3 Alasan Founder Startup Mulai Berubah, Mengejar Cuan Tak Lagi Cukup

Last Updated: 30 September 2026, 08:08

Bagikan:

3 Alasan Founder Startup Mulai Berubah, Mengejar Cuan Tak Lagi Cukup
Table of Contents

Garap Media – Dunia startup sedang memasuki fase ketika pertumbuhan tinggi tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Founder kini menghadapi investor yang semakin selektif, biaya operasional yang harus dikendalikan, serta konsumen yang menuntut produk benar-benar bernilai. Pada 2025, survei Slush terhadap founder menunjukkan fundraising masih menjadi perhatian terbesar, tetapi kekhawatiran terhadap pertumbuhan pendapatan meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. (Slush) Kondisi tersebut membuat banyak founder mulai melihat bisnis dari sisi yang lebih luas daripada sekadar mengejar pengguna atau valuasi. Startup dituntut mampu membuktikan bahwa pertumbuhan yang diciptakan memiliki fondasi ekonomi yang sehat. Inilah yang membuat cara berpikir founder ikut berubah.

1. Founder Mulai Mengejar Pertumbuhan yang Bisa Menghasilkan Uang

Pada era startup sebelumnya, pertumbuhan pengguna sering menjadi cerita utama ketika sebuah perusahaan mencari pendanaan. Jumlah pengguna, ekspansi pasar, dan kenaikan valuasi dapat menjadi magnet untuk menarik perhatian investor. Namun, pertumbuhan tanpa model bisnis yang kuat semakin sulit dipertahankan ketika biaya modal dan persaingan meningkat. CB Insights mencatat pendanaan venture global memang kembali meningkat pada 2025, tetapi jumlah deal justru turun dan modal semakin terkonsentrasi pada perusahaan tertentu. (CB Insights) Situasi ini membuat founder harus lebih berhati-hati dalam membakar modal hanya demi memperbesar angka pertumbuhan. Cuan akhirnya bukan lagi sekadar bonus, melainkan bagian penting dari strategi bertahan.

Perubahan tersebut juga terlihat dari meningkatnya perhatian terhadap efisiensi modal. Data Pilot dari hampir 1.000 startup berbasis venture menunjukkan perusahaan semakin memperhatikan hubungan antara modal yang dibakar dan pertumbuhan yang dihasilkan. Median waktu menuju profitabilitas dalam dataset tersebut berada di sekitar 4,2 tahun, sementara sebagian startup sudah mencapai profit atau mendekatinya. (Pilot) Artinya, founder tidak harus meninggalkan ambisi pertumbuhan, tetapi perlu mengetahui berapa biaya yang dibutuhkan untuk mencapainya. Pertumbuhan yang menghasilkan pendapatan berulang menjadi semakin berharga dibanding angka pengguna yang belum memberikan kontribusi ekonomi. Pola pikir inilah yang perlahan mengubah standar membangun startup.

2. Founder Mulai Memikirkan Efisiensi, Bukan Sekadar Ekspansi

Perubahan berikutnya terlihat dari cara founder mengelola tim dan biaya operasional. Startup tidak lagi otomatis menambah banyak karyawan hanya karena mendapatkan pendanaan baru. Carta mencatat rata-rata jumlah karyawan pada startup venture-backed di beberapa tahap pendanaan justru menurun dibanding puncaknya pada 2023, sementara investasi AI semakin mengambil porsi besar dari modal startup. (Carta) Teknologi membuat perusahaan kecil memiliki peluang menghasilkan output besar dengan tim yang lebih ramping. Karena itu, founder mulai bertanya bukan hanya siapa yang harus direkrut, tetapi pekerjaan apa yang sebenarnya perlu dilakukan manusia. Efisiensi kemudian menjadi bagian dari desain bisnis, bukan sekadar tindakan darurat ketika kas mulai menipis.

Perubahan tersebut membuat peran founder juga semakin kompleks. Founder harus mampu memahami produk, pelanggan, arus kas, struktur organisasi, sekaligus menentukan prioritas investasi perusahaan. McKinsey menemukan bahwa ketika perusahaan founder-led semakin besar, tantangannya bukan hanya mempertahankan pertumbuhan tetapi juga mengubah cara organisasi dan kepemimpinan bekerja. (McKinsey & Company) Founder yang sebelumnya bisa mengambil hampir semua keputusan sendiri akhirnya perlu membangun sistem yang dapat berjalan tanpa ketergantungan penuh pada dirinya. Dengan kata lain, membangun startup bukan lagi hanya tentang menemukan ide besar. Founder juga harus menciptakan mesin bisnis yang mampu bertahan ketika kondisi pasar berubah.

3. Founder Mulai Mengejar Bisnis yang Bisa Bertahan Lama

Perubahan paling besar mungkin terjadi pada cara founder mendefinisikan kesuksesan. Valuasi tinggi memang tetap penting karena dapat membuka akses terhadap modal dan mempercepat ekspansi. Namun, valuasi tanpa pendapatan sehat atau jalur profitabilitas dapat membuat perusahaan rentan ketika investor mulai memperketat standar. Silicon Valley Bank mencatat pada pertengahan 2025 sebanyak 72 persen unicorn teknologi yang diamati masih mengalami pertumbuhan tahunan, tetapi hanya 21 persen yang mencatat profit. (SVB) Angka tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan dan profitabilitas tidak selalu berjalan beriringan. Karena itu, founder semakin dituntut menemukan keseimbangan antara ekspansi, efisiensi, dan kemampuan menghasilkan uang.

Pada akhirnya, startup masa kini tidak cukup hanya terlihat besar dari luar. Produk harus memiliki pelanggan yang bersedia membayar, biaya harus masuk akal, dan modal harus digunakan untuk menghasilkan kemajuan yang terukur. Lingkungan pendanaan yang semakin selektif juga membuat investor lebih memperhatikan fundamental, permintaan pelanggan, unit economics, serta jalur menuju profitabilitas. (BIP Ventures) Founder yang mampu membaca perubahan ini akan menghadapi pertanyaan yang lebih sulit tetapi juga lebih penting: bukan seberapa cepat perusahaan bisa tumbuh, melainkan seberapa kuat pertumbuhan tersebut dapat dipertahankan. Inilah alasan mengejar cuan saja tidak lagi cukup. Startup harus membangun bisnis yang bernilai, efisien, dan mampu bertahan melewati perubahan pasar.

Penutup

Era startup yang hanya mengejar pertumbuhan tanpa memperhatikan fondasi bisnis mulai menghadapi perubahan besar. Founder kini semakin dituntut memahami hubungan antara pendapatan, biaya, modal, pelanggan, dan keberlanjutan perusahaan. Pertumbuhan tetap penting, tetapi pertumbuhan yang sehat menjadi semakin menentukan. Di tengah persaingan pendanaan dan dominasi teknologi seperti AI, kemampuan menggunakan modal secara efisien menjadi keunggulan tersendiri. Masa depan startup bukan hanya milik perusahaan yang mampu tumbuh cepat, tetapi juga mereka yang mampu membuktikan bahwa pertumbuhan tersebut memiliki nilai ekonomi nyata. Karena itu, founder startup mulai berubah dari sekadar pemburu valuasi menjadi pembangun bisnis yang benar-benar tahan lama.

Sumber Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /