Waspada Virus RSV Serang Bayi dan Picu Lonjakan Kasus
Kasus infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV) kembali meningkat di Indonesia, terutama menyerang bayi dan balita. Laporan dari ANTARA News (2025) menyebutkan bahwa infeksi RSV dapat memicu gangguan pernapasan serius pada bayi, terutama yang berusia di bawah dua tahun.
Lonjakan kasus ini membuat tenaga kesehatan mengimbau orang tua untuk lebih waspada terhadap gejala awal, mengingat RSV dapat meninggalkan gejala sisa seperti mengi hingga risiko asma saat anak tumbuh dewasa (TIMES Indonesia, 2025). Oleh sebab itu, pemahaman mengenai penyebab, gejala, serta cara pencegahan menjadi sangat penting.
Apa Itu Virus RSV?
Virus rsv adalah virus yang menyerang saluran pernapasan dan umum menyebabkan bronkiolitis dan pneumonia pada bayi. Menurut ANTARA News (2025), virus ini sangat berbahaya bagi bayi prematur karena paru-paru mereka masih belum berkembang dengan sempurna.
Cara Penularan
Penularan RSV terjadi melalui droplet, kontak langsung, maupun permukaan yang terkontaminasi. Faktor cuaca yang tidak menentu, terutama musim hujan, turut mempercepat lonjakan penyebaran virus ini (ANTARA News, 2025).
Gejala Umum
Menurut Bisnis.com (2025), gejala RSV pada bayi meliputi:
- Batuk dan pilek berkepanjangan
- Napas cepat atau tersengal
- Sulit menyusu
- Demam ringan hingga sedang
- Tarikan dinding dada
Lonjakan Kasus dan Dampaknya
Laporan terbaru ANTARA News (2025) menunjukkan semakin banyak bayi yang dirawat akibat infeksi RSV dalam sebulan terakhir. Dokter mengingatkan bahwa RSV tidak hanya menimbulkan gejala akut, tetapi juga dapat meninggalkan dampak jangka panjang seperti gangguan pernapasan kronis.
Risiko pada Bayi Prematur
Dalam artikel lain, ANTARA News (2025) menegaskan bahwa bayi prematur adalah kelompok paling rentan. Infeksi RSV dapat menyebabkan penurunan saturasi oksigen dan memerlukan perawatan intensif.
Potensi Komplikasi Jangka Panjang
TIMES Indonesia (2025) melaporkan bahwa bayi yang pernah terinfeksi RSV berisiko lebih tinggi mengembangkan asma ketika dewasa. Hal ini terjadi akibat kerusakan jaringan paru-paru yang terbentuk saat infeksi berlangsung.
Pencegahan dan Perlindungan dari Virus RSV
Pencegahan menjadi langkah utama mengingat hingga saat ini belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan RSV (Bisnis.com, 2025). Perawatan yang ada lebih berfungsi meredakan gejala.
Menjaga Kebersihan Tangan
Rajin mencuci tangan merupakan tindakan paling efektif mencegah penularan RSV, terutama pada bayi yang belum memiliki imunitas sempurna.
Menghindari Paparan Asap dan Kerumunan
Bayi sangat sensitif terhadap iritasi. Dokter menganjurkan untuk menjauhkan bayi dari asap rokok dan menghindari tempat ramai (ANTARA News, 2025).
Vaksinasi dan Perlindungan untuk Ibu Hamil
TIMES Indonesia (2025) melaporkan bahwa vaksin RSV untuk ibu hamil mulai direkomendasikan sebagai solusi untuk memberikan antibodi pasif kepada bayi setelah lahir.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera membawa anak ke fasilitas kesehatan sangat dianjurkan jika terjadi sesak napas, tarikan napas kuat di dada, atau bayi tampak sangat lemah (ANTARA News, 2025). Pada kasus berat, bayi dapat memerlukan rawat inap hingga terapi oksigen.
Pada beberapa laporan, bayi dengan infeksi RSV juga mengalami sisa gejala berupa batuk berkepanjangan dan napas berbunyi (wheezing) selama berminggu-minggu setelah sembuh (ANTARA News, 2025).
Dengan meningkatnya kasus virus rsv di berbagai wilayah, penting bagi orang tua untuk mengenali gejala sejak dini dan memahami langkah pencegahan. Infeksi yang tampak ringan dapat berkembang menjadi kondisi serius jika tidak ditangani.
Untuk berita kesehatan lainnya yang informatif dan akurat, pembaca dapat menjelajahi berbagai artikel di Garap Media. Banyak informasi terbaru yang dapat membantu menjaga kesehatan keluarga.
Referensi
