Suara Patah Hati yang Estetik: Fenomena Cursive Singing

Last Updated: 9 June 2025, 17:52

Bagikan:

Table of Contents

Suara Patah Hati yang Estetik: Fenomena Cursive Singing

Dalam dunia musik yang terus berkembang, tren vokal dan gaya menyanyi pun ikut berevolusi. Belakangan ini, muncul sebuah gaya menyanyi yang unik dan menjadi perbincangan hangat di media sosial, khususnya TikTok dan Instagram Reels. Gaya ini dikenal dengan nama “cursive singing”, sebuah istilah yang menggambarkan cara penyanyi mengucapkan lirik secara melengkung, berputar, bahkan terdengar seolah-olah seperti sedang menangis atau melafalkan kata dengan aksen asing.

Tren ini bukan hanya menciptakan nuansa emosional yang kuat, tetapi juga memicu pro dan kontra dari berbagai kalangan—dari musisi profesional hingga penikmat musik kasual. Artikel ini akan mengupas secara lengkap apa itu cursive nyanyi, dari asal-usulnya hingga dampaknya dalam industri musik saat ini.


Apa Itu Cursive?

Pengertian Cursive 

“Cursive” secara harfiah berarti tulisan sambung. Dalam konteks musik, istilah ini digunakan secara metaforis untuk menggambarkan gaya menyanyi yang seolah “mengalir” seperti tulisan sambung—melodi dan lirik dibawakan secara berliku-liku dan cenderung emosional. Gaya ini sering kali membuat kata terdengar lebih melankolis, intim, atau bahkan tidak jelas.

Contoh penyanyi yang sering diasosiasikan dengan gaya ini antara lain Billie Eilish, Halsey, dan Lorde. Di Indonesia sendiri, tren ini mulai populer melalui berbagai cover lagu dan konten viral di TikTok.


Ciri Khas Cursive 

Pelafalan Kata yang Dibengkokkan

Salah satu ciri paling kentara dari cursive nyanyi adalah bagaimana penyanyi “memelintir” pelafalan kata. Misalnya, kata “love” bisa terdengar menjadi “lahhhve”, atau “you” menjadi “yuhh”. Teknik ini menciptakan nuansa patah hati dan ketidaksempurnaan yang justru terasa artistik.

Intonasi dan Dinamika Suara yang Fluktuatif

Vokal dalam cursive nyanyi sering kali naik-turun dengan cepat, menambahkan sentuhan dramatis dan emosional. Ini berbeda dengan teknik vokal konvensional yang cenderung lebih bersih dan stabil.

Penggunaan Head Voice dan Falsetto

Penyanyi cursive biasanya mengandalkan suara kepala (head voice) dan falsetto untuk menciptakan kesan rapuh dan lembut. Teknik ini membuat lagu terdengar lebih menyayat hati dan cocok untuk genre seperti indie pop, lo-fi, atau alternative.


Mengapa Cursive Jadi Viral?

Autentisitas dan Emosi

Di era digital, pendengar musik semakin menginginkan keaslian. Gaya menyanyi cursive dianggap lebih jujur dan “raw” dibanding vokal yang terlalu teknik. Ini menjadi daya tarik utama bagi Gen Z dan milenial.

Dipopulerkan oleh Media Sosial

Platform seperti TikTok menjadi ladang subur bagi munculnya tren musik. Banyak konten kreator yang menggunakan gaya cursive dalam video mereka karena dianggap lebih estetik dan “relatable”. Bahkan, tak sedikit yang memparodikan gaya ini, membuatnya semakin viral.

Daya Tarik Estetika ‘Sad Girl’ atau ‘Soft Boi’

Estetika visual dan musikal yang berkaitan dengan kesedihan, kerentanan, dan kejujuran kini sedang populer. Cursive nyanyi mendukung citra ini secara sempurna, menjadikannya bukan hanya tren vokal, tetapi bagian dari gaya hidup dan ekspresi diri.


Pro dan Kontra Gaya Cursive 

Kritik terhadap Ketidakjelasan Lirik

Beberapa kritikus musik menyebutkan bahwa gaya ini membuat lirik sulit dipahami dan mengorbankan kejelasan demi gaya. Hal ini dianggap bisa menurunkan kualitas storytelling dalam lagu.

Apresiasi terhadap Ekspresi Artistik

Di sisi lain, pendukung gaya ini menilai bahwa cursive nyanyi adalah bentuk kebebasan berekspresi dan eksplorasi artistik. Gaya ini memungkinkan musisi untuk menyampaikan emosi yang lebih dalam dan tidak terikat oleh aturan teknik vokal klasik.


Gaya menyanyi cursive singing mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, namun tidak bisa dipungkiri bahwa tren ini telah memberikan warna baru dalam dunia musik. Dengan daya tariknya yang emosional, autentik, dan sangat estetis di era konten visual, cursive nyanyi tampaknya akan terus bertahan—setidaknya untuk beberapa tahun ke depan.

Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang fenomena-fenomena viral lainnya di dunia musik, tren internet, dan budaya pop yang sedang hype, jangan lewatkan berita terkini dan menarik hanya di Garap Media!

Lampiran Referensi

  1. Vox.
  2. Rolling Stone.
  3. TikTok Trends Indonesia. 
  4. YouTube

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /