Perkembangan kecerdasan buatan membuat chatbot AI semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya dimanfaatkan untuk mencari informasi atau membantu pekerjaan, chatbot kini juga kerap dijadikan tempat mencurahkan perasaan dan masalah pribadi. Fenomena curhat ke AI ini semakin populer karena dinilai praktis, responsif, dan tidak menghakimi (ANTARA News, 2025).
Namun, sejumlah media dan pakar kesehatan mental di Indonesia mulai menyoroti dampak psikologis dari kebiasaan tersebut. Jika dilakukan secara berlebihan, curhat ke AI dikhawatirkan dapat memengaruhi kondisi emosional dan hubungan sosial penggunanya (DetikHealth, 2025).
Fenomena Curhat ke AI di Tengah Masyarakat
Media nasional melaporkan bahwa meningkatnya penggunaan chatbot AI sebagai tempat curhat dipicu oleh rasa aman semu yang dirasakan pengguna. Chatbot dianggap selalu tersedia dan mampu merespons dengan cepat, sehingga banyak orang merasa lebih nyaman berbagi cerita dibandingkan dengan manusia (ANTARA News, 2025).
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa kenyamanan tersebut tidak selalu berdampak positif. Chatbot AI bekerja berdasarkan algoritma dan data, bukan empati atau pemahaman emosional seperti manusia (Akurat Jakarta, 2025).
Risiko Psikologis Curhat ke AI
Ketergantungan Emosional
Psikolog menilai bahwa terlalu sering curhat ke AI berpotensi menimbulkan ketergantungan emosional. Pengguna bisa merasa lebih tenang saat berbicara dengan chatbot, namun lama-kelamaan mengurangi interaksi sosial di dunia nyata (ANTARA News, 2025).
Temuan lain menunjukkan bahwa sebagian pengguna bahkan mulai lebih memilih ngobrol dengan AI dibandingkan manusia karena merasa selalu didengarkan dan tidak dihakimi (DetikHealth, 2025).
Validasi Emosi Tanpa Koreksi Realitas
Salah satu laporan media menyoroti bahaya emosional ketika chatbot terlalu sering memvalidasi perasaan pengguna tanpa memberikan sudut pandang realistis. Kondisi ini dikhawatirkan membuat pengguna terjebak dalam pola pikir tertentu tanpa solusi nyata (Akurat Jakarta, 2025). Hal ini dikhawatirkan membuat pengguna terjebak dalam pola pikir tertentu tanpa solusi nyata.
Dampak Sosial yang Perlu Diwaspadai
Isolasi Sosial
Sejumlah psikolog mengingatkan bahwa peringatan psikolog bahwa kebiasaan curhat ke AI dapat memicu isolasi sosial. Ketika seseorang lebih sering berinteraksi dengan mesin dibandingkan manusia, kemampuan bersosialisasi dan membangun relasi emosional bisa menurun (SuaraSumbar.id, 2025). Ketika seseorang lebih sering berinteraksi dengan mesin dibandingkan manusia, kemampuan bersosialisasi dan membangun relasi emosional bisa menurun.
Penundaan Mencari Bantuan Profesional
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa risiko ketika chatbot dianggap sebagai pengganti konselor atau terapis. Pengguna bisa menunda mencari bantuan profesional, padahal kondisi kesehatan mental memerlukan penanganan dari tenaga ahli (DetikHealth, 2025). Pengguna bisa menunda mencari bantuan profesional, padahal kondisi kesehatan mental memerlukan penanganan dari tenaga ahli.
Perspektif Akademik dan Edukasi
Penggunaan chatbot sebagai media curhat berada di wilayah abu-abu antara terapi virtual dan ketergantungan emosional. Tanpa pendampingan dan literasi digital yang memadai, pengguna berisiko salah memahami peran AI (Cendikia Pendidikan, 2025). Tanpa pendampingan dan literasi digital yang memadai, pengguna berisiko salah memahami peran AI.
Tips Menggunakan Chatbot AI Secara Bijak
- Jadikan chatbot AI sebagai alat bantu, bukan tempat bergantung secara emosional.
- Batasi frekuensi dan durasi curhat ke AI.
- Tetap jaga komunikasi dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar.
- Segera konsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional jika mengalami tekanan emosional berkepanjangan.
Fenomena curhat ke AI menunjukkan bagaimana teknologi semakin masuk ke ranah emosional manusia. Meski memberikan kemudahan dan kenyamanan, kebiasaan ini tetap perlu disikapi secara bijak agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan mental.
Dengan memahami risiko dan batasan teknologi, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan AI secara sehat. Ikuti terus berita dan ulasan lainnya seputar teknologi dan kesehatan mental hanya di Garap Media.
Referensi
- ANTARA News. (2025).
- Akurat Jakarta. (2025).
- Cendikia Pendidikan. (2025).
- SuaraSumbar.id. (2025).
- DetikHealth. (2025).
