Tari Topeng Klana – Salah satu tarian tradisional dari Cirebon, Jawa Barat. Tarian ini dikenal juga sebagai Topeng Rawana, mengacu pada tokoh Rahwana dari cerita Ramayana. Meski terkadang dianggap sama, dalang topeng membedakan keduanya melalui kostum: Rahwana memakai badong atau praba pada kepala dan punggung, sedangkan Topeng Klana tidak.
Tarian ini terkenal dengan gerakan yang bertenaga dan ekspresif, menggambarkan emosi manusia yang sedang marah atau tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Selain sebagai hiburan, tarian ini memiliki nilai edukasi budaya yang penting bagi masyarakat Cirebon.
Sejarah Tari Topeng Klana
Tarian ini berkembang dari tradisi tari Topeng di Cirebon. Tari Topeng sendiri merupakan kesenian rakyat yang hidup di desa-desa, dengan beberapa versi menyebutkan bahwa tari Topeng berasal dari Jawa Timur dan menyebar ke Cirebon pada masa Kerajaan Jenggala abad ke-10 hingga ke-11.
Pada abad ke-17, kebijakan pemerintah Hindia Belanda membatasi kesenian di Keraton Cirebon. Banyak seniman topeng pun kembali ke kampung halaman dan mengembangkan kesenian Topeng secara organik di masyarakat. Sejak saat itu, tari Topeng tidak lagi terbatas pada lingkungan keraton.
Seiring penyebaran agama Islam di Cirebon, Sultan Cirebon Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati bekerja sama dengan Sunan Kalijaga menggunakan tari Topeng dan enam kesenian lainnya sebagai media dakwah. Seni ini dirancang agar tetap estetis dan dapat dinikmati di lingkungan keraton (Kompas, 2022).
Makna Tari Topeng Klana
Tarian ini menggambarkan seseorang yang marah, serakah, dan sulit mengendalikan hawa nafsunya. Topeng ini biasanya berwarna merah, simbol emosi yang meledak-ledak. Klana termasuk dalam Panca Wanda atau lima rupa, menampilkan karakter yang berbeda untuk menyampaikan berbagai aspek kehidupan manusia.
Tarian ini mengajarkan pesan moral penting tentang pengendalian diri dan konsekuensi dari hawa nafsu. Jadi, pertunjukan Klana bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana edukasi budaya yang mendalam (Kompas, 2022; Wikipedia).
Gerakan Tari Topeng Klana
Gerakan tarian ini sangat bertenaga dan ekspresif. Penari menampilkan aksi seperti marah, tertawa terbahak-bahak, mabuk, atau gandrung. Energi tarian ini membuat Klana lebih digemari dibandingkan jenis tari Topeng lainnya.
Musik pengiringnya menggunakan lagu Gonjing, dilanjutkan dengan Sarung Ilang, sementara adegan tertentu di lakon Klana Bandopati diiringi Gonjing Pangebat. Kombinasi gerak dan musik ini menciptakan pengalaman pertunjukan yang memukau penonton (Kompas, 2022; Wikipedia).
Peran Tari Topeng Klana dalam Budaya Cirebon
Tarian ini memainkan peran penting dalam pelestarian budaya Cirebon. Selain sebagai hiburan, tarian ini berfungsi sebagai media edukasi budaya dan penyebaran nilai moral. Pertunjukan Klana juga menarik wisatawan dan memperkuat identitas budaya lokal.
Komunitas lokal terus melestarikan tari ini melalui pelatihan, workshop, dan pertunjukan rutin, memastikan generasi muda tetap mengenal dan mempraktikkan seni tradisional Cirebon (Wikipedia).
Baca juga: Tari Bungong Jeumpa: Sejarah, Makna, Lirik, dan Gerakan
Penutup
Tari Topeng Klana menyajikan kombinasi sejarah, makna, dan gerakan yang penuh energi. Menonton pertunjukan ini memberi pengalaman budaya yang mendalam dan hiburan yang memukau.
Jangan lewatkan berita menarik lainnya tentang seni dan budaya di Garap Media. Temukan informasi tentang tarian tradisional Indonesia dan kearifan lokal lainnya untuk memperkaya wawasan Anda.
Referensi:
- Kompas. (2022). Tari Topeng Klana: Sejarah, Asal, dan Gerakan. Retrieved from https://bandung.kompas.com/read/2022/12/10/182108178/tari-topeng-kelana-sejarah-asal-dan-gerakan
- Wikipedia. Tari Topeng Cirebon. Retrieved from https://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Topeng_Cirebon
