Garap Media – Berjualan secara online kini semakin mudah, mulai dari memajang produk di marketplace hingga menerima pembayaran menggunakan kode QR. Namun, kemudahan tersebut tidak otomatis membuat usaha kecil lebih menguntungkan atau mampu bertahan dalam persaingan. Data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dipublikasikan pada Juli 2025 menyebutkan bahwa UMKM menyumbang 61,07 persen terhadap produk domestik bruto Indonesia, tetapi adopsi teknologi digital masih menghadapi berbagai hambatan. Masalahnya bukan hanya akses internet, melainkan keterampilan, modal, legalitas, dan kemampuan mengembangkan usaha. Ketika semakin banyak pelaku usaha memasuki pasar digital, persaingan untuk merebut perhatian konsumen juga semakin ketat. UMKM yang berpotensi bertahan bukan sekadar yang hadir di internet, melainkan yang mampu menggunakan teknologi untuk membangun bisnis yang sehat.
1. Punya Toko Online Belum Tentu Punya Keunggulan
Kehadiran di marketplace dan media sosial memang membuka akses ke calon pembeli yang lebih luas. Akan tetapi, ketika banyak penjual menawarkan produk serupa, konsumen dapat dengan mudah membandingkan harga, kualitas, dan biaya pengiriman. UMKM yang hanya mengandalkan diskon berisiko terjebak dalam persaingan harga yang menggerus keuntungan. Produk yang menarik perhatian sesaat juga belum tentu menghasilkan pembelian berulang. Karena itu, pelaku usaha perlu membangun pembeda melalui kualitas, pelayanan, kemasan, atau karakter produk yang jelas. Tanpa keunggulan tersebut, toko online mudah tenggelam di antara banyak pesaing.
Langkah pertama adalah memahami alasan konsumen memilih suatu produk, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang ramai. Pemilik usaha dapat mempelajari pertanyaan pelanggan, ulasan pembeli, dan produk yang paling sering dipesan. Informasi tersebut membantu menentukan perbaikan yang benar-benar dibutuhkan pasar. UMKM juga perlu memastikan foto, deskripsi, harga, dan informasi pengiriman sesuai dengan kondisi produk sebenarnya. Promosi tetap penting, tetapi harus diarahkan kepada calon pelanggan yang relevan. Ketika pengalaman pembelian memuaskan, peluang pelanggan kembali membeli dan merekomendasikan produk dapat meningkat.
2. Data Penjualan Lebih Penting daripada Sekadar Ramai
Salah satu kesalahan dalam menjalankan bisnis digital adalah menganggap jumlah pengikut, tanda suka, dan tayangan sebagai ukuran utama keberhasilan. Angka tersebut dapat menunjukkan perhatian audiens, tetapi belum membuktikan bahwa bisnis menghasilkan keuntungan. Konten yang viral bahkan bisa mendatangkan banyak pertanyaan tanpa menghasilkan transaksi yang sebanding. Pelaku UMKM perlu mengetahui produk yang paling laku, biaya mendapatkan pelanggan, nilai transaksi, dan keuntungan bersih. Pencatatan sederhana dapat membantu pemilik usaha membedakan promosi yang efektif dari aktivitas yang hanya menghabiskan waktu. Keputusan berdasarkan data membuat strategi bisnis lebih terarah daripada sekadar mengikuti intuisi.
Teknologi tidak harus dimulai dengan perangkat lunak mahal atau sistem yang rumit. Pelaku usaha dapat menggunakan spreadsheet untuk mencatat pemasukan, pengeluaran, persediaan, dan pesanan setiap hari. Data tersebut kemudian dievaluasi secara berkala untuk melihat pola permintaan dan biaya yang paling besar. Jika suatu produk sering terjual tetapi marginnya terlalu tipis, pemilik perlu menghitung ulang harga atau proses produksinya. Sebaliknya, produk dengan pelanggan loyal dapat memperoleh perhatian lebih dalam pengembangan bisnis. Digitalisasi baru memberi nilai nyata ketika informasi yang terkumpul membantu meningkatkan produktivitas dan kualitas keputusan.
3. Keterampilan dan Modal Menentukan Kecepatan Bertumbuh
Transformasi digital membutuhkan lebih dari sekadar telepon pintar dan koneksi internet. OECD dalam kajiannya mengenai ekonomi Indonesia menyoroti perlunya peningkatan keterampilan digital, penguatan keamanan siber, dan perluasan akses pembiayaan. Bagi UMKM, keterbatasan kemampuan membuat konten, membaca data, dan mengelola keuangan dapat menghambat pemanfaatan teknologi. Sebagian usaha juga belum memiliki dana yang cukup untuk memperbarui peralatan atau meningkatkan kapasitas produksi. Akibatnya, permintaan yang meningkat belum tentu dapat dipenuhi dengan baik. Kesenjangan kemampuan ini dapat membuat jarak antara usaha yang tumbuh dan usaha yang tertinggal semakin lebar.
Pelaku usaha tidak harus menguasai semua teknologi sekaligus untuk mulai memperbaiki bisnisnya. Prioritaskan keterampilan yang paling berpengaruh, seperti pencatatan digital, pelayanan pelanggan, pemasaran, dan pengelolaan stok. Pelatihan dari lembaga resmi, komunitas bisnis, atau program pendampingan dapat menjadi titik awal untuk meningkatkan kemampuan. Sebelum mengambil pinjaman untuk ekspansi, hitung kebutuhan dana, kemampuan membayar, serta potensi keuntungan yang realistis. Pilih teknologi berdasarkan masalah yang ingin diselesaikan, bukan karena sedang populer. Dengan langkah bertahap, investasi digital lebih berpeluang menghasilkan manfaat yang sepadan dengan biaya.
4. Kepercayaan Pelanggan Menjadi Modal yang Tak Tergantikan
Persaingan digital bukan hanya soal harga dan kecepatan pengiriman, tetapi juga kepercayaan. Konsumen semakin mudah menemukan ulasan, membandingkan penjual, dan membagikan pengalaman buruk kepada publik. Informasi produk yang menyesatkan, respons lambat, atau pesanan yang tidak sesuai dapat merusak reputasi usaha. Risiko keamanan akun dan penyalahgunaan data juga perlu diperhatikan ketika bisnis semakin bergantung pada layanan digital. Karena itu, UMKM harus menjaga konsistensi kualitas sekaligus melindungi akses ke akun dan informasi pelanggan. Kepercayaan yang dibangun perlahan dapat hilang jika pelaku usaha mengabaikan hal-hal mendasar tersebut.
Pemilik bisnis sebaiknya menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi dua faktor, dan membatasi akses akun kepada orang yang benar-benar membutuhkannya. Data pelanggan tidak boleh dibagikan sembarangan atau digunakan di luar tujuan yang disepakati. Selain itu, setiap keluhan perlu ditangani secara profesional dengan penjelasan dan solusi yang jelas. Pelaku usaha juga harus menyampaikan harga, kebijakan pengembalian, dan estimasi pengiriman secara transparan. Evaluasi rutin membantu memastikan standar pelayanan tetap terjaga ketika jumlah pesanan meningkat. Pada akhirnya, reputasi baik dapat menjadi pembeda yang sulit ditiru pesaing hanya dengan menurunkan harga.
Penutup
Era digital membuka peluang besar bagi UMKM Indonesia, tetapi juga menuntut perubahan cara menjalankan bisnis. Usaha yang hanya mengejar jumlah pengikut atau mengikuti tren berisiko kehilangan arah ketika hasilnya tidak sesuai harapan. Sebaliknya, pelaku usaha yang memahami pelanggan, mencatat keuangan, meningkatkan keterampilan, dan menjaga kepercayaan memiliki fondasi lebih kuat untuk berkembang. Pemerintah dan lembaga pendamping juga perlu memastikan akses pelatihan serta pembiayaan menjangkau usaha yang membutuhkan. Digitalisasi seharusnya tidak berhenti pada perpindahan transaksi dari toko fisik ke layar ponsel. UMKM yang akan bertahan adalah mereka yang mampu menjadikan teknologi sebagai alat untuk menciptakan nilai, bukan sekadar mengikuti perubahan zaman.
