Teror Utang Gelap di Film RIBA Bongkar Kisah Nyata Mencekam
Film RIBA, produksi Verona Films, menjadi sorotan besar karena mengangkat tema utang, riba, dan pesugihan yang berakar dari thread viral “Getih Anak”. Film ini dijadwalkan tayang pada 4 Desember 2025 dan menarik perhatian publik sejak pengumuman resminya (Jawa Pos, 2025).
Berbeda dari karya horor lain, RIBA menawarkan pendekatan psikologis dan religi, menyoroti tekanan ekonomi serta konsekuensi moral. Hal ini membuat film semakin relevan dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia (Akurat, 2025).
Film RIBA: Latar, Tema, dan Fakta Produksi
Adaptasi Thread Viral “Getih Anak”
Cerita RIBA diadaptasi dari thread “Getih Anak” karya @mitologue yang sempat viral dengan jutaan pembaca. Thread tersebut memicu diskusi luas mengenai horor yang berakar pada pengalaman sosial dan spiritual. Verona Films akhirnya mengubah judul adaptasi film tersebut menjadi RIBA, agar lebih fokus pada isu utang dan moralitas yang menjadi inti cerita (PojokBaca, 2025).
Kru Produksi dan Pemeran Utama
Film ini disutradarai Adhe Dharmastriya, ditulis oleh Titien Wattimena, dan diproduseri Titin Suryani. Pemeran utama meliputi Ibrahim Risyad, Fanny Ghassani, Wafda Saifan, Jajang C. Noer, Kevin Danu, Emilat Morshedi, dan Andre Geovano (Jawa Pos, 2025).
Jalan Cerita dan Isu Sosial dalam RIBA
Sinopsis Cerita
RIBA mengisahkan Sugi, seorang pekerja tembakau yang gagal panen dan terjerat utang kepada juragan kejam. Dalam kondisi terdesak, sahabatnya Muji mengajak Sugi melakukan pesugihan “Getih Anak” sebagai jalan pintas. Bukan solusi yang ia dapat, melainkan teror gaib dan tekanan mental yang semakin menghancurkan keluarga (PojokBaca, 2025).
Utang, Riba, dan Pesugihan Sebagai Kritik Sosial
Film ini menyajikan horor melalui isu nyata: beban ekonomi, godaan jalan pintas, serta tekanan sosial dan spiritual. Pesan moral yang dibawanya cukup kuat, mengingatkan bahwa keputusan finansial berisiko bisa berdampak jauh lebih besar dari yang dibayangkan (Akurat, 2025).
RIBA hadir sebagai horor Indonesia yang bukan hanya menyuguhkan teror, tetapi juga kritik sosial yang kuat. Dengan kisah yang diangkat dari fenomena viral, film ini menawarkan pengalaman emosional sekaligus peringatan tentang bahaya jalan pintas dalam menghadapi masalah hidup.
Untuk kamu yang ingin mengikuti perkembangan film dan isu sosial terkini, jangan lewatkan artikel lain di Garap Media. Banyak topik menarik yang bisa memperluas wawasanmu.
Referensi
