Teman Playing Victim Bisa Jadi Racun Sosialmu

Last Updated: 24 May 2025, 16:35

Bagikan:

Hati-hati dengan teman yang selalu merasa jadi korban. Mereka bisa memutarbalikkan fakta, membuatmu merasa bersalah, dan perlahan meracuni lingkungan sosialmu.
Table of Contents

Waspadai! Tipe Teman Playing Victim yang Merusak Lingkungan Sosialmu

Dalam kehidupan sosial, kita pasti pernah menjumpai seseorang yang selalu merasa menjadi korban dalam setiap situasi—meski faktanya tidak selalu demikian. Orang seperti ini dikenal dengan istilah playing victim. Mereka cenderung memutarbalikkan keadaan untuk mendapatkan simpati, menghindari tanggung jawab, atau memanipulasi orang di sekitarnya. Meskipun terkesan sepele, perilaku ini sangat berbahaya jika dibiarkan, terutama jika pelakunya adalah orang terdekat seperti teman sendiri.

Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai ciri-ciri teman yang playing victim, dampaknya dalam hubungan sosial, serta cara bijak menghadapi mereka tanpa membuat diri sendiri terjebak dalam drama berkepanjangan.


Apa Itu Playing Victim?

Playing victim adalah sikap seseorang yang secara konsisten menempatkan dirinya sebagai korban, meskipun dalam kenyataannya ia memiliki andil besar dalam permasalahan yang terjadi. Menurut Psychology Today, ini adalah bentuk manipulasi psikologis yang bertujuan untuk mengontrol atau mempengaruhi orang lain lewat rasa kasihan atau rasa bersalah.

Mereka biasanya akan:

  • Menyalahkan orang lain atas kegagalannya

  • Merasa paling tersakiti meski menyakiti orang lain

  • Menghindari tanggung jawab dengan alasan “aku cuma korban”

  • Mencari pembenaran diri secara berlebihan


Ciri-Ciri Teman yang Playing Victim

Teman yang memiliki kecenderungan playing victim dapat dikenali dari beberapa ciri berikut:

Selalu Menyalahkan Orang Lain

Setiap konflik yang terjadi, mereka tidak pernah mau melihat kesalahannya sendiri. Bahkan, saat kesalahan sudah jelas di hadapan mata, mereka tetap punya “alasan” untuk merasa benar dan menjadi korban.

Sering Mengeluh dan Membesar-besarkan Masalah

Masalah kecil bisa berubah menjadi drama besar. Mereka akan terus-menerus mengeluh tentang hidup yang tidak adil, padahal sebagian masalahnya adalah hasil dari keputusan atau sikapnya sendiri.

Pandai Bermain Emosi

Mereka sangat pandai memanipulasi emosi orang lain. Dengan gaya bicara yang meyakinkan dan raut wajah menyedihkan, orang lain bisa dengan mudah terbawa kasihan—dan pada akhirnya dimanfaatkan.

Sulit Dimintai Tanggung Jawab

Ketika terjadi kesalahan bersama atau proyek gagal, mereka cepat melepaskan diri dari tanggung jawab. Kalimat favorit mereka adalah, “Aku cuma ngikut aja kok.”


Dampak Buruk Berteman dengan Playing Victim

Hubungan Jadi Tidak Sehat

Kamu akan merasa selalu menjadi “penyelamat” mereka. Padahal, mereka tidak ingin diselamatkan—mereka hanya ingin dimaklumi terus-menerus tanpa perbaikan diri.

Membuat Lingkungan Penuh Negativitas

Perilaku mereka menyedot energi emosional di lingkungan sosial. Drama demi drama akan terus muncul dan mempengaruhi produktivitas serta kenyamanan orang lain.

Merusak Citra Diri Kita

Ironisnya, teman yang playing victim bisa membentuk opini negatif tentang kita di mata orang lain. Mereka akan menyebarkan cerita versi mereka yang membuat kita terlihat seperti pelaku utama.


Cara Bijak Menghadapi Teman yang Playing Victim

Tetap Tenang dan Objektif

Jangan terpancing emosi. Saat mereka mulai bermain drama, cobalah untuk tetap logis dan jangan larut dalam cerita versi mereka.

Batasi Interaksi Secara Emosional

Bukan berarti memutus hubungan secara langsung, tapi beri batas yang jelas agar kamu tidak selalu dijadikan tempat pelarian mereka.

Tegas Namun Empatik

Sampaikan pandanganmu dengan cara yang jujur namun tidak menyakitkan. Katakan bahwa kamu peduli, tapi mereka juga perlu introspeksi.

Ajak Untuk Berkonsultasi Profesional

Jika sikap mereka sudah sangat mengganggu dan ekstrem, sarankan untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog. Ini demi kebaikan mereka dan juga lingkungan sekitar.


Teman yang suka playing victim memang bisa sangat menguras emosi dan kesabaran. Mengenali ciri-cirinya sejak awal akan membantumu menghindari dampak buruk dalam hubungan sosial. Berteman memang perlu empati, tapi jangan sampai kamu ikut tenggelam dalam drama yang tidak sehat. Ingat, menjaga kesehatan mental juga berarti menjaga jarak dari toxic behavior.

Ingin tahu lebih banyak artikel menarik dan informatif lainnya seputar psikologi, pertemanan, dan gaya hidup? Kunjungi terus Garap Media untuk berita-berita terbaru yang relevan dengan keseharianmu!

Referensi

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /