Waspada Leptospirosis: Penyakit Mematikan Akibat Air Banjir yang Sering Diabaikan
Musim hujan telah tiba, dan bersama datang pula ancaman berbagai penyakit menular. Salah satu yang patut diwaspadai adalah penyakit leptospirosis, infeksi bakteri yang kerap muncul pasca banjir. Penyakit ini sering dianggap sepele karena gejalanya mirip flu, padahal bisa berujung fatal bila tak segera ditangani.
Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menunjukkan bahwa leptospirosis masih menjadi masalah kesehatan serius di sejumlah daerah. Kondisi lingkungan lembap, sanitasi yang buruk, serta meningkatnya populasi tikus menjadi faktor utama penyebarannya.
Apa Itu Penyakit Leptospirosis?
Penyakit leptospirosis adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans. Bakteri ini menyebar melalui urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus, kemudian mencemari air atau tanah. Manusia dapat terinfeksi ketika kulit terluka atau mukosa mata, hidung, dan mulut terpapar air atau lumpur yang sudah terkontaminasi.
Menurut Antara News, hingga Desember 2022 tercatat 1.408 kasus leptospirosis di Indonesia dengan 139 kematian. Jawa Tengah menjadi provinsi dengan jumlah kasus tertinggi, disusul Jawa Barat dan DKI Jakarta. Kasus meningkat tajam setiap kali banjir melanda wilayah padat penduduk.
Gejala dan Tahapan Penyakit Leptospirosis
Fase Awal (Ringan)
Pada tahap awal, penderita biasanya mengalami demam tinggi, nyeri otot, mata merah, sakit kepala, mual, dan muntah. Gejala ini sering dikira flu atau demam berdarah, sehingga diagnosis sering terlambat.
Fase Berat
Jika tidak segera diobati, infeksi dapat berkembang menjadi fase berat. Menurut Garda Indonesia, hingga pertengahan 2025 sudah tercatat 787 kasus dengan 101 kematian akibat komplikasi seperti gagal ginjal, kerusakan hati, dan perdarahan paru. Beberapa pasien mengalami gejala kuning pada mata dan kulit (jaundice) serta gagal organ ganda.
Siapa yang Paling Berisiko Terkena Penyakit Leptospirosis?
Kemenkes menegaskan bahwa kelompok dengan aktivitas tinggi di luar ruangan memiliki risiko lebih besar, seperti nelayan, petugas kebersihan, dan warga di kawasan banjir. (Antara News)
Selain itu, masyarakat di daerah padat penduduk dan lingkungan dengan sanitasi buruk juga rentan. Penularan paling banyak terjadi saat musim hujan karena meningkatnya genangan air dan kontak langsung dengan sumber pencemaran.
Pencegahan dan Penanganan Penyakit Leptospirosis
Cara Mencegah
- Hindari bermain atau bekerja di air banjir tanpa pelindung.
- Gunakan sepatu boots dan sarung tangan bila harus beraktivitas di lingkungan lembap.
- Tutup luka sebelum kontak dengan air.
- Jaga kebersihan rumah dan hindari penumpukan sampah yang dapat menarik tikus.
Pengobatan
Leptospirosis dapat diobati dengan antibiotik seperti doxycycline atau penicillin. Deteksi dini sangat penting agar bakteri tidak menyebar ke organ vital. Bila pasien mengalami gejala berat, perawatan intensif di rumah sakit diperlukan untuk mencegah komplikasi seperti gagal ginjal atau hati.
Dampak Kesehatan dan Ancaman Nasional
Kasus leptospirosis di Indonesia menunjukkan angka kematian yang cukup tinggi dibanding beberapa penyakit menular lainnya. Menurut Sumbar Antara News, persentase kematian akibat penyakit ini bahkan bisa melebihi kasus COVID-19 di wilayah tertentu.
Karena itu, leptospirosis termasuk penyakit yang perlu diwaspadai secara nasional, terutama di daerah rawan banjir. Upaya promotif dan preventif harus ditingkatkan melalui edukasi publik, peningkatan sanitasi, dan pengendalian hewan pembawa penyakit.
Penyakit leptospirosis bukan hanya ancaman lokal, tetapi juga isu kesehatan nasional yang harus diwaspadai bersama. Masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan, menjaga kebersihan, serta segera memeriksakan diri bila mengalami gejala mencurigakan setelah kontak dengan air banjir.
Untuk informasi kesehatan terbaru dan berita penting lainnya, terus pantau hanya di Garap Media. Jangan lewatkan liputan menarik seputar isu lingkungan dan kesehatan di seluruh Indonesia di Garap Media.
Referensi
