Garap Media – Perang teknologi dunia belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Persaingan Amerika Serikat dan China kini bergerak dari sekadar perebutan chip menuju AI, mineral kritis, pusat data, rantai pasok dan aturan teknologi global. World Economic Forum mencatat teknologi, AI dan mineral kritis menjadi agenda penting dalam hubungan Washington dan Beijing pada September 2026. Bahkan pertemuan terbaru kedua negara turut membawa pembahasan mengenai ketahanan rantai pasok dan penggunaan teknologi AI.
Babak baru ini membuat persaingan teknologi semakin luas dan sulit dipisahkan dari ekonomi dunia. Negara tidak hanya berlomba menciptakan teknologi paling canggih, tetapi juga berusaha mengamankan akses terhadap bahan baku, komputasi dan pasar. Di sisi lain, negara-negara menengah mulai memiliki ruang untuk membangun kemitraan dengan lebih dari satu kekuatan besar. Perubahan inilah yang membuat perang teknologi masih jauh dari selesai.
1. AI Kini Menjadi Medan Persaingan Utama
Alasan pertama adalah AI telah berubah menjadi aset strategis bagi ekonomi dan keamanan nasional. Amerika Serikat masih memiliki perusahaan frontier AI, infrastruktur komputasi dan investasi swasta dalam skala besar, sementara China terus memperkuat kemampuan model, perangkat keras dan ekosistem industrinya. CSIS mencatat persaingan AI kini juga merambah pertarungan mengenai siapa yang akan membentuk aturan global teknologi tersebut. Artinya, persaingan tidak hanya terjadi pada kemampuan membuat model AI. Peraturan, standar dan akses terhadap teknologi juga menjadi bagian dari perebutan pengaruh.
Perkembangan tersebut membuat negara lain ikut masuk ke dalam pusaran persaingan. Amerika Serikat memperluas kerja sama rantai pasok AI dan semikonduktor melalui mitra internasional, sementara China membangun pendekatan tersendiri untuk melibatkan negara-negara Global South. CSIS mencatat 29 negara menandatangani kesepakatan pembentukan World Artificial Intelligence Cooperation Organization yang dipimpin China pada Juli 2026. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa AI semakin menjadi arena pembentukan blok kerja sama teknologi. Negara yang sebelumnya hanya menjadi pengguna kini juga memiliki kepentingan dalam menentukan arah aturan AI.
2. Chip Bukan Lagi Sekadar Komponen Elektronik
Babak kedua terlihat dari semakin strategisnya semikonduktor. Chip canggih menjadi fondasi bagi AI, pusat data, kendaraan, telekomunikasi dan sistem komputasi modern. Karena itu, pembatasan ekspor teknologi chip dapat memengaruhi kemampuan sebuah negara mengembangkan AI berperforma tinggi. Persaingan semikonduktor membuat perusahaan dan pemerintah berlomba mengamankan desain, manufaktur, peralatan produksi serta pasokan material. Dengan kata lain, perang teknologi kini berlangsung sepanjang rantai nilai chip.
Persaingan tersebut juga membuat rantai pasok global semakin diperhatikan. World Economic Forum mencatat mineral kritis dan ketahanan rantai pasok menjadi salah satu isu penting dalam hubungan AS-China terbaru. Negara-negara produsen bahan baku memiliki posisi yang semakin diperhitungkan karena teknologi canggih membutuhkan berbagai material strategis. Akibatnya, industri tambang, manufaktur dan teknologi semakin terhubung. Perebutan teknologi pun secara perlahan berubah menjadi perebutan seluruh ekosistem yang membuat teknologi tersebut dapat bekerja.
3. Negara Mulai Memikirkan Kemandirian Teknologi
Alasan ketiga adalah semakin banyak negara menyadari risiko ketergantungan terhadap satu pemasok teknologi. Gangguan geopolitik dapat memengaruhi akses terhadap chip, perangkat lunak, energi maupun komponen penting. Karena itu, diversifikasi dan pembangunan kapasitas domestik menjadi bagian dari kebijakan industri. Perusahaan juga mulai mempertimbangkan lokasi produksi berdasarkan faktor keamanan rantai pasok selain biaya. Perubahan tersebut menciptakan peta industri global yang lebih kompleks.
