Garap Media – Afrika sedang memasuki perlombaan kecerdasan buatan atau AI dengan ambisi yang semakin besar. Pemerintah di berbagai negara mulai menyusun strategi AI, perusahaan teknologi membangun layanan digital, dan investor melihat peluang dari populasi muda serta kebutuhan teknologi yang sangat besar. Namun, mengejar AI tidak cukup hanya dengan memiliki chatbot atau aplikasi berbasis kecerdasan buatan. Infrastruktur dasar seperti listrik, internet, pusat data, kemampuan komputasi, talenta, dan regulasi akan menentukan seberapa jauh Afrika mampu mengambil manfaat dari revolusi AI.
Laporan terbaru IMF pada 2026 menunjukkan bahwa Afrika Sub-Sahara menghadapi sejumlah hambatan struktural dalam mengadopsi AI, terutama pasokan listrik yang tidak memadai, infrastruktur digital terbatas, kekurangan keterampilan teknis, serta kesenjangan kapasitas kelembagaan. Pada saat yang sama, IMF menilai peluang AI tetap terbuka apabila negara-negara di kawasan tersebut mampu memperkuat fondasi adopsinya. Jadi, persoalannya bukan apakah Afrika bisa menggunakan AI, melainkan seberapa cepat mereka mampu membangun ekosistem yang membuat teknologi tersebut bekerja dalam skala besar.
1. Afrika Mulai Serius Mengejar AI
Fakta pertama adalah AI mulai masuk ke agenda pembangunan nasional Afrika. Negara-negara di berbagai kawasan benua tersebut mulai mengembangkan strategi AI, membangun kapasitas digital, dan mencari cara menggunakan teknologi untuk kesehatan, pendidikan, pertanian, layanan publik, hingga bisnis. OECD mencatat sejumlah negara Afrika telah memiliki atau sedang mengembangkan kerangka dan strategi AI, sementara pemerintah regional juga mulai mendorong kerja sama mengenai data, konektivitas, komputasi, dan tata kelola.
Dorongan tersebut semakin terlihat dari agenda negara-negara Afrika Barat dan Tengah. Dalam Deklarasi Cotonou 2025, negara-negara kawasan tersebut menetapkan target memperluas konektivitas, meningkatkan keterampilan digital, mengembangkan kapasitas komputasi dan cloud, serta membangun pusat keunggulan AI regional. Mereka juga menargetkan pelatihan puluhan juta orang dalam keterampilan digital dan pengembangan solusi AI buatan Afrika. Ini menunjukkan bahwa AI mulai dipandang bukan hanya sebagai teknologi baru, tetapi sebagai bagian dari strategi ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
2. Hambatan Terbesar Ada pada Listrik dan Komputasi
Fakta kedua justru menjadi tantangan paling mendasar. AI membutuhkan komputasi yang besar dan pusat data yang harus beroperasi secara stabil, sementara sekitar separuh populasi Afrika Sub-Sahara belum memiliki akses listrik yang andal. IMF mencatat sekitar 78 persen perusahaan di kawasan tersebut mengalami pemadaman listrik secara rutin, dengan kerugian rata-rata sekitar 8,4 persen dari penjualan tahunan. Kondisi seperti ini menjadi masalah serius ketika perusahaan ingin menjalankan sistem AI yang membutuhkan infrastruktur komputasi secara terus-menerus.
Kesenjangan komputasi juga sangat besar. Data UNDP menunjukkan hanya sekitar 5 persen talenta AI Afrika yang memiliki akses terhadap daya komputasi yang dibutuhkan untuk penelitian dan inovasi. Sementara itu, IMF mencatat kapasitas pusat data di Afrika Sub-Sahara masih sekitar 0,4 GW, atau kurang dari 1 persen kapasitas global. Artinya, banyak peneliti dan startup Afrika mungkin memiliki ide serta kemampuan teknis, tetapi tidak memiliki GPU, pusat data, atau akses cloud yang cukup untuk mengembangkan teknologi AI dalam skala besar.
3. Talenta, Data, dan Regulasi Menjadi Pertaruhan Berikutnya
Fakta ketiga adalah Afrika membutuhkan manusia yang mampu mengembangkan dan menggunakan AI. IMF mencatat kurang dari 25 persen mahasiswa pendidikan tinggi di Afrika Sub-Sahara mengambil bidang STEM, sementara angka partisipasi pendidikan tinggi secara keseluruhan masih jauh di bawah rata-rata global. Kekurangan tersebut diperparah oleh brain drain karena sebagian talenta teknologi memilih bekerja di luar negeri. Jika kondisi ini tidak diatasi, investasi infrastruktur AI berisiko tidak diikuti kemampuan manusia yang cukup untuk mengoperasikannya.
Masalah berikutnya adalah data dan tata kelola. OECD mencatat akses terhadap infrastruktur digital, konektivitas terjangkau, kapasitas komputasi, serta perangkat keras seperti GPU masih menjadi hambatan di berbagai negara Afrika, sementara pengembangan pusat data juga bergantung pada energi dan sumber daya air. World Bank juga menekankan pentingnya empat fondasi AI, yaitu connectivity, compute, context, dan competency. Bagi Afrika, kemampuan membangun AI yang memahami bahasa lokal, kebutuhan masyarakat, serta kondisi ekonomi setempat akan sama pentingnya dengan kemampuan menggunakan model yang dibuat perusahaan teknologi luar negeri.
Afrika Tidak Harus Membuat AI Termahal di Dunia
Ada satu hal penting dalam pembahasan AI Afrika. Negara berkembang tidak harus langsung membuat model AI terbesar di dunia. Investasi untuk model seperti itu sangat mahal. Karena itu, strategi yang lebih bertahap dapat menjadi pilihan. World Bank menilai negara berkembang dapat lebih dulu mengadopsi teknologi yang sudah tersedia.
Selanjutnya, teknologi tersebut bisa disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Pendekatan ini dapat digunakan untuk kesehatan, pertanian, pendidikan, dan layanan pemerintah. Usaha kecil juga bisa memperoleh manfaat dari teknologi tersebut. Dengan begitu, manfaat AI tidak hanya dinikmati perusahaan teknologi besar.
Di sisi lain, Afrika juga memiliki peluang dari teknologi yang lebih ringan. Sistem AI sederhana dapat bekerja pada perangkat yang lebih murah. Teknologi tersebut juga bisa dirancang untuk koneksi internet yang terbatas. World Bank menyebut pendekatan seperti ini sebagai bagian dari peluang “small AI”.
Karena itu, Afrika tidak harus menunggu memiliki infrastruktur seperti Silicon Valley. Yang lebih penting adalah membangun teknologi yang sesuai dengan kondisi lokal. Namun, langkah tersebut tetap membutuhkan listrik dan internet yang lebih baik. Talenta, data, serta regulasi juga harus berkembang secara bersamaan.
Penutup
Afrika mengejar AI dengan momentum yang semakin kuat. Namun, jalannya masih menghadapi banyak tantangan. Listrik, pusat data, GPU, talenta, konektivitas, dan regulasi menjadi persoalan utama. Semua faktor tersebut saling berkaitan.
Meski demikian, tantangan itu tidak otomatis menutup peluang. Afrika masih memiliki ruang besar untuk mengembangkan AI sesuai kebutuhannya. Teknologi yang lebih sederhana bahkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, fokus tidak harus selalu pada pembuatan model AI terbesar.
Sebaliknya, pembangunan fondasi perlu menjadi perhatian. Pendidikan harus diperkuat. Infrastruktur digital juga perlu diperluas. Pada saat yang sama, akses terhadap listrik dan komputasi harus meningkat. Dengan langkah tersebut, Afrika dapat mengubah AI dari sekadar teknologi global menjadi alat untuk mendukung pembangunan ekonomi dan sosial.
Sumber Referensi
- International Monetary Fund (IMF) – Unlocking the Potential: AI in Sub-Saharan Africa
https://www.elibrary.imf.org/view/journals/087/2026/013/article-A001-en.xml - United Nations Development Programme (UNDP) – Only Five Percent of Africa’s AI Talent Has the Compute Power It Needs
https://www.undp.org/digital/blog/only-five-percent-africas-ai-talent-has-compute-power-it-needs - World Bank – Strengthening AI Foundations: Emerging Opportunities for Developing Countries
https://www.worldbank.org/en/news/factsheet/2025/11/21/strengthening-ai-foundations-emerging-opportunities-for-developing-countries - OECD – Strengthening AI Governance in Africa
https://www.oecd.org/content/dam/oecd/en/publications/reports/2026/04/oecd-artificial-intelligence-case-studies_71322177/strengthening-ai-governance-in-africa_812bb149/1ff55135-en.pdf - World Bank – World Development Report 2026: The Promise of Artificial Intelligence
https://www.worldbank.org/en/publication/wdr2026