Therian Fandom: Identitas Nonmanusia di Dunia Nyata
Fenomena therian fandom telah menjadi sorotan publik dalam beberapa tahun terakhir, terutama di platform media sosial seperti TikTok dan Reddit. Komunitas ini terdiri dari individu yang mengidentifikasi diri sebagai hewan non-manusia, baik secara spiritual maupun psikologis. Mereka disebut therians, dan menganggap identitas tersebut sebagai bagian mendalam dari jati diri mereka (Furscience, n.d.).
Meskipun bagi sebagian orang konsep ini tampak tidak biasa, bagi para anggota komunitasnya, therianthropy adalah bentuk ekspresi diri yang sah dan penuh makna. Fenomena ini kerap disalahartikan atau dikaitkan dengan perilaku aneh di dunia maya, padahal di baliknya terdapat proses identitas yang kompleks dan mendalam (Bricker, 2016).
Asal-usul dan Konsep Therian Fandom
Istilah therianthropy berasal dari bahasa Yunani — therion berarti hewan liar dan anthropos berarti manusia. Konsep ini awalnya digunakan dalam konteks mitologi, menggambarkan makhluk yang bisa berganti wujud antara manusia dan hewan. Dalam konteks modern, therian fandom merujuk pada komunitas individu yang merasa memiliki keterkaitan identitas mendalam dengan hewan tertentu, baik melalui perilaku, mimpi, atau spiritualitas (ResearchGate, 2014).
Sebagian besar therians tidak mengklaim benar-benar berubah menjadi hewan secara fisik. Mereka mengekspresikan identitas tersebut melalui gerakan atau aktivitas yang meniru hewan, seperti quadrobics — olahraga berlari dengan empat kaki yang populer di kalangan komunitas ini (UNSW, 2025). Aktivitas tersebut bukan sekadar gaya hidup, melainkan bentuk koneksi simbolik antara tubuh dan identitas non-manusia.
Perbedaan Therian dengan Furry Fandom
Meski sering disamakan, therian fandom dan furry fandom memiliki perbedaan mendasar. Furry fandom lebih berfokus pada apresiasi estetika terhadap karakter hewan antropomorfik, seperti dalam seni, kostum (fursuit), atau cerita. Sementara itu, therian fandom lebih menekankan pada identitas personal dan spiritual (Furscience, n.d.).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Furscience, tidak semua furries adalah therians, dan hanya sebagian kecil therians yang terlibat aktif dalam komunitas furry. Therian lebih menekankan perasaan menjadi atau terhubung dengan hewan tertentu, bukan sekadar menyukainya. Hal ini menunjukkan adanya aspek psikologis dan eksistensial dalam identitas mereka.
Tantangan dan Persepsi Publik terhadap Therian Fandom
Komunitas therian sering menghadapi stigma sosial akibat kesalahpahaman publik. Banyak yang menilai perilaku mereka sebagai sesuatu yang aneh atau delusional, padahal penelitian menunjukkan bahwa menjadi therian tidak selalu berkaitan dengan gangguan mental (IntraSpectrum, 2023). Sebaliknya, banyak anggota komunitas menemukan kedamaian dan penerimaan diri melalui identitas mereka.
Selain itu, media sosial mempercepat penyebaran budaya therian melalui konten quadrobics dan video transformasi. Fenomena ini memicu diskusi luas tentang identitas, batas realitas, dan kebebasan berekspresi. Menurut UNSW (2025), tren ini juga memengaruhi pola kebugaran remaja dan memperlihatkan bagaimana internet membentuk budaya baru.
Therian Fandom dan Identitas Modern
Dalam konteks psikologi identitas, therian fandom dapat dipahami sebagai bentuk ekspresi keberagaman identitas manusia. Sama seperti orientasi, budaya, atau keyakinan, therianthropy mencerminkan cara individu memahami diri mereka dalam dunia yang semakin kompleks. Penelitian yang dilakukan Bricker (2016) menunjukkan bahwa banyak therians merasa lebih terhubung dengan diri mereka setelah menerima identitas non-manusia tersebut.
Sebagian praktisi terapi pun mulai mengenali bahwa memahami identitas therian dapat membantu individu mengatasi perasaan keterasingan (IntraSpectrum, 2023). Dengan demikian, komunitas ini bukan sekadar fenomena daring, melainkan cermin dari dinamika sosial dan psikologis masyarakat modern.
Fenomena therian fandom menantang cara pandang tradisional tentang identitas manusia. Di era digital, batas antara dunia nyata dan ekspresi diri menjadi semakin kabur, memungkinkan setiap orang mengeksplorasi sisi terdalam dari dirinya tanpa batasan bentuk biologis.
Meskipun sering disalahpahami, komunitas therian menunjukkan bahwa identitas adalah sesuatu yang cair dan personal. Memahami mereka bukan soal setuju atau tidak, melainkan menghargai keragaman cara manusia mengenal dirinya. Untuk mengetahui lebih banyak fenomena budaya unik lainnya, jangan lewatkan berita menarik hanya di Garap Media.
Referensi
