Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi perkembangan ekonomi digital Indonesia. Pertumbuhan sektor e-commerce Indonesia terus menunjukkan peningkatan signifikan seiring dengan semakin masifnya penetrasi internet dan pergeseran gaya belanja masyarakat ke ranah daring.
Data terbaru dari Bank Indonesia mencatat bahwa nilai transaksi e-commerce pada Juli 2025 telah menembus Rp44,4 triliun, menandai lonjakan pesat dibandingkan tahun sebelumnya (Antara, 2025). Lonjakan ini mempertegas posisi Indonesia sebagai pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara, dengan jutaan transaksi terjadi setiap harinya di berbagai platform besar seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop.
Pertumbuhan Transaksi dan Dominasi Platform Besar
Pertumbuhan nilai transaksi e-commerce di Indonesia tahun ini tidak hanya didorong oleh diskon besar-besaran dan program harbolnas, tetapi juga meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital. Shopee masih menjadi platform paling populer, diikuti oleh TikTok Shop dan Tokopedia, berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis Agustus 2025.
Fenomena dominasi Shopee dan TikTok Shop ini menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumen, di mana konten video dan sistem live shopping semakin menjadi faktor penentu keputusan belanja. Platform-platform lain seperti Lazada dan Blibli juga masih berkompetisi ketat untuk mempertahankan pangsa pasarnya.
Baca Juga: Cuan Gila dari TikTok Affiliate, Auto Tajir!
Faktor Pendorong Lonjakan E-Commerce
Beberapa faktor utama mendorong peningkatan nilai transaksi e-commerce Indonesia 2025. Pertama, akses internet yang semakin merata hingga ke wilayah rural. Data dari APJII menunjukkan bahwa penetrasi internet di Indonesia kini telah mencapai lebih dari 80% populasi.
Ekosistem pembayaran digital semakin matang dengan hadirnya QRIS, dompet digital seperti OVO, GoPay, dan DANA, serta sistem keamanan transaksi yang lebih baik. Ketiga, program pemerintah seperti Bangga Buatan Indonesia (BBI) juga mendorong UMKM untuk aktif menjual produk secara online.
Selain itu, kebijakan pengiriman cepat dan logistik murah dari berbagai perusahaan ekspedisi lokal turut mempercepat proses transaksi. Kolaborasi antara e-commerce dan fintech membuat belanja daring kini lebih mudah, cepat, dan aman.
Proyeksi E-Commerce di Masa Depan
Proyeksi dari Cube Asia menunjukkan bahwa Indonesia akan mempertahankan posisi sebagai pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara pada akhir 2025. Nilai transaksi diprediksi menembus lebih dari Rp50 triliun dengan jumlah pengguna aktif yang terus bertambah hingga mencapai 230 juta orang.
Namun, di balik angka yang besar, masih terdapat tantangan seperti persaingan harga yang tidak sehat, keamanan data pengguna, dan ketergantungan terhadap promosi besar-besaran. Pemerintah pun mulai menyiapkan regulasi baru terkait pajak transaksi digital dan pengawasan lintas platform agar ekosistem digital tetap berkeadilan.
Dampak Ekonomi dan Tren Baru
Pertumbuhan pesat sektor e-commerce memberi dampak langsung terhadap perekonomian nasional. Banyak UMKM yang berhasil menembus pasar internasional berkat digitalisasi. Kontribusi e-commerce terhadap PDB Indonesia meningkat tajam sejak 2023 dan kini mencapai sekitar 6% dari total ekonomi digital nasional.
Tren baru seperti AI Commerce, Voice Shopping, dan integrasi Augmented Reality (AR) diperkirakan akan menjadi inovasi berikutnya. Pelaku industri harus terus beradaptasi agar tidak tertinggal di tengah perubahan teknologi yang cepat.
Penutup
Perjalanan e-commerce Indonesia pada 2025 menunjukkan bahwa transformasi digital telah membawa perubahan besar dalam pola konsumsi dan ekonomi masyarakat. Dengan dukungan infrastruktur, kebijakan yang tepat, serta inovasi teknologi, Indonesia berpotensi menjadi pusat e-commerce paling kuat di kawasan Asia Tenggara.
Untuk kamu yang ingin terus mengikuti perkembangan ekonomi digital dan tren bisnis online terbaru, jangan lewatkan berita terkini lainnya hanya di Garap Media.
