3 Rahasia AI Mengubah Cara Belajar, Apakah Sekolah Masih Relevan?

Last Updated: 30 September 2026, 11:13

Bagikan:

3 Rahasia AI Mengubah Cara Belajar, Apakah Sekolah Masih Relevan?
Table of Contents

Garap Media – AI mulai mengubah cara siswa mencari informasi, memahami pelajaran, dan menyelesaikan tugas sehari-hari. Teknologi seperti chatbot generatif kini dapat menjelaskan konsep, membuat latihan, merangkum bacaan, hingga membantu siswa menemukan sudut pandang baru dalam hitungan detik. Data PISA 2025 menunjukkan 46 persen siswa di negara-negara OECD menggunakan chatbot AI setidaknya setiap minggu untuk membantu belajar. Di Indonesia, angkanya mencapai 53 persen siswa yang melaporkan menggunakan chatbot AI untuk membantu belajar setidaknya sekali dalam seminggu. Perubahan ini membuat pertanyaan tentang masa depan sekolah semakin sulit dihindari.

1. AI Membuat Belajar Bisa Lebih Personal

Rahasia pertama adalah AI membuat proses belajar dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa. Siswa yang kesulitan memahami matematika dapat meminta penjelasan dengan bahasa sederhana, sementara siswa yang sudah menguasai materi dapat meminta soal dengan tingkat kesulitan lebih tinggi. OECD mencatat AI generatif berpotensi mendukung berbagai aktivitas pendidikan, termasuk membantu siswa belajar dan menciptakan pengalaman belajar yang lebih sesuai kebutuhan. Pola ini mengubah pembelajaran dari model yang seragam menjadi proses yang lebih fleksibel. Namun, kualitas hasil tetap bergantung pada bagaimana siswa menggunakan dan mengevaluasi jawaban AI.

Di sinilah sekolah justru memiliki fungsi yang semakin penting. Pendidik dapat membantu siswa memahami konteks, menguji informasi, dan membangun kebiasaan berpikir kritis ketika menggunakan AI. UNESCO menempatkan pemikiran kritis, etika, dan kendali manusia sebagai bagian penting dalam kompetensi AI bagi siswa. Artinya, AI dapat menjadi pendamping belajar tanpa harus menggantikan peran pendidik. Sekolah masih dibutuhkan untuk memastikan teknologi digunakan sebagai alat pembelajaran, bukan jalan pintas untuk menghindari proses berpikir.

2. AI Mengubah Cara Siswa Mengerjakan Tugas

Rahasia kedua terlihat dari berubahnya proses mengerjakan tugas sekolah. Siswa kini dapat meminta AI membuat kerangka tulisan, memberikan contoh soal, menjelaskan materi yang sulit, atau membantu melakukan riset awal. Data PISA 2025 menunjukkan siswa Indonesia menggunakan AI untuk berbagai pekerjaan sekolah, termasuk merangkum teks sebesar 39 persen dan membuat draf tulisan sebesar 30 persen. Kemudahan tersebut dapat menghemat waktu sekaligus membantu siswa memulai pekerjaan ketika mereka mengalami kebuntuan. Namun, penggunaan AI secara berlebihan dapat membuat proses belajar kehilangan bagian penting seperti membaca, menganalisis, dan menyusun argumen sendiri.

Karena itu, tantangan sekolah bukan sekadar melarang AI atau membiarkan penggunaannya tanpa batas. OECD menemukan hubungan antara penggunaan AI dan prestasi belajar cukup kompleks, sementara siswa yang belajar menilai kualitas informasi yang dihasilkan AI di sekolah menunjukkan hasil sains yang sedikit lebih tinggi dibandingkan siswa yang tidak atau jarang mendapatkan kesempatan tersebut. Pendidik dapat mengubah tugas agar siswa harus menjelaskan proses berpikir di balik jawabannya. Model tersebut membuat AI menjadi alat yang harus dipertanggungjawabkan, bukan mesin untuk menghasilkan jawaban instan. Dengan cara ini, teknologi justru dapat mendorong sekolah mengajarkan keterampilan yang lebih relevan dengan dunia nyata.

3. Sekolah Tidak Hilang, tetapi Perannya Berubah

ahasia ketiga adalah AI tidak otomatis membuat sekolah kehilangan relevansinya, tetapi dapat mengubah alasan mengapa sekolah tetap dibutuhkan. UNESCO menegaskan AI seharusnya melengkapi dimensi manusia dan sosial dalam pendidikan, bukan menggantikannya. Interaksi dengan pendidik, kerja kelompok, diskusi, praktik, pembentukan karakter, dan pengalaman sosial tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh chatbot. Sekolah juga menyediakan lingkungan terstruktur tempat siswa belajar bekerja sama dan menerima umpan balik dari manusia. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan apakah sekolah masih diperlukan, melainkan bagaimana sekolah beradaptasi dengan keberadaan AI.

OECD juga menyebut perkembangan AI membuat sistem pendidikan perlu meninjau kembali kompetensi yang dibutuhkan siswa untuk kehidupan dan pekerjaan masa depan. Siswa tidak cukup hanya mengetahui cara menggunakan chatbot, tetapi juga perlu memahami batasannya, memeriksa informasi, menjaga etika, dan mengambil keputusan secara mandiri. UNESCO bahkan telah mengembangkan kerangka kompetensi AI siswa yang mencakup pola pikir berpusat pada manusia, etika AI, teknik dan aplikasi AI, serta desain sistem AI. Sekolah yang mampu mengajarkan kemampuan tersebut justru dapat menjadi semakin relevan di tengah perubahan teknologi. Masa depan pendidikan kemungkinan bukan manusia melawan AI, tetapi manusia yang belajar menggunakan AI secara bertanggung jawab.

Penutup

AI memang sedang mengubah cara belajar dengan membuat informasi lebih mudah diakses, pembelajaran lebih personal, dan pengerjaan tugas semakin cepat. Data PISA 2025 menunjukkan penggunaan chatbot AI oleh siswa sudah menjadi bagian dari aktivitas belajar di banyak negara, termasuk Indonesia. Namun, teknologi tersebut juga membawa risiko ketika siswa menerima jawaban AI tanpa memeriksa kebenaran atau memahami proses di baliknya. UNESCO dan OECD sama-sama menekankan pentingnya keterampilan manusia, pemikiran kritis, etika, dan penggunaan AI yang bertanggung jawab dalam pendidikan. Jadi, AI mungkin mengubah wajah sekolah, tetapi kebutuhan terhadap pendidikan yang membantu manusia berpikir, bekerja sama, dan mengambil keputusan belum hilang.

Sumber Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /