Meta Deskripsi: Legenda Alue Naga menceritakan kisah Sultan Meurah dan Renggali yang menemukan naga raksasa tertidur di Bukit Lamnyong. Pergerakan naga menuju laut kemudian membentuk aliran sungai yang kini dikenal sebagai Gampong Alue Naga di Banda Aceh.
Di ujung barat Pulau Sumatra, terdapat sebuah kawasan ikonik di Banda Aceh bernama Alue Naga. Nama ini bukan hanya sekadar penunjuk lokasi, melainkan menyimpan cerita rakyat yang penuh misteri dan keajaiban. Di balik nama tersebut, hidup sebuah legenda tua tentang naga raksasa yang konon pernah muncul dari dasar sungai.
Dalam masa lampau, ketika wilayah Aceh masih diselimuti hutan-hutan lebat dan sungai yang jernih, masyarakat hidup tenang dan bersahaja di tepi sebuah aliran air kecil yang disebut alue—kata dalam bahasa Aceh yang berarti “sungai kecil.” Meski tampak tenang, sungai itu dipercaya memiliki kekuatan gaib yang dijaga oleh makhluk misterius.
Konon di tanah Aceh tersebut hiduplah seorang sultan bijaksana bernama Sultan Meurah yang berasal dari Aceh Selatan. Sang sultan ini juga dikenal sebagai pemimpin yang adil dan kerap melakukan perjalanan ke pelosok desa untuk mendengar langsung keluhan rakyatnya.
Suatu hari, Sultan Meurah menerima laporan mengenai keresahan rakyat di salah satu wilayah kekuasaannya. Untuk memastikan kebenaran kabar tersebut, sang Sultan segera mengunjungi daerah di pinggiran Kuta Raja guna mendengar langsung keluhan masyarakat. Saat mengunjungi sebuah desa, Sultan Meurah menerima banyak aduan dari penduduk. Mereka mengeluhkan tentang hilangnya hewan ternak secara misterius. Salah seorang warga berkata, “Tuanku Sultan, sapi saya lenyap semalam. Beberapa hari sebelumnya, dua kambing milik tetangga saya juga raib tanpa jejak.”
Setibanya kembali di istana, Sultan Meurah memanggil sahabat dekatnya, Renggali, yang merupakan putra Sultan Alam sekaligus keponakan Raja Linge Muda. Sang Sultan kemudian menugaskan Renggali untuk menyelidiki sumber keresahan rakyat dan mencari tahu penyebab utama peristiwa yang meresahkan tersebut.
Tak hanya itu, warga lainnya mengaku kerap merasakan guncangan seperti gempa kecil yang diduga berasal dari sebuah bukit di dekat desa.
Suatu hari, cuaca berubah drastis. Langit mendung dan angin dingin berhembus kencang. Tiba-tiba, dari dasar sungai, muncul riak besar disertai gelembung air mendidih. Tanpa diduga, seekor naga raksasa berwarna hijau keemasan muncul ke permukaan. Matanya bersinar merah menyala, sisiknya berkilau seperti logam, membuat penduduk setempat ketakutan.
Alih-alih menyerang, sang naga hanya berputar pelan di atas air, mengeluarkan suara lirih menyerupai doa, lalu menghilang kembali ke dasar sungai. Kejadian itu meninggalkan jejak yang luar biasa. Air sungai menjadi jernih, tanah di sekitarnya menjadi subur, dan hasil tangkapan ikan pun melimpah.
Masyarakat percaya bahwa naga tersebut adalah penjaga alam, utusan dari dunia gaib yang datang membawa berkah dan membersihkan alam dari energi negatif. Sejak saat itu, lokasi tersebut dikenal dengan nama Alue Naga, yang berarti “Sungai Naga”.
Menurut cerita turun-temurun, dahulu kala, wilayah Alue Naga hanyalah sebuah kampung nelayan yang tenang. Masyarakatnya hidup bersahaja di tepi sungai yang airnya jernih dan mengalir pelan. Namun sungai itu diyakini memiliki “penjaga”, yaitu seekor naga gaib yang tak terlihat oleh mata manusia biasa.
Walaupun kisah tentang Naga hanya termasuk dalam ranah legenda rakyat, terdapat bukti sejarah yang memperkuat asal-usul kawasan Alue Naga. Berdasarkan catatan sejarah, wilayah ini dahulu merupakan bagian dari Kerajaan Aceh Darussalam.
