Virus Nipah Mengintai dari Buah Bekas Kelelawar, IDAI Ingatkan Orang Tua

Last Updated: 1 February 2026, 12:46

Bagikan:

virus nipah
Foto: Sindonews
Table of Contents

Virus Nipah – Menjadi perhatian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meski belum ditemukan di Indonesia. Potensi risiko penularannya tetap perlu diwaspadai, terutama oleh orang tua. Salah satu jalur penularan yang kerap luput dari perhatian adalah konsumsi buah yang telah terkontaminasi air liur atau gigitan kelelawar.

Virus ini merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Kelelawar pemakan buah (fruit bat) dikenal sebagai reservoir alami virus ini. Penularan bisa terjadi ketika manusia mengonsumsi buah yang jatuh ke tanah atau yang permukaannya telah terpapar air liur kelelawar tanpa dicuci bersih.

Buah Kelelawar dan Risiko Virus Nipah

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, menekankan bahwa buah yang sudah dimakan atau terkontaminasi air liur kelelawar berpotensi menjadi media penularan. Virus ini termasuk zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia dengan kelelawar buah sebagai inang alaminya.

“Banyak kebiasaan kita, anak-anak memungut buah yang bekas dimakan kelelawar karena malas memanjat. Kalau kelelawarnya mengandung virus Nipah, maka ini bisa menularkan ke anak-anak kita,” ujar Piprim.

Berapakah Angka Kematian akibat Virus Nipah?

Virus Nipah dikenal sebagai penyakit serius dengan tingkat kematian sangat tinggi, mencapai 75 persen. Artinya, tiga dari empat orang yang terinfeksi berisiko meninggal dunia. Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun pengobatan spesifik. Penanganan masih bersifat suportif dan bergantung pada gejala yang muncul.

Gejala awal Virus Nipah sering mirip infeksi virus umum, seperti demam, nyeri tubuh, dan lemas. Jika tidak ditangani cepat, infeksi dapat berkembang menjadi radang otak (ensefalitis) dan mengganggu sistem pertahanan tubuh lainnya.

“Ini penyakit yang cukup serius dan belum ada obat maupun vaksinnya. Oleh karena itu, perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS menjadi salah satu kunci utama pencegahan,” kata Piprim.

Virus Nipah Menular Melalui Apa?

Senada dengan itu, Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, Sp.A, Subsp.IPT, menjelaskan bahwa peredaran Virus Nipah di Indonesia hingga kini masih terdeteksi pada kelelawar buah dan belum ditemukan penularan pada manusia.

“Penular utama adalah kelelawar buah sebagai inang alami. Virusnya sudah ditemukan pada kelelawar di Indonesia, tapi pada manusia memang belum,” ujar Dominicus.

Penelitian uji Elisa pada 2023 menunjukkan antibodi Virus Nipah ditemukan pada sepertiga sampel liur kelelawar buah, bahkan virusnya terdeteksi pada sebagian kecil sampel. Penelitian pada hewan ternak seperti babi belum menemukan antibodi Nipah.

Bagaimana Virus Nipah Menyebar dari Kelelawar?

Dominicus menjelaskan bahwa penularan virus dari kelelawar dapat terjadi melalui air kencing, ludah, buah yang terkontaminasi, hingga daging mentah dari hewan yang terinfeksi. Penularan antarmanusia juga bisa terjadi melalui droplet pernapasan atau kontak dengan cairan tubuh penderita. Kelompok paling rentan meliputi anak-anak, peternak, pekerja pemotongan hewan, pengumpul nira, serta tenaga kesehatan. Karena itu, orang tua diminta lebih waspada dengan kebiasaan anak.

Langkah Pencegahan

Langkah pencegahan yang dianjurkan antara lain:

  • Menghindari konsumsi buah langsung dari pohon
  • Mencuci dan mengupas buah dengan bersih
  • Membuang buah yang terdapat bekas gigitan kelelawar
  • Memasak daging hingga matang
  • Menerapkan PHBS secara konsisten

Meski tidak perlu panik berlebihan, para ahli menekankan pentingnya kewaspadaan dan deteksi dini agar keluarga, khususnya anak-anak, tetap terlindungi dari ancaman virus.

Penutup

Waspada terhadap Virus Nipah bukan berarti harus panik, tetapi penting bagi orang tua untuk tetap mengawasi kebiasaan anak, terutama dalam mengonsumsi buah atau makanan yang berpotensi terkontaminasi. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta deteksi dini menjadi kunci utama melindungi anak dari ancaman virus ini.

Jangan lewatkan berita kesehatan terbaru lainnya di Garap Media untuk mendapatkan informasi seputar penyakit menular dan langkah pencegahannya.

Referensi:

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /