Adat dan budaya Aceh dikenal kaya, unik, dan sarat dengan nilai-nilai luhur. Setiap tradisi yang diwariskan turun-temurun tidak hanya menjadi simbol identitas masyarakat Aceh, tetapi juga menyimpan makna filosofis yang mendalam.
Salah satu tradisi yang hingga kini tetap dijunjung tinggi adalah prosesi pernikahan adat. Bagi masyarakat Aceh, pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan juga penyambung tali silaturahmi antar keluarga besar.
Sama halnya dengan suku-suku lain di Nusantara, calon pengantin di Aceh diwajibkan mengikuti serangkaian adat menjelang hari pernikahan, mulai dari tahap persiapan, prosesi simbolis, hingga acara puncak yang penuh khidmat. Lalu, apa sebenarnya yang membuat pernikahan adat Aceh terasa begitu istimewa dan berbeda dari daerah lain?
Apa yang Membuat Pernikahan Adat Aceh Begitu Istimewa?
Pernikahan adat Aceh memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari tradisi daerah lain di Nusantara. Adat dan budaya Aceh yang sangat unik serta beragam, setiap tradisinya menyimpan makna dan filosofis tersendiri.
Setiap tahapannya sarat makna, sesuai dengan falsafah hidup orang Aceh: “adat bak Po Teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala, qanun bak Putroe Phang, reusam bak Laksamana”. Yang arti makna tersebut bahwa adat, hukum, aturan, dan tata cara dijalankan dengan keseimbangan.
1. Prosesi Peusijuek
Salah satu ciri khas yang tak lekang oleh waktu adalah prosesi peusijuek. Pengantin diberkati dengan taburan breuh padee (beras padi), air, dan daun pandan. Simbol ini diyakini sebagai doa keselamatan (keudeh), kesejahteraan (kamalangan), dan keberkahan hidup rumah tangga. Pepatah Aceh mengatakan: “meuseuraya bek tamita, meuseuraya that meusapat”, artinya kebersamaan adalah jalan menuju keselamatan.
(REV) 2. Pelaminan (Seuramoe)
Bermotif Khas Aceh, Pelaminan atau seuramo pengantin dihiasi dengan kain songket dan sulaman emas. Warna merah, emas, dan hijau bukan sekadar hiasan, melainkan lambang keberanian, kemakmuran, dan keharmonisan. Filosofinya, pengantin diharapkan dapat menjaga maruah keluarga besar, sesuai dengan pepatah: “meupakat bak likot, hana meurumpok bek leuh”. Makna dan filosofinya yaitu dalam kebersamaan ada kekuatan.
3. Busana Adat yang Sarat Filosofi, Busana pengantin Aceh sangat kaya simbol. Pengantin pria memakai meukeutop (mahkota), sementara pengantin wanita memakai sunting Aceh yang indah. Setiap detail bordiran emas mencerminkan doa untuk kemuliaan dan kejayaan hidup berumah tangga.
4. Tarian Tradisional sebagai Penyambutan, untuk menyambut tamu, sering ditampilkan tarian tradisional seperti Tari Ranup Lampuan. Gerakan anggun para penari perempuan menggambarkan keramahan orang Aceh dalam menerima tamu, sejalan dengan filosofi: “peumulia jamee adat geutanyoe” , yang artinya yaitu memuliakan tamu adalah adat kita.
5. Nilai Silaturahmi yang Dijunjung Tinggi, Pernikahan adat Aceh bukan sekadar penyatuan dua insan, tetapi juga perekat hubungan sosial. Seluruh masyarakat sekitar biasanya ikut bergotong royong, mulai dari memasak di dapur meulapeh hingga membantu jalannya acara. Prinsip ini sesuai dengan pepatah: “mate aneuk meupat jirat, mate adat pat tamita”. Makna dari kiasan tersebut adalah jika anak meninggal masih ada kuburnya, tetapi bila adat hilang, tidak ada lagi pengikat kehidupan.
(REV) Baca juga : Inpsirasi menikah, pernikahan adat aceh. Judulnya apa bang? Tulis judulnya dulu baru include linknya.
Pernikahan adat Aceh terdiri dari beberapa tahapan penting yang sarat makna. Persiapan dimulai dengan menentukan tanggal baik, menyiapkan pakaian adat, serta melaksanakan tradisi Meugang sebagai wujud syukur dan kebersamaan. Puncak acara adalah akad nikah, yang diiringi pembacaan doa, ijab kabul, serta penyerahan mahar sebagai simbol tanggung jawab mempelai pria. Setelah itu, digelar resepsi meriah dengan prosesi adat seperti Ulee Balang dan penampilan Tarian Ranup Lampuan oleh para gadis Aceh sebagai simbol penghormatan bagi tamu. Acara ditutup dengan makan bersama, yang mencerminkan nilai silaturahmi dan kebersamaan masyarakat.
Sebagaimana diketahui bahwa antara adat dan agama di Aceh tidak dapat dipisahkan, adat bersandar pada agama, sedangkan agama terinternalisasi dalam bentuk budaya dan tradisi masyarakat. Termasuk pernikahan yang merupakan salah satu bagian terpenting dalam adat masyarakat di Nusantara termasuk di Aceh.
Berdasarkan data dari situs inspirasinikah.com, setiap unsur dalam prosesi pernikahan adat Aceh ini memiliki filosofi mendalam yakni pakaian adat melambangkan kehormatan dan doa untuk kehidupan mulia, tradisi Meugang menjadi simbol syukur atas rezeki, dan Tarian Ranup Lampuan menggambarkan keramahan khas masyarakat Aceh.
Pernikahan adat Aceh merupakan harmoni indah antara adat istiadat, nilai agama, dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap tahapannya sarat dengan simbol dan filosofi, menjadi cerminan betapa kayanya tradisi Aceh yang layak dijaga dan diwarisi. Bagi masyarakat Aceh, pernikahan bukan sekadar seremonial, melainkan wujud nyata penghormatan terhadap nilai luhur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari.
(REV) Kesimpulan/penutup + CTA mana??
Referensi
- Samad, S. A. A., & Munawwarah, M. (2020). Adat pernikahan dan nilai-nilai Islami dalam masyarakat Aceh menurut hukum Islam. El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga, 3(2), 289–302.
- Rizki, W. F. (2020). Hukum adat di Aceh. Ulumuna: Jurnal Studi Keislaman, 6(1), 127–153.
- Inspirasinikah.com. (2023, November 15). Prosesi pernikahan adat Aceh: Tradisi, simbolisme, dan kecantikan budaya.
- Majelis Adat Aceh. (2024, Februari 2). Tradisi adat pernikahan di Aceh. https://maa.acehprov.go.id/berita/kategori/pusaka-dan-khasanah-aceh/tradisi-adat-pernikahan-di-aceh?utm_source=chatgpt.com
