Garap Media – Demam AI selama ini identik dengan ChatGPT, Gemini, Claude, dan perusahaan teknologi raksasa. Namun, di balik chatbot tersebut ada industri lain yang ikut menikmati aliran investasi. Ketika perusahaan teknologi menggelontorkan miliaran dolar untuk AI, mereka membutuhkan chip, server, data center, listrik, sistem pendingin, hingga jaringan.
McKinsey memperkirakan kebutuhan investasi data center global dapat mencapai US$7 triliun hingga 2030. Sementara itu, International Energy Agency (IEA) memproyeksikan konsumsi listrik data center hampir dua kali lipat menjadi sekitar 950 TWh pada 2030. Artinya, uang dari ledakan AI tidak hanya mengalir ke perusahaan pembuat model. Ada setidaknya lima sektor yang ikut menikmati pertumbuhannya.
1. Produsen Chip
Chip menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari ledakan AI. Model AI membutuhkan komputasi dalam jumlah besar, membuat perusahaan teknologi berlomba mendapatkan prosesor untuk data center.
Nvidia menjadi contoh paling mencolok. Pada kuartal kedua fiskal 2027, pendapatannya mencapai US$96,2 miliar, naik 106 persen secara tahunan. Pendapatan Data Center mencapai US$89 miliar, melonjak 117 persen.
Peluang juga mengalir ke produsen memori, packaging, prosesor, dan komponen semikonduktor. SK Hynix, misalnya, mengumumkan investasi sekitar US$4 miliar untuk fasilitas packaging dan riset chip AI di Indiana, AS.
Saat perusahaan AI membeli komputasi, pemasok chip ikut memanen hasilnya.
2. Data Center
Chip membutuhkan tempat untuk bekerja. Di sinilah data center menjadi bisnis penting dalam ekosistem AI. McKinsey memperkirakan permintaan kapasitas data center global meningkat dari sekitar 82 GW pada 2025 menjadi 220 GW pada 2030. Pertumbuhan ini tidak hanya menguntungkan operator data center. Pembangunan fasilitas membutuhkan server, kabel, transformator, generator, jaringan, konstruksi, hingga berbagai komponen industri.
Dell menjadi salah satu contoh. Perusahaan menaikkan proyeksi pendapatan tahunannya menjadi US$192 miliar, didorong kuat oleh permintaan server AI. Di balik revolusi software, sedang berlangsung boom infrastruktur digital.
3. Energi
AI membutuhkan sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh algoritma: listrik. Ribuan chip yang bekerja bersamaan membutuhkan pasokan energi besar. IEA memperkirakan konsumsi listrik data center global dapat mencapai sekitar 945 TWh pada 2030, hampir dua kali lipat dibanding 2024.
Kondisi ini membuka peluang bagi pembangkit listrik, jaringan energi, penyimpanan energi, transformator, dan microgrid.
Reuters melaporkan Vertiv sepakat mengakuisisi Utility Innovation Group dengan nilai hingga US$2,6 miliar untuk memperkuat bisnis microgrid dan kontrol daya bagi data center. Jadi, semakin besar AI tumbuh, semakin besar pula kebutuhan energinya.
4. Sistem Pendingin
Semakin padat komputasi GPU, semakin besar panas yang harus dibuang. Karena itu, data center AI membutuhkan teknologi pendingin yang lebih efisien, termasuk liquid cooling. McKinsey mencatat keterbatasan infrastruktur thermal dan power mulai menjadi tantangan dalam ekspansi data center.
Vertiv juga memperkuat posisi di sektor ini melalui akuisisi CoolTera. Sederhananya, semakin banyak GPU yang dipasang, semakin besar kebutuhan untuk mendinginkannya.
5. Server dan Jaringan
Ledakan AI juga menguntungkan perusahaan yang memasok server, networking, storage, kabel, transformator, hingga berbagai komponen pendukung.
Dell melaporkan backlog sekitar US$95 miliar, dengan pesanan sekitar US$60 miliar yang didorong kuat oleh permintaan infrastruktur AI. HPE juga meningkatkan proyeksi pertumbuhannya seiring naiknya permintaan server dan networking.
Dampaknya merambat ke industri lain. Generator, transformer, kabel, material konstruksi, hingga perusahaan teknik ikut mendapat peluang dari pembangunan data center. AI dikembangkan oleh perusahaan teknologi, tetapi uangnya bisa mengalir sampai ke pabrik industri.
Penutup
Ledakan AI bukan sekadar perang membuat model paling pintar. Di belakang OpenAI, Google, Anthropic, dan perusahaan teknologi lainnya terdapat rantai bisnis yang jauh lebih panjang.
Chip menyediakan komputasi. Data center menjadi tempatnya. Energi memasok tenaga. Sistem pendingin menjaga perangkat tetap bekerja. Server dan jaringan menghubungkan semuanya.
Itulah mengapa AI berpotensi menjadi lebih dari sekadar revolusi software. Jika proyeksi investasi data center hingga US$7 triliun pada 2030 terealisasi, manfaat ekonominya dapat menyebar jauh ke luar industri teknologi.
Namun, peluang tersebut juga membawa risiko. Jika pertumbuhan permintaan AI melambat sementara kapasitas sudah telanjur dibangun, perusahaan dapat menghadapi kelebihan kapasitas dan tekanan terhadap keuntungan.
Sumber Referensi
- McKinsey & Company – The $7 Trillion Data Center Build-Out
https://www.mckinsey.com/industries/technology-media-and-telecommunications/our-insights/the-7-trillion-dollar-data-center-build-out-how-industrials-can-capture-their-share - International Energy Agency (IEA) – Energy and AI
https://www.iea.org/reports/energy-and-ai - NVIDIA – NVIDIA Announces Financial Results for Second Quarter Fiscal 2027
https://investor.nvidia.com/news/press-release-details/2026/NVIDIA-Announces-Financial-Results-for-Second-Quarter-Fiscal-2027/default.aspx
