Tidur Setelah Makan Picu GERD dan Risiko Penyakit Serius

Last Updated: 30 November 2025, 17:22

Bagikan:

Kebiasaan tidur setelah makan diam-diam bisa membuka jalan bagi gangguan asam lambung yang mengganggu kualitas hidup. Sumber gambar: Pond5/CreativeImages
Table of Contents

Tidur Setelah Makan Picu GERD dan Risiko Penyakit Serius

Kebiasaan langsung rebahan atau tidur setelah makan masih sering dilakukan banyak orang, terutama setelah makan malam. Rasa kenyang dan kantuk membuat aktivitas ini terasa nyaman dan dianggap tidak berbahaya.

Padahal, berbagai sumber medis dan media kesehatan menyebut bahwa tidur setelah makan dapat memicu refluks asam lambung, gangguan pencernaan, hingga berdampak pada kesehatan metabolik dan jantung jika dilakukan berulang kali.

Dampak Tidur Setelah Makan terhadap Kesehatan

Refluks Asam Lambung dan GERD

Tidur setelah makan membuat posisi tubuh menjadi horizontal, sehingga gravitasi tidak lagi membantu menahan asam lambung di perut. Akibatnya, asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan dan menimbulkan sensasi panas di dada atau heartburn.

Menurut Healthline (2020), kebiasaan langsung berbaring setelah makan memudahkan asam lambung naik ke kerongkongan dan meningkatkan risiko GERD jika terjadi berulang.

Gangguan Pencernaan

Selain memicu reflux, tidur setelah makan juga dapat memperlambat proses pencernaan. Makanan yang belum tercerna dengan baik akan menimbulkan rasa penuh, kembung, mual, hingga perut tidak nyaman.

Jawa Pos (2024) melaporkan bahwa berbaring terlalu cepat setelah makan dapat memicu dispepsia atau gangguan cerna fungsional, terutama pada orang yang sering makan dalam porsi besar di malam hari.

Risiko Gangguan Metabolik

Tidur setelah makan juga berpengaruh terhadap metabolisme tubuh. Saat tubuh langsung beristirahat, pembakaran kalori melambat sehingga energi dari makanan lebih mudah disimpan menjadi lemak.

Healthline (2020) menjelaskan bahwa kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan, resistensi insulin, hingga diabetes tipe 2 jika berlangsung dalam jangka panjang.

Kualitas Tidur Menurun

Meski terasa mengantuk setelah makan, tidur terlalu cepat justru dapat menurunkan kualitas tidur. Asam lambung yang naik saat tidur dapat memicu batuk, rasa panas di dada, atau terbangun di tengah malam.

Gangguan asam lambung saat tidur membuat fase tidur nyenyak menjadi lebih singkat sehingga tubuh tidak mendapatkan istirahat optimal.

Waktu Ideal antara Makan dan Tidur

Para ahli menyarankan agar seseorang menunggu setidaknya 2–3 jam setelah makan sebelum tidur. Jeda ini memberi waktu agar makanan dapat dicerna dengan baik dan risiko refluks berkurang.

Healthline (2020) juga menyarankan untuk melakukan aktivitas ringan seperti berjalan santai setelah makan agar kerja saluran cerna lebih optimal.

Kelompok yang Harus Lebih Waspada

Tidur setelah makan perlu lebih dihindari oleh orang yang memiliki riwayat asam lambung, GERD, gastritis, serta mereka yang mengonsumsi makanan tinggi lemak, pedas, dan asam.

Selain itu, orang dengan risiko obesitas, diabetes, dan gangguan jantung juga dianjurkan untuk lebih disiplin menjaga jarak waktu antara makan dan tidur.

Tidur setelah makan memang terasa nyaman, namun kebiasaan ini menyimpan risiko yang tidak bisa dianggap sepele. Mulai dari asam lambung, gangguan pencernaan, hingga masalah metabolik dapat muncul jika dilakukan terus-menerus.

Untuk mendapatkan informasi kesehatan lainnya yang berbasis data dan sumber terpercaya, pembaca dapat terus mengikuti berbagai artikel terbaru di Garap Media. Beragam topik gaya hidup sehat, nutrisi, dan kebugaran tersedia untuk membantu Anda hidup lebih sehat.

Referensi

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /