Bencana banjir bandang atau flash flood menerjang Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, pada Senin dini hari, 5 Januari 2026. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak malam hari memicu luapan aliran air bercampur lumpur, batu, dan kayu dari kawasan perbukitan menuju permukiman warga.
Peristiwa ini menimbulkan dampak serius, mulai dari korban jiwa, kerusakan rumah, hingga terputusnya akses transportasi. Pemerintah daerah bersama aparat keamanan dan tim SAR langsung melakukan evakuasi serta penanganan darurat bagi warga terdampak.
Flash Flood Sitaro Terjang Permukiman Warga
Banjir bandang terjadi secara tiba-tiba sekitar pukul 02.30 WITA saat sebagian besar warga masih terlelap. Air bah dengan arus deras membawa material berat dari hulu sungai dan perbukitan, menghantam rumah-rumah penduduk di Pulau Siau dan sekitarnya (ANTARA News, 2026).
Sejumlah kampung dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat tertimbun material banjir. Jalan penghubung antarwilayah tertutup lumpur dan batu besar, sehingga menyulitkan proses evakuasi dan distribusi bantuan.
Korban Jiwa dan Warga Mengungsi
Berdasarkan data terbaru dari otoritas setempat, banjir bandang di Sitaro menyebabkan 14 orang meninggal dunia, puluhan warga mengalami luka-luka, dan satu orang masih dalam pencarian (TIMES Indonesia, 2026). Korban berasal dari beberapa kampung yang berada di jalur aliran banjir bandang.
Selain korban jiwa, lebih dari seratus warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman karena rumah mereka rusak berat atau dinilai tidak layak huni. Lokasi pengungsian sementara disiapkan di fasilitas umum seperti gereja dan balai desa (ANTARA News, 2026).
Status Tanggap Darurat dan Evakuasi
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi selama 14 hari guna mempercepat penanganan korban dan pemulihan wilayah terdampak (detikNews, 2026).
Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, relawan, dan tenaga medis terus melakukan pencarian korban hilang, pembersihan material banjir, serta pendataan kerusakan rumah dan fasilitas umum.
Bantuan Logistik untuk Korban Banjir
Kementerian Sosial bersama pemerintah daerah menyalurkan bantuan logistik berupa makanan siap saji, selimut, kasur, tenda, serta kebutuhan dasar lainnya. Bantuan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga pengungsi selama masa tanggap darurat berlangsung (detikNews, 2026).
Distribusi bantuan dilakukan secara bertahap mengingat kondisi geografis wilayah kepulauan dan terbatasnya akses transportasi laut pascabencana.
Tantangan Penanganan di Wilayah Kepulauan
Penanganan flash flood Sitaro menghadapi berbagai tantangan, terutama akses menuju lokasi terdampak yang masih tertutup material banjir. Selain itu, gangguan jaringan listrik dan komunikasi sempat terjadi, sehingga menyulitkan koordinasi di lapangan (ANTARA News, 2026).
Kondisi cuaca yang belum sepenuhnya membaik juga menjadi perhatian, mengingat potensi hujan susulan masih dapat memicu bencana lanjutan.
Tragedi flash flood Sitaro menjadi pengingat akan tingginya risiko bencana hidrometeorologi di wilayah kepulauan dan perbukitan. Kesiapsiagaan, sistem peringatan dini, serta tata kelola lingkungan menjadi faktor penting untuk meminimalkan dampak bencana serupa di masa depan.
Ikuti terus perkembangan berita bencana dan isu penting lainnya hanya di Garap Media. Temukan laporan mendalam, update terkini, dan informasi terpercaya untuk menambah wawasan Anda.
Referensi
