Wanita dengan ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder merupakan kondisi medis yang memengaruhi pola aktivitas, tingkat perhatian, serta kemampuan seseorang dalam mengatur emosi. Kondisi ini menjadi tantangan ketika wanita dengan ADHD memasuki masa perimenopause, yaitu fase transisi alami sebelum menopause saat ovarium mulai menurunkan produksi estrogen secara bertahap sejak usia 40 tahun.
Interaksi antara hormon dan neurotransmiter di otak membuat fase ini menjadi masa yang kritis bagi kesehatan mental dan fisik untuk wanita dengan ADHD. “Wanita dengan ADHD menghadapi tantangan berat saat perimenopause karena penurunan drastis hormon estrogen berinteraksi langsung dengan dopamin, sehingga memperburuk fungsi kognitif dan pengaturan emosi,” kata tim peneliti dalam studi yang dipublikasikan oleh National Library of Medicine 2025.
Risiko Gejala Perimenopause pada Wanita dengan ADHD
Berdasarkan data penelitian tersebut, wanita dengan ADHD hampir dua kali lebih mungkin mengalami gejala perimenopause dibandingkan mereka yang tidak memilikinya. Hal ini disebabkan oleh peran estrogen dalam membantu efektivitas dopamin di otak. Saat kadar estrogen menurun, gejala ADHD yang sebelumnya terkendali sering kali muncul kembali dengan intensitas lebih tinggi.
- Gejala Psikologis: Sebanyak 59 persen wanita ADHD mengalami kecemasan, suasana hati depresif, sifat mudah tersinggung, serta kelelahan kronis.
- Gejala Fisik: Sebanyak 30 persen merasakan sensasi panas, sakit kepala, atau jantung berdebar. Sebagai perbandingan, gejala fisik ini hanya dialami oleh 14 persen wanita tanpa gangguan perhatian dan hiperaktivitas.
- Waktu Kemunculan: Gejala cenderung muncul lebih awal, yaitu pada rentang usia 35-39 tahun, sementara wanita tanpa kondisi ini umumnya merasakan puncak gejala pada usia 45 tahun.
Faktor Risiko, dari Ekonomi hingga Genetik
Beberapa faktor dapat memperburuk gejala perimenopause pada wanita dengan ADHD. Individu dengan kondisi ini biasanya memiliki tingkat kecemasan tinggi dan menghadapi tantangan ekonomi. Stres kronis yang dipicu oleh gangguan perhatian dan hiperaktivitas dapat menurunkan fokus dan status sosial ekonomi, sehingga memperburuk kesehatan secara umum.
Selain itu, faktor lingkungan dan genetik berperan penting. Kombinasi keduanya meningkatkan risiko intensitas gejala lebih tinggi. Penelitian juga menunjukkan keterkaitan ADHD dengan risiko Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) dan gejala gangguan stres pasca trauma (PTSD) yang lebih berat.
Langkah Penanganan ADHD
Penanganan difokuskan pada pengurangan stres kronis dan respons inflamasi tubuh. Beberapa langkah yang direkomendasikan:
- Terapi Kognitif Perilaku (CBT): Membantu mengatasi kecemasan dan meningkatkan keterampilan manajemen waktu. Wanita dilatih menyusun jadwal kegiatan serta mengidentifikasi pemicu emosi agar dapat memberikan respons yang lebih sehat.
- Olahraga Rutin: Aktivitas fisik secara konsisten dapat membantu meningkatkan regulasi dopamin dan neurotransmitter dalam otak.
- Gaya Hidup Sehat: Memperbaiki kualitas tidur untuk mendukung fungsi kognitif dan menerapkan pola makan dengan nutrisi yang seimbang.
Penutup
Wanita dengan ADHD disarankan untuk memahami fase perimenopause ini sebagai momen penting dalam menjaga kesehatan mental dan fisik mereka. Pendekatan yang tepat, termasuk terapi, olahraga, dan gaya hidup sehat, dapat membantu mengurangi intensitas gejala dan meningkatkan kualitas hidup.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar kesehatan wanita, perimenopause, neurodiversitas, gaya hidup sehat, penelitian medis, manajemen stres, terapi psikologis, dan nutrisi hanya di Garap Media.
Referensi:
- Liputan6. (2026). Wanita dengan ADHD Biasanya Alami Gejala Perimenopause yang Lebih Berat. Retrieved from https://www.liputan6.com/disabilitas/read/6274036/wanita-dengan-adhd-biasanya-alami-gejala-perimenopause-yang-lebih-berat