Namun, membangun kemandirian teknologi bukan berarti setiap negara harus membuat semuanya sendiri. Negara dapat memilih sektor tertentu yang memiliki keunggulan, seperti manufaktur, pengemasan chip, mineral, pusat data atau layanan digital. ASEAN misalnya semakin diperhatikan sebagai bagian dari jaringan rantai pasok teknologi Asia. Posisi tersebut membuka peluang investasi sekaligus membuat kawasan Asia Tenggara semakin relevan dalam persaingan teknologi global.
4. Pertarungan Kini Masuk ke Aturan AI
Perang teknologi juga memasuki wilayah yang sebelumnya lebih banyak dibahas oleh regulator. Negara-negara kini berdebat mengenai keamanan AI, standar model, akses komputasi dan batas penggunaan teknologi. CSIS menilai persaingan AI global mulai menjadi kompetisi mengenai arsitektur tata kelola, dengan Amerika Serikat dan China membawa pendekatan yang berbeda. Sementara itu, forum multilateral seperti PBB berusaha membangun ruang dialog yang lebih luas. Persoalannya, belum ada konsensus global mengenai bentuk aturan AI yang dapat diterapkan secara seragam.
Situasi tersebut membuat negara berkembang memiliki kepentingan yang semakin besar. Banyak negara membutuhkan akses terhadap komputasi, keterampilan dan teknologi AI, bukan hanya aturan mengenai risiko teknologi. Karena itu, mereka dapat memiliki posisi penting dalam menentukan model kerja sama yang paling sesuai. CSIS mencatat sejumlah negara justru bergabung dalam lebih dari satu kerangka kerja AI sehingga tetap mempertahankan pilihan strategis. Ini menunjukkan bahwa peta persaingan teknologi belum sepenuhnya terbagi menjadi dua kubu.
5. Babak Baru Ditentukan oleh Siapa yang Menguasai Ekosistem
Alasan terakhir adalah persaingan teknologi tidak lagi ditentukan oleh satu produk atau perusahaan. AI membutuhkan chip, chip membutuhkan manufaktur dan material, sementara pusat data membutuhkan listrik serta jaringan digital. Setiap bagian tersebut saling terhubung dan menciptakan ekosistem teknologi yang kompleks. Negara yang mampu menguasai beberapa bagian sekaligus dapat memiliki posisi ekonomi yang lebih kuat. Karena itu, perang teknologi masa depan kemungkinan semakin berbentuk kompetisi antarekosistem.
Perkembangan terbaru menunjukkan persaingan tersebut masih berlangsung bersamaan dengan upaya menjaga komunikasi. Pertemuan AS-China pada September 2026 menempatkan AI, teknologi dan mineral kritis sebagai sejumlah agenda penting. World Economic Forum juga mencatat kedua negara menghadapi tantangan untuk mengelola AI sebagai sumber persaingan sekaligus mengurangi risiko salah perhitungan dan eskalasi. Babak berikutnya karena itu tidak hanya akan menentukan siapa yang paling cepat berinovasi, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut membentuk hubungan ekonomi dunia.
Penutup
Perang teknologi belum selesai karena arena persaingannya justru semakin melebar. AI, chip, mineral kritis, rantai pasok dan tata kelola teknologi kini menjadi bagian dari satu kompetisi besar. Amerika Serikat dan China tetap menjadi pusat persaingan, tetapi negara lain semakin memiliki peran dalam menentukan arah ekosistem teknologi global. Perubahan tersebut juga menciptakan peluang bagi negara yang mampu membangun industri, talenta dan infrastruktur digital sendiri. Babak baru perang teknologi pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi siapa yang mampu membangun ekosistem paling kuat di sekitarnya.
Sumber Referensi
- World Economic Forum – Trump-Xi Summit: What to Expect From the Washington Meeting
https://www.weforum.org/stories/geo-economics-and-politics/what-to-expect-from-the-trump-xi-summit-in-washington/ - CSIS – The State of AI Global Governance and Its Implications for the U.S.-China Summit
https://www.csis.org/analysis/state-ai-global-governance-and-its-implications-us-china-summit - McKinsey Global Institute – Global Trade and Regional Updates
https://www.mckinsey.com/mgi/our-research/global-trade-regional-updates