Kerajaan Aceh Darussalam dikenal sebagai kerajaan maritim yang berpengaruh besar di kawasan Asia Tenggara. Pada masa kejayaannya, Alue Naga berfungsi sebagai salah satu pelabuhan penting tempat bersandarnya kapal-kapal dagang dari berbagai negeri.
Hingga kini, legenda Alue Naga masih diceritakan dari generasi ke generasi. Cerita ini tidak hanya memperkaya budaya Aceh, tetapi juga menjadi pengingat bahwa alam memiliki kekuatan yang harus dijaga dan dihormati. Legenda Alue Naga pun menjadi bagian penting dari kearifan lokal dan warisan budaya masyarakat Banda Aceh. Asal usul Alue Naga masih diselimuti oleh misteri dan legenda. Namun, baik cerita rakyat maupun fakta sejarah menunjukkan bahwa Alue Naga memiliki sejarah panjang dan kaya akan budaya. Nama Alue Naga telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Desa Tibang dan kawasan sekitarnya, dan terus dilestarikan hingga saat ini serta dijadikan destinasi wisata.
Baca juga : Misteri Palung Mariana Rahasia Terdalam di Bumi
Wahana Wisata Alue Naga Banda Aceh: Harmoni Alam dan Budaya di Ujung Barat Nusantara dari sebuah Legenda Tangisan Naga
Terletak di Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Aceh, Indonesia, kawasan ini merupakan salah satu destinasi wisata menarik yang memadukan keindahan alam dengan kekayaan budaya lokal. Wahana Wisata Alue Naga menjadi pilihan ideal bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana pesisir Aceh sambil mengenal lebih dekat nilai-nilai budaya dan kearifan masyarakat setempat.
Berada tidak jauh dari pusat Kota Banda Aceh, tempat ini menawarkan pengalaman wisata yang menyegarkan dengan pemandangan laut, hamparan pasir, serta aktivitas warga nelayan yang masih lestari hingga kini. Namun, lebih dari sekadar tempat rekreasi, Wahana Wisata Alue Naga memiliki misi penting—pelestarian alam, pemberdayaan komunitas lokal, dan pendidikan budaya bagi pengunjung.
Wisata ini dirancang sebagai ruang interaktif di mana wisatawan dapat belajar sekaligus berpartisipasi dalam kegiatan ramah lingkungan, seperti penanaman mangrove, pengenalan ekosistem pesisir, hingga kegiatan budaya khas Aceh. Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat menikmati wisata kuliner dengan cita rasa laut yang autentik, hasil tangkapan nelayan Alue Naga yang segar setiap harinya.
Dengan atmosfer yang tenang dan pemandangan yang menawan, tempat ini cocok dijadikan tujuan liburan bersama keluarga maupun sahabat. Wahana Wisata Alue Naga tidak hanya menawarkan keindahan panorama alam, tetapi juga pengalaman edukatif dan spiritual yang memperkaya wawasan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
Bagi Anda yang ingin berkunjung, Wahana Wisata Alue Naga dapat diakses dengan mudah dari pusat kota Banda Aceh. Nikmati petualangan budaya, eksplorasi alam, serta kehangatan masyarakat lokal yang selalu menyambut dengan senyum dan keramahan khas Aceh. Untuk informasi lebih lanjut, pengunjung dapat menghubungi pihak pengelola melalui kontak resmi yang tersedia di lokasi.
Referensi:
Acehsiana. (2025, 16 Oktober). Legenda Alue Naga. Acehsiana.com. Diakses pada 16 Oktober 2025, dari https://acehsiana.com/legenda-alue-naga/
Budaya Indonesia. (2025, 16 Oktober). Legenda Alue Naga. Budaya-Indonesia.org. Diakses pada 16 Oktober 2025, dari https://budaya-indonesia.org/7-Legenda-Alue-Naga
Destinasipopuler. (2025, 17 Oktober). Asal Usul Alue Naga: Menelusuri Jejak Sejarah di Desa Tibang, Aceh Besar. Destinasipopuler.com. Diakses pada 17 Oktober 2025, dari https://destinasipopuler.com/asal-usul-alue-naga-menelusuri-jejak-sejarah-di-desa-tibang-aceh-besar/
Kumparan. (2025, 17 Oktober). Hikmah Cerita Alue Naga, Legenda dari Tanah Aceh. Kumparan.com. Diakses pada 17 Oktober 2025, dari https://kumparan.com/ragam-info/hikmah-cerita-alue-naga-legenda-dari-tanah-aceh-23Ssz9H2HBE
