Teknologi Canggih Ungkap Pesan Cinta 2.000 Tahun di Pompeii

Last Updated: 23 February 2026, 09:33

Bagikan:

pompeii
Foto: Liputan6
Table of Contents

Para arkeolog di Pompeii, Italia, baru-baru ini mengidentifikasi pesan cinta berusia 2.000 tahun yang tersembunyi di dinding-dinding bangunan. Pesan-pesan cinta itu bisa terungkap berkat teknologi canggih selama proyek penelitian bertajuk Bruits de colouir (Rumor) yang berlangsung antara 2022-2025, tetapi baru disampaikan pada Januari 2026.

Grafiti berisi berbagai pesan cinta itu terletak di koridor yang menghubungkan distrik teater ke Via Stabiana di Taman Arkeologi Pompeii. Salah satunya merujuk pada seorang wanita bernama Erato, diikuti oleh kata “mencintai”, meskipun subjek yang dimaksud belum jelas.

Pesan Cinta yang Terungkap di Dinding Pompeii

Ada juga pesan yang berbunyi, “Aku sedang terburu-buru; hati-hati, Sava-ku, pastikan kau mencintaiku!”
“Miccio-cio-cio, ayahmu pecah perutnya saat buang air besar; lihatlah dia, Miccio!”
“Methe, (budak) Cominia, Atella, mencintai Cresto di dalam hatinya. Semoga Venus Pompeii berpihak kepada mereka berdua dan semoga mereka selalu hidup harmonis,” bunyi pesan lain dari grafiti di tembok yang digali lebih dari 230 tahun yang lalu.

Dinding itu dilewati jutaan pengunjung setiap tahun sehingga arkeolog tidak berharap ada informasi baru atau cerita lebih lanjut yang bisa diungkap. Faktanya, dengan metodologi mutakhir, hampir 300 prasasti muncul, termasuk beberapa yang telah lama diketahui (200) dan yang baru diidentifikasi (79), termasuk gambar gladiator di dinding.

Hasil riset yang digagas Louis Autin dan Éloïse Letellier-Taillefer dari Sorbonne serta Marie-Adeline Le Guennec dari Universitas Québec di Montreal, bekerja sama dengan Taman Arkeologi Pompeii, dipublikasikan dalam Jurnal Elektronik Penggalian Pompeii. Penelitian ini menghasilkan reinterpretasi komprehensif bukti grafiti di koridor, menggunakan pendekatan multidisiplin yang memadukan epigrafi, arkeologi, filologi, dan humaniora digital.

Metodologi yang Digunakan untuk Mengungkap Pesan Cinta

Metodologi ini memanfaatkan grid virtual untuk mendokumentasikan hubungan spasial dan tematik antar prasasti. Selain itu, RTI (Reflectance Transformation Imaging) digunakan untuk mengambil gambar objek dari berbagai arah pada kedua dinding koridor.

Instrumen-instrumen ini merevolusi analisis teks dan gambar, sekaligus memastikan pelestarian digital dari koleksi bukti yang sangat rapuh.

“Teknologi adalah kunci yang memberikan cahaya baru pada dunia kuno dan kita perlu menginformasikan kepada publik tentang penemuan-penemuan baru ini,” kata Gabriel Zuchtriegel, Direktur Taman Pompeii.

“Kami sedang mengerjakan proyek yang dirancang untuk melindungi dan meningkatkan pemahaman tentang dunia kuno dari grafiti tersebut, yang jumlahnya lebih dari 10.000 di seluruh Pompeii; warisan yang sangat besar. Hanya penggunaan teknologi yang dapat menjamin masa depan bagi semua kenangan kehidupan yang dijalani di Pompeii ini.”

Rencana Penggunaan Teknologi Canggih dan Perlindungan Kawasan Konservasi

Zuchtriegel menyatakan pihaknya saat ini sedang mengembangkan platform 3D yang menggabungkan fotogrametri, data RTI, dan metadata epigrafis. Platform ini akan memudahkan visualisasi, anotasi, dan analisis grafiti secara lebih lanjut.

Pihaknya juga sedang merancang sistem atap untuk koridor guna melindungi plester prasasti dan meningkatkan pengalaman tur pengunjung. Kompleks prasasti penting di Pompeii terkonsentrasi di satu area dan ditemukan pada 1794.

Untuk mengendalikan overtourism, Taman Arkeologi Pompeii membatasi jumlah turis yang dapat mengunjungi situs terkenal di Italia tersebut, hanya 20 ribu orang per hari. Pengaturan juga meliputi pembagian slot waktu berbeda selama puncak musim panas. Pejabat mengatakan bahwa mereka juga bakal memberlakukan tiket personal yang berisi nama lengkap pengunjung mulai 15 November 2024.

Pengendalian Jumlah Pengunjung di Pompeii

Pembatasan ini diterapkan setelah lebih dari 36.000 orang mengunjungi Pompeii dalam satu hari pada Minggu gratis sebelumnya. Zuchtriegel menyebut rata-rata pengunjung kini 15.000-20.000 per hari, dan batas harian baru mencegah lonjakan turis yang tidak terkendali.

“Kami sedang mengerjakan serangkaian proyek untuk mengurangi tekanan manusia di situs ini, yang dapat menimbulkan risiko baik bagi pengunjung maupun warisan yang sangat unik dan rapuh ini,” kata Zuchtriegel.

Mereka juga menyiapkan skema menarik wisatawan ke situs kuno lainnya yang terhubung dengan Pompeii, seperti Stabiae, Oplontis, dan Boscoreale, dengan layanan bus antar-jemput gratis. Langkah-langkah ini bagian dari strategi bertajuk Greater Pompeii.

“Kami menargetkan pariwisata yang lambat, berkelanjutan, menyenangkan, dan tidak massal, dan terutama tersebar luas di seluruh wilayah sekitar situs UNESCO, yang penuh dengan permata budaya untuk ditemukan,” kata Zuchtriegel.

Penutup

Penemuan pesan cinta berusia 2.000 tahun di Pompeii menunjukkan bagaimana teknologi canggih mampu membuka sisi pribadi dan emosional masyarakat Romawi kuno. Grafiti ini menjadi bukti nyata bahwa cinta, humor, dan harapan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak ribuan tahun lalu.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar arkeologi, budaya, sejarah, konservasi, pariwisata, teknologi, penemuan kuno, grafiti, Pompeii, dan warisan budaya hanya di Garap Media.

Referensi:

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /