Garap Media – Selama bertahun-tahun, persaingan teknologi global seolah hanya memiliki dua pusat kekuatan: Amerika Serikat dan China. AS unggul dalam perusahaan teknologi, AI, software dan modal, sementara China memiliki kekuatan manufaktur, rantai pasok dan pasar industri yang sangat besar. Namun, Eropa mulai menunjukkan bahwa dirinya tidak ingin sekadar menjadi pasar bagi teknologi yang dibuat pihak lain. Pada 2026, Uni Eropa mempercepat agenda kedaulatan teknologi melalui kebijakan baru yang mencakup semikonduktor, AI, cloud dan teknologi open source.
Langkah tersebut bukan berarti Eropa ingin memutus hubungan dengan AS atau China. Justru strateginya lebih banyak diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi dan rantai pasok yang dianggap terlalu berisiko. Eropa memiliki pasar konsumen besar, industri otomotif, manufaktur, riset dan perusahaan teknologi yang dapat menjadi modal penting. Tantangannya adalah mengubah kekuatan tersebut menjadi kemampuan teknologi yang lebih mandiri. Lalu, seperti apa strategi Eropa menghadapi AS dan China?
1. Eropa Mulai Mengejar Kedaulatan Teknologi
Fakta pertama adalah Eropa kini secara terbuka menggunakan istilah tech sovereignty atau kedaulatan teknologi. Pada 3 Juni 2026, Komisi Eropa mengajukan paket teknologi yang mencakup Chips Act 2.0, Cloud and AI Development Act, strategi open source serta peta jalan digitalisasi dan AI di sektor energi. Tujuannya adalah memperkuat kemampuan Eropa mengembangkan dan mengendalikan teknologi penting, data serta infrastruktur digital.
Strategi ini menunjukkan perubahan cara berpikir Eropa dalam menghadapi persaingan global. Jika sebelumnya efisiensi dan akses pasar menjadi perhatian utama, kini ketahanan teknologi ikut menjadi prioritas. Eropa tidak harus membuat semua teknologi sendiri, tetapi ingin memiliki kemampuan yang cukup untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok eksternal. Dengan pendekatan tersebut, hubungan dengan AS dan China dapat tetap berjalan sambil risiko strategis dikurangi.
2. AI Menjadi Senjata Baru untuk Mengejar Ketertinggalan
Fakta kedua adalah Eropa melihat AI sebagai mesin pertumbuhan ekonomi berikutnya. Komisi Eropa mengakui bahwa benua tersebut masih menghadapi kekurangan infrastruktur komputasi berskala besar yang dibutuhkan untuk melatih dan menjalankan model AI generasi baru. Karena itu, Uni Eropa mendorong pembangunan AI Gigafactories yang menggabungkan investasi publik dan swasta. Program tersebut ditargetkan memobilisasi sekitar €20 miliar dan pada 2026 telah menerima 77 proposal dari 16 negara anggota.
AI Gigafactories penting karena persaingan AI tidak hanya ditentukan oleh model yang pintar. Negara juga membutuhkan GPU, pusat data, listrik, jaringan dan sumber daya komputasi dalam jumlah besar. Eropa berusaha membangun fondasi tersebut agar perusahaan dan penelitinya memiliki akses terhadap infrastruktur yang diperlukan untuk mengembangkan AI. Jika berhasil, investasi tersebut dapat memperkuat produktivitas industri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap platform komputasi dari luar Eropa.
3. Chip Menjadi Prioritas karena Eropa Tak Ingin Rentan
Fakta ketiga berkaitan dengan semikonduktor. Uni Eropa telah menjalankan European Chips Act untuk memperkuat riset, desain, manufaktur dan ketahanan rantai pasok chip. Pada 2026, Komisi Eropa mengusulkan Chips Act 2.0 untuk memperluas upaya tersebut dan mengurangi ketergantungan strategis. Hingga September 2026, Komisi menyebut telah menyetujui 18 keputusan bantuan negara untuk fasilitas semikonduktor baru dengan total investasi publik dan swasta lebih dari €32 miliar.
Investasi itu penting karena chip menjadi fondasi hampir semua teknologi modern. Industri otomotif, komunikasi, pusat data, perangkat pintar hingga sistem industri semuanya bergantung pada semikonduktor. Eropa memang tidak sedang mengejar posisi yang sama dengan setiap produsen chip AS atau Asia. Namun, dengan memperkuat desain, manufaktur, packaging dan peralatan semikonduktor, Eropa berusaha memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai pasok global.
4. Eropa Memilih Mengurangi Risiko, Bukan Memutus China
Fakta keempat terlihat dari hubungan Eropa dengan China. Komisi Eropa menyebut China sebagai partner, kompetitor ekonomi sekaligus rival sistemik, sehingga kebijakan terhadap Beijing tidak dibuat secara hitam-putih. Pada 2025, defisit perdagangan barang EU dengan China mencapai sekitar €359,9 miliar, sementara China tetap menjadi sumber impor terbesar bagi Uni Eropa.
Karena hubungan ekonomi tersebut sangat besar, Eropa memilih pendekatan de-risking, bukan decoupling. Artinya, Uni Eropa berusaha mengurangi ketergantungan kritis dan mendiversifikasi rantai pasok tanpa menghentikan seluruh hubungan perdagangan. Strategi ini membuat Eropa tetap dapat memanfaatkan pasar dan industri China sambil berusaha menghindari ketergantungan berlebihan pada sektor strategis. Bagi perusahaan global, pendekatan tersebut dapat menciptakan rantai pasok yang semakin beragam.
5. Pasar Tunggal Eropa Dipakai sebagai Kekuatan
Fakta kelima adalah Eropa mulai melihat pasar internalnya sendiri sebagai sumber kekuatan. Pada April 2026, institusi utama Uni Eropa menyepakati One Europe, One Market Roadmap dengan target memperkuat daya saing dan integrasi pasar hingga akhir 2027. Komisi Eropa memperkirakan langkah penyederhanaan regulasi dapat menghasilkan penghematan €37,5 miliar bagi perusahaan EU hingga 2029.
Pasar tunggal yang lebih terintegrasi dapat membantu perusahaan Eropa tumbuh tanpa harus langsung bergantung pada pasar AS atau China. Regulasi yang lebih sederhana, investasi teknologi dan akses lintas negara dapat membuat perusahaan lebih mudah memperluas bisnis. Tantangannya tetap besar karena Eropa harus menyatukan kepentingan 27 negara dengan struktur ekonomi yang berbeda. Namun, jika integrasi berjalan lebih efektif, ukuran pasar Eropa sendiri dapat menjadi salah satu modal menghadapi persaingan teknologi global.
Penutup
Lima strategi tersebut menunjukkan bahwa Eropa sedang mencoba membangun posisi yang lebih mandiri di tengah persaingan AS dan China. AI Gigafactories diarahkan untuk memperkuat komputasi, Chips Act memperkuat fondasi semikonduktor, sementara kebijakan tech sovereignty berusaha mengurangi ketergantungan terhadap teknologi eksternal. Di sisi perdagangan, Eropa memilih de-risking terhadap China dan tetap mempertahankan hubungan ekonomi. Pada saat yang sama, penguatan pasar tunggal diarahkan untuk membuat perusahaan Eropa lebih kompetitif.
Pertanyaannya kini bukan apakah Eropa mampu menyaingi setiap perusahaan AS atau China secara langsung. Yang lebih penting adalah apakah Eropa dapat mengubah kekuatan industrinya, pasar besarnya dan kemampuan riset menjadi ekosistem teknologi yang lebih kuat. Jika strategi tersebut berjalan, persaingan teknologi global bisa semakin kompleks karena tidak lagi hanya berpusat pada Washington dan Beijing. Eropa sedang berusaha memastikan bahwa dalam ekonomi digital berikutnya, ia tidak hanya menjadi pembeli teknologi, tetapi juga menjadi salah satu pembuat aturan dan pemain utamanya.
Sumber Referensi
- European Commission – Strengthening Europe’s Tech Sovereignty
https://commission.europa.eu/news-and-media/news/strengthening-europes-tech-sovereignty-2026-06-03_en - European Commission – AI Gigafactories
https://commission.europa.eu/topics/competitiveness/competitiveness-coordination-tool-projects/ai-gigafactories_en - European Commission – European Chips Act
https://digital-strategy.ec.europa.eu/en/policies/european-chips-act - European Commission – One Europe, One Market Roadmap
https://commission.europa.eu/topics/competitiveness/one-europe-one-market-roadmap_en
