5 Eropa Tidak Mau Kalah, Ini Strategi Baru Menghadapi AS dan China

Last Updated: 25 September 2026, 08:58

Bagikan:

5 Eropa Tidak Mau Kalah, Ini Strategi Baru Menghadapi AS dan China
Table of Contents

Garap Media – Selama bertahun-tahun, perlombaan teknologi global seolah hanya memiliki dua pusat gravitasi, yakni Amerika Serikat dan China. Amerika memiliki perusahaan teknologi raksasa dan modal yang sangat besar, sedangkan China mengandalkan skala manufaktur, rantai pasok, serta pasar domestik yang luas. Eropa selama ini terlihat seperti pemain yang lebih sibuk membuat aturan daripada membangun teknologi sendiri. Namun situasi tersebut mulai berubah karena Brussel kini secara terbuka mendorong kemandirian teknologi sebagai bagian dari strategi ekonomi dan keamanan.

Pada Juni 2026, Komisi Eropa memperkenalkan paket Tech Sovereignty yang mencakup Chips Act 2.0, Cloud and AI Development Act, strategi open source, serta peta jalan digitalisasi dan AI untuk sektor energi. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan terhadap penyedia teknologi dari luar Eropa sekaligus memperkuat kapasitas domestik. Inilah rahasia yang mulai terlihat: Eropa tidak ingin sekadar menjadi pasar bagi teknologi Amerika atau China, tetapi berusaha membangun ekosistemnya sendiri.

1. Rahasia Pertama: Eropa Mulai Memburu Kekuatan AI Sendiri

AI menjadi medan pertama yang ingin dikuasai Eropa karena teknologi ini diperkirakan akan memengaruhi produktivitas, industri, kesehatan, pertahanan, hingga layanan publik. Komisi Eropa menyebut AI sebagai teknologi strategis dan sedang membangun jaringan AI Factories serta AI Gigafactories untuk memperbesar kapasitas komputasi kawasan. Pada Juli 2026, Uni Eropa meluncurkan proses pembangunan hingga tujuh AI Gigafactories dengan dukungan hingga €10 miliar dari pendanaan Uni Eropa dan negara anggota.

Langkah tersebut penting karena perusahaan AI tidak bisa berkembang hanya dengan ide dan talenta. Mereka membutuhkan GPU, pusat data, cloud, energi, jaringan internet berkecepatan tinggi, serta modal dalam jumlah besar. Komisi Eropa mengakui bahwa kawasan tersebut masih menghadapi kekurangan infrastruktur komputasi skala besar yang menjadi salah satu hambatan untuk bersaing secara global. Dengan membangun infrastruktur sendiri, Eropa mencoba mengurangi ketergantungan terhadap kapasitas teknologi dari luar kawasan.

2. Rahasia Kedua: Chip Menjadi Senjata yang Tidak Boleh Hilang

Di balik setiap revolusi AI terdapat satu komponen yang tidak bisa diabaikan, yaitu semikonduktor. Tanpa chip canggih, pusat data tidak mampu menjalankan model AI dalam skala besar, sementara industri otomotif, telekomunikasi, robotika, dan perangkat elektronik juga semakin bergantung pada semikonduktor. Karena itu, Eropa mulai memperluas strategi chipnya melalui proposal Chips Act 2.0. Komisi Eropa mengatakan aturan baru tersebut dirancang untuk memperkuat industri chip sekaligus mengurangi ketergantungan strategis terhadap negara lain.

Rahasia dari strategi ini adalah Eropa tidak hanya ingin meningkatkan produksi chip, tetapi juga mempertahankan posisinya dalam rantai nilai teknologi. Proposal Chips Act 2.0 mencakup penguatan kemampuan pada teknologi semikonduktor mutakhir sekaligus mempertahankan kekuatan Eropa pada chip yang sudah menjadi bagian penting industri. Jika strategi tersebut berhasil, Eropa dapat memiliki fondasi yang lebih kuat untuk membangun AI, kendaraan listrik, industri pintar, dan teknologi digital tanpa sepenuhnya bergantung pada pasokan asing.

3. Rahasia Ketiga: Data Center Dijadikan Infrastruktur Strategis

AI membutuhkan tempat untuk hidup, dan tempat tersebut adalah pusat data. Model AI modern membutuhkan kapasitas komputasi dan penyimpanan yang sangat besar, sehingga kekurangan data center dapat berubah menjadi masalah ekonomi strategis. Presiden ECB Christine Lagarde bahkan memperingatkan pada September 2026 bahwa Eropa memiliki kekurangan kapasitas data center dan kesenjangan tersebut berpotensi membesar lebih dari enam kali lipat dalam satu dekade jika tren berlanjut.

Karena itu, Eropa mulai memasukkan data center ke dalam strategi kedaulatan teknologi. Proposal Cloud and AI Development Act dirancang untuk mempercepat pengembangan kapasitas cloud dan data center sekaligus menciptakan kerangka penilaian mengenai kedaulatan cloud dan AI di tingkat Uni Eropa. Komisi Eropa juga menargetkan kapasitas data center Uni Eropa meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang melalui AI Continent Action Plan.

4. Rahasia Keempat: Eropa Mulai Menyatukan AI, Cloud, dan Industri

Strategi Eropa tidak berhenti pada pembangunan model AI. Salah satu kekuatannya adalah kemampuan menghubungkan teknologi dengan sektor industri yang sudah besar, mulai dari otomotif hingga manufaktur, energi, kesehatan, dan layanan publik. AI Continent Action Plan secara khusus mendorong adopsi AI di sektor strategis seperti kesehatan, otomotif, dan advanced manufacturing. Ini berarti AI diposisikan sebagai mesin transformasi ekonomi, bukan hanya produk teknologi konsumen.

Pendekatan tersebut dapat menjadi penting karena Eropa memiliki basis industri yang luas. Tantangannya adalah membuat perusahaan tradisional berani mengadopsi teknologi baru dengan cepat, sementara startup mendapatkan akses terhadap komputasi dan data yang mereka perlukan. Komisi Eropa menyatakan AI Gigafactories akan memberikan akses kepada startup, scale-up, perusahaan kecil dan menengah, industri, akademisi, serta institusi publik. Jika koneksi tersebut berhasil, teknologi AI dapat menyebar dari laboratorium ke pabrik dan layanan publik dengan jauh lebih cepat.

5. Rahasia Kelima: Eropa Ingin Mengubah Ketergantungan Menjadi Kemandirian

Persoalan terbesar Eropa bukan hanya kemampuan menciptakan teknologi. Masalah lainnya adalah ketergantungan terhadap teknologi dari luar kawasan. Reuters melaporkan bahwa perusahaan AI Eropa masih berusaha mengejar perusahaan Amerika Serikat dan China. Sejumlah pemain Eropa juga mendorong pengembangan AI yang lebih cepat. Tujuannya adalah mengurangi risiko semakin tertinggal dalam perlombaan teknologi.

Tekanan tersebut membuat isu kedaulatan digital semakin penting. Eropa membutuhkan kemampuan untuk memiliki pilihan teknologi sendiri. Namun, hal itu tidak berarti kawasan tersebut harus memutus hubungan dengan Amerika Serikat atau China.

Sebaliknya, Eropa sedang membangun alternatif. Mulai dari AI hingga chip, semuanya menjadi bagian dari strategi tersebut. Cloud dan data center juga masuk ke dalam agenda yang sama. Dengan begitu, Eropa berusaha membuat ekonominya lebih tahan terhadap perubahan geopolitik. Ketergantungan tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya pilihan.

Penutup

Perlombaan teknologi global kini memasuki babak baru. Amerika Serikat masih memiliki perusahaan teknologi dan AI dengan pengaruh besar. China juga terus memperkuat teknologi, manufaktur, serta rantai pasoknya. Sementara itu, Eropa memilih jalan yang berbeda. Kawasan ini membangun kedaulatan teknologi melalui kombinasi regulasi, investasi, infrastruktur, industri, dan penelitian.

Paket Tech Sovereignty yang diluncurkan pada 2026 memperlihatkan perubahan tersebut. Eropa tidak lagi hanya membahas bagaimana teknologi harus diatur. Kini, Eropa juga membahas bagaimana teknologi harus dibangun.

Rahasia terbesar Eropa mungkin justru terletak pada perubahan cara berpikir ini. Eropa mulai bertanya bagaimana menciptakan teknologi yang dapat mereka kendalikan sendiri. Jika AI Gigafactories, Chips Act 2.0, cloud, data center, dan startup berkembang secara bersamaan, peta persaingan teknologi global dapat menjadi semakin kompleks. Perlombaan melawan Amerika Serikat dan China belum selesai. Namun, Eropa kini tampaknya sudah mulai berlari.

 

Sumber Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /