3 Ancaman AI Terbelah Dua, Perusahaan Global Harus Pilih AS atau China

Last Updated: 9 September 2026, 09:18

Bagikan:

3 Ancaman AI Terbelah Dua, Perusahaan Global Harus Pilih AS atau China
Table of Contents

Garap Media – Dunia AI mungkin sedang menuju situasi yang tidak pernah dibayangkan perusahaan teknologi satu dekade lalu: satu teknologi, tetapi dua ekosistem. Amerika Serikat masih menjadi pusat perusahaan AI terbesar, sementara China semakin cepat mengejar dengan model dan teknologi buatannya sendiri. Yang membuat situasi ini berbahaya bukan sekadar persaingan dua negara, melainkan kemungkinan perusahaan global harus menyesuaikan diri dengan dua aturan permainan yang berbeda.

Data terbaru menunjukkan persaingan tersebut sudah semakin dekat. Stanford AI Index 2026 mencatat model AI Amerika dan China telah beberapa kali saling menyalip sejak awal 2025, sementara pada Maret 2026 model teratas Anthropic hanya unggul 2,7% dari pesaing terdekatnya. Jadi, anggapan bahwa perusahaan AS selalu jauh di depan China mulai sulit dipertahankan. Inilah tiga ancaman terbesar jika dunia AI benar-benar terbelah.

1. Perusahaan Bisa Terjebak di Dua Ekosistem AI

Ancaman pertama adalah munculnya dua ekosistem teknologi yang tidak sepenuhnya kompatibel. Perusahaan yang menggunakan model, cloud, chip, dan layanan AI dari ekosistem Amerika mungkin harus mengikuti aturan ekspor dan keamanan Washington. Sementara perusahaan yang beroperasi di China harus berhadapan dengan regulasi Beijing dan teknologi domestik yang terus berkembang. Amerika sendiri pada 2025 membatalkan AI Diffusion Rule era pemerintahan sebelumnya, tetapi Departemen Perdagangan tetap memperkuat sejumlah kontrol terkait chip dan teknologi AI.

Bagi perusahaan multinasional, kondisi ini berarti strategi “satu produk untuk seluruh dunia” semakin sulit dilakukan. Mereka mungkin harus membuat infrastruktur berbeda untuk pasar China dan pasar Barat. Biaya pengembangan, keamanan data, kepatuhan hukum, hingga pemilihan pemasok akhirnya ikut berubah. Jika ketegangan meningkat, perusahaan bahkan bisa dipaksa menentukan teknologi mana yang boleh digunakan di wilayah tertentu. Perang AI akhirnya tidak lagi hanya terjadi di laboratorium, tetapi masuk ke ruang direksi perusahaan global.

2. Chip AI Bisa Menjadi Titik Lemah Terbesar

Ancaman kedua datang dari chip. Model AI modern membutuhkan pusat data dan chip komputasi dalam jumlah besar, sehingga akses terhadap perangkat keras menjadi bagian penting dari persaingan teknologi. Amerika telah menggunakan kontrol ekspor untuk membatasi akses China terhadap teknologi komputasi canggih tertentu. Pada Januari 2025, pemerintah AS juga mengumumkan kerangka pengaturan yang mencakup kontrol terhadap advanced computing chips dan model AI tertentu.

China merespons dengan memperkuat kemampuan domestiknya dan mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing. Huawei menjadi salah satu contoh perusahaan yang terus meningkatkan investasi dalam AI dan chip; pada semester pertama 2026, Huawei meningkatkan belanja riset dan pengembangannya sebesar 25,2% dibanding periode sebelumnya. Pada saat yang sama, China juga mempunyai pengaruh besar terhadap bahan baku strategis. Beijing mulai memberlakukan kontrol ekspor terhadap sejumlah mineral tanah jarang pada April 2025. Artinya, perang AI bisa berubah menjadi perang atas chip, bahan baku, dan rantai pasok.

3. Perusahaan Global Bisa Dipaksa Memilih Pasar

Ancaman ketiga mungkin yang paling mahal: kehilangan fleksibilitas. Amerika merupakan pusat investasi AI swasta terbesar, sedangkan China memiliki pasar domestik raksasa dan ekosistem teknologi yang semakin mandiri. Stanford AI Index 2026 mencatat investasi AI swasta AS mencapai US$285,9 miliar pada 2025, lebih dari 23 kali investasi swasta China sebesar US$12,4 miliar. Namun angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan dukungan negara China melalui berbagai dana dan kebijakan industri.

Di sisi lain, China bukan sekadar mengejar Amerika dari belakang. Stanford mencatat China memimpin volume publikasi, sitasi, dan jumlah paten AI, sementara AS tetap unggul dalam produksi model AI penting dan paten berdampak tinggi. Kesenjangan kemampuan model juga semakin mengecil, dengan perbedaan performa sejumlah model AS dan China yang pada akhir 2024 sudah mendekati level yang sangat tipis pada beberapa benchmark. Jika tren ini berlanjut, perusahaan global bisa menghadapi pilihan sulit: mempertahankan akses teknologi Amerika, mempertahankan pasar China, atau mengeluarkan biaya besar untuk membangun keduanya sekaligus.

Penutup

Yang sedang terjadi bukan sekadar perlombaan membuat chatbot yang lebih pintar. Amerika dan China sedang membangun dua kekuatan teknologi yang memiliki perusahaan, chip, modal, regulasi, dan rantai pasok masing-masing.

Ironisnya, perusahaan global justru berada di posisi paling sulit. Mereka tidak selalu ingin memilih Washington atau Beijing. Mereka ingin mendapatkan teknologi terbaik dari mana pun dan menjual produknya ke sebanyak mungkin konsumen.

Namun jika AI benar-benar terbelah menjadi dua ekosistem, kebebasan tersebut bisa semakin menyempit.

Perang AI berikutnya mungkin bukan tentang siapa yang membuat model paling pintar. Pertanyaannya justru lebih besar: siapa yang berhasil membuat seluruh dunia menggunakan ekosistemnya?

Sumber Referensi Sah

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /