UMKM Indonesia Bisa Naik Kelas, Tapi Harus Mengubah Cara Lama

Last Updated: 28 October 2026, 21:29

Bagikan:

UMKM Indonesia Bisa Naik Kelas, Tapi Harus Mengubah Cara Lama
Table of Contents

Garap Media – Banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki produk berkualitas, pelanggan setia, dan potensi pasar yang besar. Namun, tidak sedikit usaha yang sulit berkembang karena masih mengandalkan cara kerja yang sama selama bertahun-tahun. Penjualan dicatat seadanya, promosi bergantung pada pelanggan lama, dan keputusan bisnis lebih sering didasarkan pada perkiraan daripada data. Padahal, pemerintah terus mendorong digitalisasi, akses pembiayaan, dan peningkatan produktivitas agar UMKM mampu berkembang lebih jauh. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menekankan bahwa pembiayaan perlu disertai penguatan kapasitas, pencatatan keuangan, akses pasar, dan digitalisasi.  Artinya, tantangan UMKM bukan sekadar mendapatkan modal, melainkan berani mengubah cara mengelola usaha agar mampu tumbuh secara berkelanjutan.

1. Berhenti Mencampur Uang Pribadi dan Uang Usaha

Salah satu hambatan terbesar UMKM adalah pencatatan keuangan yang tidak tertib. Sebagian pelaku usaha masih mencampurkan uang hasil penjualan dengan kebutuhan rumah tangga sehingga sulit mengetahui keuntungan sebenarnya. Omzet yang terlihat besar belum tentu menghasilkan laba jika biaya bahan baku, operasional, transportasi, dan utang tidak dihitung dengan benar. Tanpa data yang jelas, pemilik usaha berisiko menetapkan harga terlalu rendah atau menggunakan modal untuk kebutuhan yang tidak produktif. Kondisi tersebut juga dapat menyulitkan ketika usaha membutuhkan pembiayaan dari lembaga keuangan. Karena itu, pencatatan keuangan bukan pekerjaan administratif semata, melainkan fondasi untuk mengambil keputusan bisnis.

Perubahan dapat dimulai dengan memisahkan rekening usaha dan rekening pribadi serta mencatat setiap transaksi secara rutin. Pelaku UMKM tidak harus langsung menggunakan perangkat lunak mahal karena spreadsheet atau aplikasi pencatatan sederhana sudah dapat membantu. Bank Indonesia menyediakan SIAPIK untuk mendukung pencatatan transaksi dan penyusunan laporan keuangan usaha. Dari catatan tersebut, pemilik usaha dapat mengevaluasi laba, biaya, arus kas, dan kebutuhan modal secara lebih terukur. Data keuangan yang rapi juga membantu menjelaskan kondisi bisnis ketika mengajukan pembiayaan. Dengan kebiasaan ini, keputusan usaha tidak lagi hanya bergantung pada perkiraan.

2. Jangan Hanya Mengandalkan Penjualan dari Pelanggan Lama

Pelanggan setia memang penting, tetapi ketergantungan pada satu kelompok pembeli dapat membatasi pertumbuhan UMKM. Ketika daya beli menurun atau pelanggan berpindah ke pesaing, penjualan bisa langsung tertekan. Sebagian usaha juga masih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut tanpa strategi untuk menjangkau pasar baru. Padahal, kanal digital membuka peluang memperkenalkan produk kepada konsumen di luar lingkungan tempat usaha berada. Pemerintah turut mendorong pemanfaatan digitalisasi untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing UMKM. Tantangannya adalah menggunakan kanal tersebut secara terarah, bukan sekadar membuka akun media sosial tanpa tujuan penjualan yang jelas.

Pelaku UMKM dapat memulai dengan memilih kanal yang paling sesuai dengan karakter pelanggan dan jenis produk. Usaha makanan, misalnya, dapat memanfaatkan video pendek untuk memperlihatkan proses produksi, sedangkan produk kerajinan dapat menonjolkan detail bahan dan keunikan desain. Foto yang jelas, informasi harga, respons cepat, dan layanan pengiriman yang konsisten juga memengaruhi keputusan pembelian. Pemilik usaha perlu mencatat promosi mana yang menghasilkan pesanan, bukan hanya melihat jumlah penonton atau tanda suka. Dengan begitu, biaya pemasaran dapat diarahkan pada aktivitas yang memberikan hasil nyata. Strategi digital yang konsisten akan lebih berguna daripada promosi ramai sesaat tanpa tindak lanjut.

3. Tingkatkan Kualitas Produk Sebelum Mengejar Pasar Besar

Keinginan memperluas pasar sering membuat pelaku usaha berfokus pada promosi, padahal kualitas produk belum konsisten. Perbedaan rasa, ukuran, kemasan, atau ketahanan produk dapat membuat pelanggan kehilangan kepercayaan. Ketika pesanan meningkat, masalah produksi yang sebelumnya tidak terlihat juga dapat muncul. Oleh sebab itu, UMKM perlu menetapkan standar bahan baku, proses kerja, pengemasan, dan pemeriksaan kualitas. Untuk produk tertentu, legalitas usaha, sertifikasi, serta pemenuhan standar keamanan juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan pasar. Produk yang konsisten memberi alasan lebih kuat bagi pelanggan untuk membeli kembali dan merekomendasikannya kepada orang lain.

Peningkatan kualitas tidak selalu membutuhkan investasi besar sejak awal. Pemilik usaha dapat menyusun prosedur sederhana, mengevaluasi keluhan pelanggan, dan menguji perubahan produk dalam skala kecil. Kemasan perlu disesuaikan dengan kebutuhan distribusi agar barang tetap aman ketika dikirim ke luar kota. Pelaku usaha juga sebaiknya menghitung biaya setiap peningkatan kualitas supaya harga jual tetap masuk akal. Jika ingin memasuki pasar ritel modern atau ekspor, persyaratan produk perlu diperiksa sejak awal. Dengan fondasi produksi yang lebih rapi, UMKM akan lebih siap menghadapi kenaikan permintaan tanpa mengorbankan reputasi.

4. Gunakan Teknologi untuk Mempercepat Pekerjaan

Digitalisasi UMKM seharusnya tidak berhenti pada penggunaan pembayaran nontunai atau pembuatan akun marketplace. Teknologi juga dapat membantu pemilik usaha mencatat stok, mengelola pesanan, memantau pelanggan, dan mengevaluasi penjualan. Bank Indonesia melaporkan bahwa QRIS telah digunakan secara luas oleh pelaku usaha, dengan 96,68% dari 44,86 juta merchant tercatat merupakan UMKM pada Juni 2026. Data tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur pembayaran digital telah menjangkau banyak usaha kecil. Namun, menerima pembayaran digital saja belum otomatis meningkatkan keuntungan jika pengelolaan stok, biaya, dan layanan pelanggan masih berantakan. Teknologi akan memberikan dampak lebih besar ketika digunakan untuk memperbaiki proses bisnis secara menyeluruh.

UMKM dapat memulai dari satu masalah operasional yang paling sering menghabiskan waktu. Jika pesanan kerap tertukar, gunakan sistem pencatatan pesanan; jika stok sering habis tanpa diketahui, buat laporan persediaan sederhana. Alat AI juga dapat membantu menyusun ide promosi, membuat draf deskripsi produk, atau merangkum pertanyaan pelanggan. Meski begitu, informasi yang dihasilkan tetap perlu diperiksa agar tidak menyesatkan konsumen. Pelaku usaha juga harus menjaga data pelanggan dan menghindari membagikan informasi sensitif ke layanan yang tidak tepercaya. Pilih teknologi berdasarkan manfaat dan kemampuan usaha, bukan karena sekadar mengikuti tren.

5. Ubah Cara Mencari Modal dan Membangun Kemitraan

Modal memang dapat membantu UMKM membeli peralatan, meningkatkan kapasitas produksi, atau memperluas distribusi. Namun, meminjam uang tanpa rencana penggunaan yang jelas justru dapat menambah tekanan keuangan. OJK melalui POJK Nomor 19 Tahun 2025 mengatur kemudahan akses pembiayaan bagi UMKM, termasuk proses yang disesuaikan dengan karakteristik dan siklus usaha. <Cite refs={[“turn353146search3”]}/> Meski akses pembiayaan terus diperkuat, kesiapan administrasi dan kemampuan membayar tetap menjadi pertimbangan penting. Pelaku usaha perlu mengetahui jumlah modal yang dibutuhkan, tujuan penggunaannya, dan perkiraan manfaat yang akan diperoleh. Pembiayaan yang tepat seharusnya memperkuat kapasitas usaha, bukan sekadar menutup masalah keuangan yang berulang.

Selain pembiayaan, kemitraan dapat membuka peluang pertumbuhan yang sulit dicapai sendirian. UMKM bisa bekerja sama dengan pemasok, distributor, pelaku usaha lain, komunitas, atau program pendampingan yang relevan. Kolaborasi memungkinkan pelaku usaha berbagi akses pasar, meningkatkan kapasitas produksi, dan belajar memenuhi standar pembeli yang lebih besar. Sebelum membuat kesepakatan, kedua pihak perlu memperjelas harga, kualitas, jadwal pembayaran, dan tanggung jawab masing-masing. Pemilik usaha juga harus menghitung apakah tambahan pesanan benar-benar menguntungkan setelah biaya produksi dan distribusi diperhitungkan. Dengan persiapan yang matang, kemitraan dapat menjadi jalan untuk memperluas usaha secara lebih terukur.

Penutup

UMKM Indonesia bisa naik kelas, tetapi perubahan tidak cukup dilakukan dengan mengganti logo, membuka toko daring, atau mengejar pinjaman baru. Pelaku usaha perlu memperbaiki pencatatan keuangan, memperluas pemasaran, menjaga kualitas, memanfaatkan teknologi, dan membangun kemitraan yang sehat. Setiap langkah sebaiknya dimulai dari masalah nyata yang paling menghambat pertumbuhan usaha. Perubahan tidak harus mahal atau dilakukan sekaligus, tetapi membutuhkan disiplin dan evaluasi yang konsisten. Ketika keputusan bisnis didukung data dan kebutuhan pelanggan, UMKM akan lebih siap menghadapi persaingan serta memanfaatkan peluang pasar. Pada akhirnya, naik kelas bukan sekadar menjadi lebih besar, melainkan menjadi lebih produktif, profesional, dan mampu bertahan dalam jangka panjang.

Sumber Referensi

  1. OJK — Pengembangan Ekosistem Pembiayaan UMKM Semester I 2026
    https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/Peluncuran-Laporan-Perkembangan-Kinerja-Pembiayaan-UMKM-Semester-I-2026.aspx
  2. Bank Indonesia — Karya Kreatif Indonesia 2026 dan Penguatan Pembiayaan UMKM
    https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/pages/sp_2816926.aspx
  3. OJK — POJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan kepada UMKM
    https://www.ojk.go.id/id/regulasi/Pages/POJK-19-Tahun-2025-Kemudahan-Akses-Pembiayaan-Kepada-UMKM.aspx

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /