Musibah kebakaran besar mengguncang Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan. Peristiwa ini terjadi pada Rabu (28/1/2026) dan menyebabkan ratusan bangunan warga di Kota Karubaga hangus dilalap api.
Insiden kebakaran Tolikara tersebut menimbulkan dampak luas bagi masyarakat setempat. Meski tidak menelan korban jiwa, kerugian materiil ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah dan melumpuhkan aktivitas ekonomi warga.
Kronologi Kebakaran Tolikara
Kebakaran Tolikara terjadi di wilayah Giling Batu hingga pertengahan Kogome, Kota Karubaga. Api pertama kali terlihat dari sebuah kios milik warga sebelum dengan cepat menjalar ke bangunan lain di sekitarnya. Dalam waktu singkat, api membesar dan sulit dikendalikan.
Kepolisian menyebut kebakaran menghanguskan sekitar 100 bangunan yang terdiri dari rumah warga, kios, toko bangunan, hingga tempat usaha lainnya (ANTARA, 2026).
Kondisi permukiman yang padat serta sebagian besar bangunan berbahan semi permanen membuat api mudah menyebar. Situasi ini memperparah dampak kebakaran dan mempercepat meluasnya area terdampak.
Diduga Akibat Korsleting Listrik
Polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kebakaran. Namun, hasil pemeriksaan awal mengarah pada dugaan korsleting listrik atau hubungan arus pendek yang berasal dari salah satu kios warga.
Indikasi korsleting diperkuat dengan ditemukannya instalasi listrik yang terbakar di lokasi awal munculnya api (ANTARA, 2026).
Meski demikian, aparat kepolisian menegaskan bahwa proses penyelidikan masih berlangsung dan penyebab resmi akan disampaikan setelah pemeriksaan menyeluruh selesai.
Pemadaman Terkendala Minimnya Fasilitas
Upaya pemadaman kebakaran Tolikara berlangsung dalam kondisi serba terbatas. Wilayah tersebut belum memiliki unit pemadam kebakaran yang memadai, sehingga warga dan aparat harus mengandalkan peralatan seadanya.
Warga menggunakan genset, selang air, serta alat manual untuk memadamkan api. Aparat TNI dan Polri turut membantu proses pemadaman agar api tidak meluas ke kawasan lain (Suarapapua.com, 2026).
Selain itu, satu unit alat berat dikerahkan untuk merobohkan bangunan di sekitar titik api sebagai upaya memutus jalur penyebaran api.
Kerugian Capai Rp22 Miliar
Meski tidak ada korban jiwa, dampak ekonomi dari kebakaran ini sangat besar. Kerugian materiil akibat kebakaran Tolikara diperkirakan mencapai Rp22 miliar.
Kerugian tersebut mencakup bangunan yang terbakar, barang dagangan milik pedagang, serta peralatan usaha dan rumah tangga warga (Disway Papua, 2026; Haijakarta.id, 2026).
Banyak pedagang kecil kehilangan sumber penghasilan dan harus memulai kembali dari nol. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan pemulihan ekonomi warga dalam waktu dekat.
Dampak Sosial dan Respons Warga
Kebakaran ini menyebabkan puluhan keluarga kehilangan tempat tinggal dan tempat usaha. Sejumlah warga terpaksa mengungsi sementara ke rumah kerabat atau lokasi yang lebih aman.
Suasana kepanikan saat api melalap bangunan dalam waktu singkat. Banyak warga hanya sempat menyelamatkan diri tanpa membawa harta benda (tvOnenews.com, 2026; Detik.com, 2026).
Masyarakat berharap adanya bantuan cepat dari pemerintah daerah maupun pusat, baik berupa bantuan logistik, dana stimulan, maupun pembangunan kembali fasilitas umum dan tempat usaha.
Peristiwa kebakaran Tolikara menjadi pengingat pentingnya peningkatan infrastruktur keselamatan, terutama sistem kelistrikan dan fasilitas pemadam kebakaran di wilayah rawan bencana.
Ikuti berita nasional dan daerah lainnya hanya di Garap Media untuk mendapatkan informasi aktual, terpercaya, dan mendalam dari seluruh penjuru Indonesia.
Referensi
