Tragedi memilukan terjadi di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di dahan pohon cengkeh pada Kamis (29/1). Peristiwa ini menyisakan duka mendalam dan memantik perhatian publik secara nasional (Detik, 2026).
Kasus tersebut menjadi sorotan luas setelah beredar dugaan bahwa keterbatasan ekonomi keluarga menjadi pemicu utama. YBS disebut tidak mampu menahan beban batin setelah permintaannya untuk membeli buku tulis dan pena tidak dapat dipenuhi oleh sang ibu yang hidup dalam kondisi serba kekurangan (ANTARA, 2026).
Kronologi Penemuan Korban
YBS ditemukan oleh warga setempat di sekitar pondok tempat ia biasa tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun. Sejak pagi hari, korban tidak terlihat beraktivitas seperti biasa dan tidak berangkat ke sekolah. Kecurigaan warga mendorong pencarian hingga akhirnya korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa (Detik Bali, 2026).
Pihak kepolisian dari Polres Ngada segera melakukan olah tempat kejadian perkara dan memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain pada tubuh korban. Peristiwa ini kemudian ditangani sebagai kasus kematian akibat gantung diri (ANTARA, 2026).
Permintaan Sederhana yang Berujung Duka
Berdasarkan keterangan kepolisian, sehari sebelum kejadian YBS sempat meminta uang kepada ibunya, MGT (47), untuk membeli buku tulis dan pena dengan nominal kurang dari Rp10.000. Namun, sang ibu yang bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan tidak memiliki uang sama sekali saat itu.
MGT diketahui merupakan seorang janda yang harus menghidupi lima orang anak. Dalam kondisi tersebut, permintaan yang tampak sederhana justru menjadi beban emosional berat bagi YBS. Untuk meringankan beban ibunya, korban bahkan memilih tinggal sementara bersama neneknya di sebuah pondok sederhana (Kompas, 2026).
Surat Perpisahan yang Menggugah Publik
Polisi yang memeriksa lokasi kejadian menemukan secarik surat tulisan tangan yang diduga kuat ditulis oleh YBS sebelum meninggal dunia. Surat itu ditujukan kepada ibu dan keluarga korban, ditulis dalam bahasa daerah setempat. Isi surat tersebut kemudian menjadi viral setelah beredar di media sosial dan dikutip media nasional.
Berikut isi terjemahan surat tersebut:
SURAT BUAT MAMA RETI
Mama saya pergi dulu.
Mama relakan saya pergi (meninggal),
Jangan menangis ya mama.
Mama saya pergi.
Tidak perlu mama menangis dan mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal mama.
Pesan yang polos namun memilukan ini menggambarkan beban emosional yang dipikul anak seusia YBS, serta menunjukkan kekosongan dukungan sosial yang dialami keluarga mereka.
Respons Pemerintah dan Perhatian Nasional
Pemerintah pusat turut menaruh perhatian serius terhadap kasus ini. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan akan mendalami latar belakang tragedi tersebut, khususnya terkait akses pendidikan dan bantuan bagi siswa dari keluarga tidak mampu di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Sementara itu, Kementerian Sosial menegaskan pentingnya penguatan pendampingan sosial dan pendataan keluarga miskin ekstrem agar bantuan pemerintah dapat tepat sasaran. Tragedi ini disebut sebagai peringatan keras bahwa negara harus hadir untuk melindungi anak-anak dari dampak kemiskinan struktural (ANTARA, 2026).
Dampak Sosial dan Refleksi Bersama
Kasus siswa SD bunuh diri di Ngada tidak dapat dilihat sebagai peristiwa tunggal semata. Tragedi ini membuka diskusi lebih luas tentang kesenjangan sosial, akses pendidikan, dan kesehatan mental anak di wilayah dengan keterbatasan ekonomi tinggi.
Banyak pihak menilai bahwa anak-anak di daerah terpencil membutuhkan perhatian lebih, tidak hanya dalam bentuk bantuan materi, tetapi juga pendampingan psikologis dan lingkungan belajar yang aman serta suportif.
Tragedi yang menimpa YBS di Ngada, NTT, menjadi pengingat pahit bahwa kemiskinan dapat berdampak sangat dalam, bahkan pada anak-anak usia sekolah dasar. Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban sekaligus masyarakat luas.
Untuk memahami lebih jauh isu sosial, pendidikan, dan kemanusiaan di Indonesia, pembaca dapat mengikuti laporan-laporan mendalam lainnya di Garap Media. Beragam berita relevan dan terkini terus kami sajikan untuk memperluas wawasan publik.
Referensi
