vietnam semakin sulit dipandang hanya sebagai negara manufaktur murah.

3. Thailand

Thailand mungkin tidak selalu muncul dalam daftar utama startup Asia, tetapi ekosistemnya berkembang cukup konsisten. OECD mencatat Thailand merupakan hub startup terbesar keempat di Asia Tenggara berdasarkan investasi VC. Investasi yang sebelumnya hampir tidak terlihat sebelum 2011 telah meningkat hingga lebih dari 0,1 persen PDB pada periode 2021–2023. Fintech, e-commerce dan transportasi menjadi sektor penting dalam perkembangan tersebut. Pemerintah juga menjalankan berbagai program untuk memperkuat inovasi dan digitalisasi.

Menariknya, Thailand memiliki keunggulan berupa keterlibatan perusahaan besar dalam pendanaan startup. Model tersebut membuka peluang bagi startup untuk mendapatkan akses pasar sekaligus jaringan bisnis. Food-tech juga menjadi salah satu karakter yang membedakan ekosistem Thailand dari beberapa negara tetangganya. Namun, OECD mencatat pendanaan tahap awal dan investasi pada teknologi yang lebih kompleks masih perlu diperkuat. Artinya, Thailand sedang membangun fondasi sebelum mengejar level ekosistem startup yang lebih matang.

4. Filipina

Filipina mulai mendapatkan perhatian lebih besar dari investor teknologi Asia. Startup Genome mencatat Filipina memiliki sekitar 1.200 startup, 65 inkubator dan akselerator, serta 55 venture capital. Manila juga mencatat US$2,4 miliar pendanaan VC pada periode 2020–2024. Kekuatan tersebut didukung tenaga kerja terampil dan pasar domestik yang besar. Pemerintah melalui Innovative Startup Act juga memiliki target untuk memperluas jumlah startup dan investasi.

Momentum Filipina semakin menarik ketika pendanaan startup mulai menunjukkan pergerakan. Philippine News Agency melaporkan startup Filipina memperoleh sekitar US$86,4 juta pada paruh pertama 2025, lebih tinggi daripada Indonesia pada periode yang sama. Angka tersebut memang tidak berarti Filipina telah menjadi pusat startup terbesar di kawasan. Namun, perkembangan itu memperlihatkan bahwa investor mulai melihat peluang baru di pasar Filipina. Fintech, layanan digital, outsourcing dan teknologi konsumen menjadi area yang berpotensi berkembang.

5. Malaysia

Malaysia menjadi salah satu negara yang bergerak lebih cepat membangun ekosistem startup tanpa selalu mendapatkan sorotan sebesar Singapura. Pada 2025, Kuala Lumpur masuk peringkat ke-18 Global Top Emerging Startup Ecosystems versi Startup Genome. Pendanaan tahap awal di Kuala Lumpur mencapai sekitar RM1,5 miliar atau US$368 juta dalam dua setengah tahun. Pemerintah Malaysia juga menjalankan Malaysia Startup Ecosystem Roadmap dan KL20 Action Plan. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat modal, talenta dan daya saing startup.

Perkembangan Malaysia tidak berdiri sendiri karena negara ini juga memiliki basis industri dan teknologi yang kuat. Investasi besar pada semikonduktor, infrastruktur digital dan logistik dapat menciptakan lingkungan baru bagi startup berbasis teknologi. Pemerintah Malaysia melaporkan investasi domestik melalui perusahaan investasi terkait pemerintah mencapai RM20,3 miliar pada 2025. Sebagian dana tersebut diarahkan ke semikonduktor, infrastruktur digital, logistik dan perusahaan Malaysia yang lebih muda. Kombinasi industri dan teknologi membuat Kuala Lumpur memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai hub startup regional.

Penutup

Lima negara tersebut menunjukkan bahwa pusat startup Asia semakin tersebar. Indonesia mengandalkan skala pasar, Vietnam menggabungkan teknologi dengan manufaktur, Thailand memperkuat inovasi melalui korporasi, Filipina memanfaatkan talenta dan pasar jasa, sedangkan Malaysia membangun ekosistem dengan dukungan industri serta kebijakan nasional. Perkembangan itu terjadi ketika modal ventura Asia kembali menunjukkan momentum pada 2026. Namun, besarnya pendanaan tidak otomatis menjamin semua startup berhasil.

Yang lebih penting adalah kemampuan setiap negara membangun ekosistem yang mampu menghasilkan perusahaan berkelanjutan. Talenta, modal, regulasi, pasar, teknologi, infrastruktur dan peluang ekspansi internasional akan menentukan siapa yang mampu bertahan. Karena itu, gelombang startup berikutnya di Asia kemungkinan tidak hanya datang dari pusat teknologi lama. Indonesia, Vietnam, Thailand, Filipina dan Malaysia kini memiliki fondasi yang membuat mereka semakin layak diperhatikan dalam peta startup Asia.

Sumber Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /