Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh pada akhir 2025 tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan luka psikologis mendalam bagi para penyintas. Trauma korban flood aceh kini menjadi perhatian serius, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan perempuan.
Sejumlah media lokal melaporkan bahwa banyak pengungsi masih diliputi rasa takut berlebihan, khususnya saat hujan turun. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak bencana tidak berhenti pada fase tanggap darurat, melainkan berlanjut pada kebutuhan pemulihan kesehatan mental jangka panjang.
Dampak Psikologis Pascabencana Flood Aceh
Ketakutan dan Kecemasan Berlebih
Trauma korban flood aceh tercermin dari meningkatnya keluhan kecemasan dan ketakutan di lokasi pengungsian. Menurut laporan detikHealth, banyak penyintas mengaku selalu waswas setiap kali cuaca mendung karena khawatir banjir kembali terjadi (detikHealth, 2025).
Spesialis kesehatan jiwa menyebut reaksi tersebut sebagai respons psikologis yang wajar pascabencana. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, kecemasan ini berisiko berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma atau PTSD.
Anak-anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak secara psikologis akibat flood aceh. Banyak anak pengungsi mengalami perubahan perilaku, seperti mudah menangis, sulit tidur, dan menarik diri dari lingkungan sekitar (ANTARA News, 2025).
Kondisi tersebut menandakan pentingnya intervensi dini melalui program trauma healing agar dampak psikologis tidak berlarut dan mengganggu tumbuh kembang anak di masa depan.
Upaya Pemulihan Trauma Korban Flood Aceh
Layanan Psikososial di Pengungsian
Pemerintah melalui Kementerian Sosial dan dinas terkait telah membuka layanan dukungan psikososial di sejumlah titik pengungsian. Layanan ini mencakup konseling individu, terapi kelompok, serta pendampingan khusus bagi anak-anak dan lansia (detikNews, 2025).
Selain pemerintah, relawan dan organisasi kemanusiaan lokal juga terlibat aktif dalam memberikan dukungan psikologis. Kolaborasi ini diharapkan mampu menjangkau lebih banyak korban yang membutuhkan bantuan mental.
Trauma Healing untuk Anak dan Keluarga
Berbagai kegiatan trauma healing digelar untuk anak-anak korban flood aceh, seperti bermain, menggambar, dan bercerita bersama. Metode ini dinilai efektif membantu anak mengekspresikan emosi serta mengurangi ketegangan akibat pengalaman traumatis (ANTARA News, 2025).
Pendekatan berbasis keluarga juga diterapkan agar orang tua mampu menjadi pendukung utama pemulihan psikologis anak di lingkungan pengungsian.
Tantangan dalam Penanganan Trauma
Keterbatasan Tenaga Profesional
Meski berbagai upaya telah dilakukan, penanganan trauma korban flood aceh masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah keterbatasan tenaga profesional kesehatan jiwa dibandingkan dengan jumlah pengungsi yang membutuhkan pendampingan.
Distribusi psikolog dan konselor belum merata, terutama di wilayah pedalaman Aceh yang aksesnya masih terbatas akibat kerusakan infrastruktur.
Risiko Trauma Berkepanjangan
Para ahli mengingatkan bahwa trauma pascabencana dapat berlangsung lama jika tidak ditangani secara konsisten. Oleh karena itu, pemulihan kesehatan mental harus menjadi bagian dari fase rehabilitasi dan rekonstruksi, bukan sekadar respons darurat.
Trauma korban flood aceh menjadi tantangan serius dalam proses pemulihan pascabencana. Selain perbaikan fisik, perhatian terhadap kesehatan mental masyarakat terdampak mutlak diperlukan agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Ikuti terus berita dan laporan mendalam lainnya di Garap Media untuk mendapatkan informasi terkini seputar bencana, pemulihan, dan isu sosial penting di Indonesia.
Referensi
