Warong Nasi Pariaman, restoran nasi padang legendaris di Singapura, akan menutup operasionalnya secara permanen pada 31 Januari 2026. Restoran ini berdiri sejak 1948 dan dikenal sebagai salah satu gerai nasi padang tertua di Singapura. Selama 78 tahun, Warong Nasi Pariaman melayani pelanggan lintas generasi di kawasan Kampong Glam (CNA Lifestyle, 2026; detikFood, 2026).
Kabar penutupan ini langsung menyita perhatian publik. Banyak pelanggan mengaku kehilangan karena restoran tersebut bukan sekadar tempat makan. Warong Nasi Pariaman telah menjadi simbol nostalgia dan cita rasa Minangkabau autentik di luar Indonesia (The Straits Times, 2026).
Sejarah Warong Nasi Padang
Awal Berdiri
Pertama kali dibuka pada tahun 1948 oleh seorang perantau asal Pariaman, Sumatera Barat. Berlokasi di persimpangan North Bridge Road dan Kandahar Street, restoran ini tumbuh seiring perkembangan Kampong Glam sebagai pusat budaya Melayu di Singapura (The Straits Times, 2026).
Selama puluhan tahun, Warong Nasi Pariaman dikelola secara turun-temurun oleh keluarga pendirinya. Konsistensi dalam mempertahankan resep tradisional dan teknik memasak khas Minangkabau membuat cita rasa yang disajikan tetap terjaga hingga akhir masa operasionalnya.
Warong Nasi Padang sebagai Ikon Kuliner
Keberadaan Warong Nasi Pariaman menjadikannya ikon kuliner Indonesia di Singapura. Menu seperti rendang sapi, ayam gulai, ikan bakar, dan sambal khas menjadi alasan utama pelanggan terus kembali. Bahkan, restoran ini kerap disebut sebagai rujukan nasi padang autentik oleh media lokal Singapura (Eatbook.sg, 2026).
Pengumuman Penutupan dan Reaksi Publik
Pengumuman Resmi
Penutupan Warong Nasi Pariaman diumumkan pada Januari 2026 melalui media sosial resmi restoran. Dalam pernyataan tersebut, pengelola menyampaikan bahwa keputusan ini diambil dengan berat hati. Mereka juga mengucapkan terima kasih kepada para pelanggan yang setia mendukung perjalanan usaha hampir delapan dekade tersebut (detikFood, 2026).
Reaksi Pelanggan
Pasca pengumuman itu, pelanggan berbondong-bondong datang kembali untuk menikmati hidangan terakhir di Warong Nasi Pariaman. Banyak di antaranya menyampaikan rasa sedih sekaligus nostalgia, mengenang momen makan bersama keluarga sejak masa kecil. Media Singapura turut melaporkan antrean panjang yang terlihat menjelang hari-hari terakhir operasional restoran legendaris ini (CNA Lifestyle, 2026).
Alasan di Balik Penutupan
Meski pengelola tidak mengungkapkan alasan secara detail, beberapa laporan media menyebut bahwa tantangan operasional menjadi faktor yang tidak terhindarkan bagi restoran berusia panjang di pusat kota Singapura. Perubahan lanskap bisnis dan tekanan biaya disebut sebagai tantangan umum yang dihadapi restoran warisan di kawasan tersebut (CNA Lifestyle, 2026).
Penutupan Warong Nasi Pariaman menambah daftar restoran legendaris yang harus menghentikan operasionalnya dalam beberapa tahun terakhir, seiring perubahan ekonomi dan pola konsumsi masyarakat (Eatbook.sg, 2026).
Warisan yang Ditinggalkan
Warong ini meninggalkan warisan penting sebagai simbol keberhasilan kuliner Indonesia di luar negeri. Selama 78 tahun, restoran ini menjadi penghubung budaya antara Indonesia dan Singapura melalui makanan, serta menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat setempat (The Straits Times, 2026).
Meski restoran ini akan menutup pintunya, nilai historis dan kenangan yang tercipta dari setiap hidangan diyakini akan tetap hidup di benak para pelanggan setianya.
Penutupan Warong Nasi Padang menjadi pengingat bahwa warisan kuliner tidak selalu abadi, namun nilainya tetap melekat dalam sejarah dan memori kolektif. Kisahnya menunjukkan betapa kuatnya peran makanan dalam membangun hubungan lintas generasi.
Ikuti terus berita kuliner, budaya, dan gaya hidup lainnya hanya di Garap Media untuk mendapatkan informasi menarik dan terpercaya setiap hari.
Referensi
