Garap Media – Ekonomi tumbuh sering dianggap sebagai tanda bahwa kehidupan masyarakat otomatis ikut membaik. Padahal, pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan tidak selalu bergerak dengan kecepatan yang sama. World Bank mencatat pengurangan kemiskinan global melambat tajam, sementara ketimpangan dan kerentanan masih membuat banyak masyarakat sulit menikmati manfaat pertumbuhan secara penuh. Bahkan, hampir 700 juta orang masih hidup dalam kemiskinan ekstrem berdasarkan standar global yang digunakan dalam laporan tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan bukan hanya tentang seberapa besar ekonomi tumbuh, tetapi juga siapa yang mendapatkan manfaatnya.
1. Pertumbuhan Ekonomi Tidak Selalu Menciptakan Pekerjaan Berkualitas
Produk domestik bruto yang meningkat belum tentu langsung berarti pendapatan masyarakat miskin ikut naik dalam proporsi yang sama. Pertumbuhan dapat terkonsentrasi pada sektor tertentu yang membutuhkan modal besar, teknologi tinggi, atau tenaga kerja dengan keterampilan khusus. Akibatnya, masyarakat dengan pendidikan dan keterampilan terbatas bisa tetap berada di pekerjaan berupah rendah. World Bank menekankan bahwa pertumbuhan yang lebih cepat perlu disertai lebih banyak pekerjaan yang berkualitas agar masyarakat miskin dapat memperoleh manfaat ekonomi. Tanpa hubungan yang kuat antara pertumbuhan dan peningkatan pendapatan pekerja, angka ekonomi makro bisa terlihat positif sementara tekanan hidup sebagian masyarakat tetap tinggi.
Masalah tersebut juga terlihat dari kondisi pasar kerja global. ILO mencatat lebih dari dua miliar pekerja berada dalam pekerjaan informal pada 2023, sementara sekitar 241 juta pekerja masih hidup dalam kemiskinan ekstrem. Pekerjaan memang menjadi sumber pendapatan, tetapi kualitas pekerjaan menentukan seberapa jauh pendapatan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Ketika pekerjaan tidak memberikan pendapatan stabil, perlindungan sosial, atau kesempatan meningkatkan keterampilan, mobilitas ekonomi menjadi lebih sulit. Karena itu, pertumbuhan ekonomi membutuhkan pasar kerja yang mampu mengubah pertumbuhan produktivitas menjadi penghasilan yang lebih baik.
2. Ketimpangan Membuat Hasil Pertumbuhan Tidak Terbagi Merata
Pertumbuhan ekonomi dapat meningkatkan pendapatan rata-rata suatu negara tanpa menghapus kesenjangan antara kelompok masyarakat. Jika pendapatan dan aset lebih banyak terkonsentrasi pada kelompok tertentu, masyarakat berpenghasilan rendah bisa menerima manfaat pertumbuhan dalam jumlah yang jauh lebih kecil. World Bank menyebut ketimpangan yang tinggi dapat mencerminkan terbatasnya peluang mobilitas sosial dan kemudian menghambat pertumbuhan yang inklusif. Inilah sebabnya angka pertumbuhan ekonomi tidak cukup digunakan untuk melihat apakah kesejahteraan benar-benar meningkat secara merata. Yang juga penting adalah melihat perubahan pendapatan kelompok terbawah dan kemampuan mereka memperoleh peluang ekonomi.
Ketimpangan juga dapat menciptakan perbedaan dalam akses terhadap pendidikan, kesehatan, modal, dan pekerjaan produktif. Seseorang yang lahir dalam keluarga dengan sumber daya terbatas bisa menghadapi lebih banyak hambatan sebelum mampu memperoleh pekerjaan dengan pendapatan tinggi. World Bank mencatat sekitar seperlima populasi dunia tinggal di negara dengan tingkat ketimpangan tinggi. Ketika kesempatan ekonomi tidak tersebar luas, pertumbuhan dapat berlangsung tetapi mobilitas dari kelompok berpendapatan rendah berjalan lebih lambat. Karena itu, pertumbuhan yang inklusif menjadi faktor penting agar kemajuan ekonomi tidak hanya terkumpul di lapisan tertentu.
3. Biaya Hidup dan Pendapatan Tidak Bergerak Bersamaan
Kenaikan pendapatan belum tentu membuat seseorang lebih sejahtera jika biaya kebutuhan dasar juga meningkat. Rumah tangga berpendapatan rendah biasanya memiliki ruang keuangan yang lebih sempit karena sebagian besar penghasilannya digunakan untuk makanan, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, dan kebutuhan kesehatan. Ketika harga kebutuhan naik, kenaikan pendapatan yang kecil dapat langsung terserap tanpa menghasilkan tambahan tabungan atau aset. Situasi ini membuat keluarga sulit membangun cadangan keuangan untuk menghadapi keadaan darurat. Akibatnya, satu kejadian seperti kehilangan pekerjaan atau biaya kesehatan yang besar dapat menghapus kemajuan ekonomi yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa seseorang bisa secara statistik berada di atas garis kemiskinan tetapi masih sangat rentan kembali miskin. World Bank mencatat banyak masyarakat tetap rentan jatuh kembali ke kemiskinan meskipun tingkat pendapatan global meningkat sejak 1990. Kerentanan semacam ini menjadi semakin serius ketika rumah tangga tidak memiliki tabungan, aset produktif, atau perlindungan sosial yang memadai. Karena itu, keluar dari kemiskinan bukan hanya soal melewati sebuah angka pendapatan, tetapi juga membangun kemampuan bertahan ketika terjadi guncangan ekonomi.
