Pemerintah Yaman secara resmi menetapkan status darurat nasional selama 90 hari setelah situasi keamanan di negara tersebut memburuk drastis. Keputusan ini diumumkan menyusul meningkatnya ketegangan militer di wilayah selatan dan timur Yaman, termasuk serangan terhadap pelabuhan Mukalla yang dinilai strategis bagi stabilitas nasional (Yemen Online, 2025).
Penetapan status darurat ini menandai fase baru konflik Yaman. Jika sebelumnya perang lebih banyak berkutat pada konflik internal, kini eskalasi terbaru memperlihatkan perpecahan terbuka antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), dua negara utama dalam koalisi Arab.
Yaman Darurat 90 Hari Resmi Berlaku
Deklarasi yaman darurat 90 hari diumumkan oleh Dewan Kepemimpinan Presidensial Yaman sebagai respons atas ancaman serius terhadap kedaulatan negara. Pemerintah menyatakan bahwa status darurat diperlukan untuk memberikan ruang hukum dalam memperketat pengamanan serta mengambil langkah cepat menghadapi perkembangan militer di lapangan (Yemen Online, 2025).
Dalam kebijakan ini, pemerintah Yaman memperkuat pengawasan di pelabuhan, perbatasan, dan jalur distribusi utama. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah penyelundupan senjata serta membatasi pergerakan kelompok bersenjata yang dinilai memperburuk konflik.
Ketegangan Saudi–UEA Picu Eskalasi Konflik
Eskalasi konflik Yaman tidak lepas dari meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan UEA. Arab Saudi melancarkan serangan udara terbatas terhadap target yang diduga menjadi jalur pengiriman senjata ke Yaman, termasuk di sekitar pelabuhan Mukalla (Arab News, 2025).
Serangan tersebut menargetkan pengiriman senjata yang diduga ditujukan kepada kelompok separatis di selatan Yaman. Langkah ini memperlihatkan perbedaan tajam pendekatan Saudi dan UEA, terutama terkait dukungan terhadap aktor lokal dalam konflik Yaman.
Yaman Batalkan Perjanjian Pertahanan dengan UEA
Sebagai bagian dari kebijakan yaman darurat 90 hari, pemerintah Yaman secara resmi membatalkan perjanjian pertahanan dengan Uni Emirat Arab. Pemerintah menilai perjanjian tersebut tidak lagi sejalan dengan kepentingan nasional Yaman di tengah eskalasi konflik (ANTARA News Megapolitan, 2025).
Selain pembatalan perjanjian, Yaman juga mendesak UEA untuk menarik seluruh pasukan militernya dari wilayah Yaman dalam waktu 24 jam. Permintaan ini disampaikan secara terbuka dan menegaskan memburuknya hubungan kedua pihak (Saudi Gazette, 2025).
Arab Saudi Dukung Langkah Pemerintah Yaman
Arab Saudi menyatakan dukungan terhadap keputusan pemerintah Yaman yang meminta penarikan pasukan UEA. Riyadh menilai langkah tersebut penting untuk mencegah konflik internal antar kelompok bersenjata semakin meluas dan mengancam stabilitas nasional Yaman (ANTARA News, 2025).
Dukungan Arab Saudi ini sekaligus menegaskan posisi Riyadh dalam konflik terbaru, serta memperlihatkan adanya pergeseran dinamika di dalam koalisi Arab yang selama ini terlibat dalam perang Yaman.
Dampak Regional dan Risiko Berkepanjangan
Konflik yang memicu yaman darurat 90 hari berpotensi menimbulkan dampak luas di kawasan Timur Tengah. Yaman memiliki posisi strategis di dekat jalur pelayaran internasional, sehingga instabilitas di negara tersebut berisiko mengganggu keamanan regional.
Perpecahan antara Arab Saudi dan UEA juga dikhawatirkan akan memperpanjang konflik Yaman. Ketidaksamaan kepentingan antar negara koalisi berpotensi menghambat upaya penyelesaian politik yang selama ini diupayakan.
Penetapan yaman darurat 90 hari menunjukkan bahwa konflik di negara tersebut telah memasuki fase yang lebih kompleks dan berisiko tinggi. Pembatalan perjanjian pertahanan dengan UEA serta dukungan Arab Saudi terhadap langkah tersebut menandai perubahan signifikan dalam peta aliansi regional.
Garap Media akan terus memantau perkembangan konflik Yaman dan dampaknya bagi kawasan Timur Tengah. Ikuti berita internasional lainnya di Garap Media untuk mendapatkan informasi terbaru, akurat, dan mendalam.
Referensi
