Aceh dikenal bukan hanya dengan julukan Serambi Mekkah, tetapi juga sebagai tanah yang melahirkan banyak ulama dan tradisi keilmuan. Salah satu warisan intelektual yang masih dikenang hingga kini adalah Meurukon sebuah tradisi diskusi dan perdebatan ilmiah di kalangan santri dan ulama.
Tradisi ini bukan sekadar adu argumen, melainkan latihan berpikir sistematis dan beradab. Di dalam Meurukon, ilmu tidak hanya dihafal, tetapi diuji, diperdebatkan, dan dimaknai bersama. Semangat itulah yang menjadikan Meurukon sebagai warisan penting dalam pendidikan Islam tradisional di Aceh.
Asal-usul Tradisi Meurukon
Kata Meurukon berasal dari bahasa Aceh yang berarti “berdebat” atau “bertukar pandangan.” Tradisi ini tumbuh dari sistem pengajaran dayah (pesantren) di Aceh sejak masa kerajaan Islam. Dalam majelis ilmu, para santri akan beradu argumen mengenai isi kitab kuning atau pendapat ulama terdahulu.
Kegiatan ini dilakukan di bawah bimbingan seorang teungku, yang berperan sebagai penengah dan pengarah agar diskusi tetap berjalan sopan dan ilmiah. Melalui Meurukon, para santri belajar untuk tidak hanya menghafal teks, tetapi memahami konteks, berpikir logis, dan menghormati perbedaan pendapat.
Nilai Intelektual dan Spiritual
Tradisi Meurukon memiliki dua sisi yang seimbang: intelektual dan spiritual. Di satu sisi, ia melatih kecerdasan berpikir, kemampuan berargumentasi, serta ketajaman logika. Di sisi lain, Meurukon mengajarkan adab berdiskusi, seperti tidak merendahkan lawan bicara dan selalu mendahulukan niat mencari kebenaran, bukan kemenangan.
Dalam konteks sufisme, Meurukon mencerminkan perjalanan batin seorang pencari ilmu. Perdebatan bukan untuk menonjolkan diri, tetapi untuk mendekatkan hati kepada kebenaran ilahi. Ilmu menjadi sarana untuk mengenal Allah, dan setiap kata yang diucapkan menjadi bagian dari ibadah.
Peran Meurukon dalam Pendidikan Aceh
Tradisi ini telah menjadi bagian penting dari metode pengajaran di dayah-dayah Aceh. Banyak ulama besar Aceh yang lahir dari proses Meurukon yang panjang. Melalui kegiatan ini, santri terbiasa berpikir kritis, namun tetap menjaga adab dan ketawadhuan.
Kini, sebagian dayah mulai menghidupkan kembali Meurukon dalam bentuk modern, seperti forum diskusi kitab atau debat ilmiah antar-santri. Dengan cara ini, warisan keilmuan ulama Aceh tetap hidup, meski zaman terus berubah.
Baca juga: https://garapmedia.com/belajar-kitab-kuning/
Menjaga Warisan Meurukon di Era Digital
Di era digital, semangat Meurukon dapat diteruskan melalui diskusi ilmiah daring, seminar keislaman, dan forum kajian online. Namun, yang paling penting bukan sekadar medianya, melainkan menjaga ruh adab dan kejujuran ilmiah yang menjadi jiwa Meurukon.
Aceh membutuhkan generasi baru yang mampu berpikir kritis, namun tetap berakhlak dan berakar pada tradisi. Dengan menghidupkan kembali Meurukon, kita sebenarnya sedang menjaga warisan ulama agar tetap menjadi cahaya peradaban Islam di bumi Serambi Mekkah.
Penutup
Tradisi Meurukon bukan hanya tentang debat, tetapi tentang bagaimana ilmu menjadi sarana penyucian akal dan hati. Ia adalah contoh nyata bahwa Islam di Aceh tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga menumbuhkan budaya berpikir yang beradab.
Mari terus membaca dan menelusuri berbagai warisan intelektual Aceh lainnya di GARAP MEDIA, tempat kita belajar mengenal akar budaya dan spiritualitas Nusantara yang begitu kaya.