4. Pendidikan dan Keterampilan Belum Merata
Perubahan ekonomi membuat kebutuhan dunia kerja ikut berubah sehingga keterampilan menjadi semakin menentukan kualitas pendapatan. Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan pasar. ILO menyebut kekurangan keterampilan, terbatasnya kesempatan pendidikan, infrastruktur yang lemah, dan kurangnya investasi menjadi sejumlah hambatan khususnya di wilayah pedesaan. Ketika kesempatan meningkatkan kemampuan terbatas, pekerja dapat terjebak dalam pekerjaan dengan produktivitas dan penghasilan rendah. Pertumbuhan ekonomi akhirnya tidak otomatis mengubah posisi mereka dalam struktur pendapatan.
Keterampilan juga menentukan apakah seseorang mampu berpindah ke sektor yang menawarkan produktivitas lebih tinggi. Ketika industri berkembang tetapi tenaga kerja lokal tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan, peluang tersebut bisa lebih banyak dinikmati kelompok yang sudah memiliki pendidikan atau pengalaman tertentu. ILO menilai pengembangan keterampilan sebagai salah satu faktor penting untuk meningkatkan kemampuan bekerja dan peluang memperoleh pendapatan. Karena itu, investasi pendidikan bukan sekadar persoalan sekolah, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat mengikuti perubahan ekonomi. Semakin besar kesenjangan akses keterampilan, semakin sulit pula pertumbuhan menciptakan mobilitas ekonomi yang luas.
5. Perlindungan Sosial Belum Menjangkau Semua Orang
Keluarga miskin sering memiliki kemampuan paling terbatas untuk menghadapi krisis ketika pada saat yang sama mereka justru menghadapi risiko yang lebih besar. Kehilangan pekerjaan, bencana, penyakit, atau kenaikan harga dapat mengurangi pendapatan dalam waktu singkat. World Bank melaporkan bahwa dua miliar orang di negara berpendapatan rendah dan menengah masih belum memiliki perlindungan sosial yang memadai. Tanpa perlindungan yang cukup, rumah tangga dapat terpaksa mengurangi konsumsi penting, menjual aset, atau mengambil utang ketika menghadapi guncangan. Kondisi tersebut dapat membuat proses keluar dari kemiskinan kembali mundur.
Perlindungan sosial bukan hanya bantuan ketika seseorang sudah jatuh miskin, tetapi juga dapat membantu keluarga mempertahankan kemampuan untuk bekerja dan memanfaatkan peluang ekonomi. World Bank menyebut program perlindungan sosial dan ketenagakerjaan dapat membantu rumah tangga menghadapi krisis, keluar dari kemiskinan, serta memanfaatkan kesempatan kerja. Ketika perlindungan tersebut kuat, sebuah guncangan ekonomi tidak selalu berubah menjadi kemunduran jangka panjang. Sebaliknya, ketika jaring pengaman lemah, sedikit gangguan dapat berdampak besar terhadap pendidikan anak, kesehatan, pekerjaan, dan aset keluarga. Karena itu, pertumbuhan ekonomi perlu berjalan bersama kebijakan yang memperkuat ketahanan rumah tangga rentan.
Penutup
Sulit keluar dari kemiskinan ketika ekonomi tumbuh bukan berarti pertumbuhan ekonomi tidak bermanfaat bagi masyarakat. Masalahnya, pertumbuhan harus diterjemahkan menjadi pekerjaan berkualitas, pendapatan yang lebih baik, keterampilan, akses terhadap peluang, dan perlindungan ketika terjadi krisis. Data World Bank menunjukkan bahwa pengurangan kemiskinan global memang mengalami perlambatan dan manfaat pertumbuhan belum sepenuhnya merata. Sementara itu, data ILO memperlihatkan bahwa pekerjaan informal dan kemiskinan pekerja masih menjadi persoalan besar di banyak negara. Artinya, ukuran keberhasilan ekonomi tidak cukup hanya melihat pertumbuhan, tetapi juga perlu melihat apakah masyarakat paling rentan benar-benar memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kehidupannya.
Sumber Referensi
- World Bank – Poverty, Prosperity, and Planet Report 2024
https://www.worldbank.org/en/publication/poverty-prosperity-and-planet - World Bank – Ending Poverty for Half the World Could Take More Than a Century
https://www.worldbank.org/en/news/press-release/2024/10/15/ending-poverty-for-half-the-world-could-take-more-than-a-century - World Bank – State of Social Protection Report 2025: The 2-Billion-Person Challenge
https://www.worldbank.org/en/topic/socialprotection/publication/state-of-social-protection-2025-2-billion-person-challenge - International Labour Organization – World Employment and Social Outlook: Trends 2024
https://www.ilo.org/publications/flagship-reports/world-employment-and-social-outlook-trends-2024 - International Labour Organization – Skills for Rural Employment and Development
https://www.ilo.org/skills-rural-employment-and-development
