Strategi bisnis Pop Mart berhasil membuatnya dikenal hampir di seluruh belahan dunia. Salah satu produk Pop Mart yang memiliki penjualan melejit yaitu labubu. Bahkan di negara Indonesia produknya banyak dijadikan koleksi penggemar mainan. Bagaimana bisa ya Pop Mart meraih semua ini? Untuk tahu lebih banyak simak sampai akhir ya!
Berkenalan dengan Pop Mart
Pop Mart adalah perusahaan mainan dari Tiongkok yang berdiri tahun 2010. Perusahaan yang didirikan oleh Wang Ning ini berhasil masuk ke bursa saham Hongkong di tahun 2020. Konsep paling utama dalam desain mainan ini adalah berbentuk blindbox. Penjualan produk di daerah Tiongkok rata-rata dibanderol dengan harga 59-69 RMB. Keberhasilan di negara asal mendorong Pop Mart melakukan ekspansi ke pasar global, bahkan hingga saat ini Pop Mart telah memasuki 23 negara dan wilayah.
Strategi Bisnis Pop Mart
Berkolaborasi dengan Seniman Handal
Kolaborasi dengan seniman handal di negaranya membuat Pop Mart memiliki desain yang berbeda dari yang lain. Karakter unik dan menarik terus berusaha dihadirkan dalam edisi terbaru. Tiap karakter memiliki narasi tersendiri yang dapat menambah daya tarik.
Pop Mart Memanfaatkan Strategi Kelangkaan
Pop Mart selalu menawarkan desain karakter dalam edisi terbatas. Akibatnya, memicu rasa takut ketinggalan (FOMO) oleh konsumen. Mereka segera membeli karakter dengan edisi terbatas sebelum kehabisan. Pihak Pop Mart juga membatasi pembelian demi pemerataan produk terutama di kalangan kolektor.
Strategi Bisnis Pop Mart melalui Blinbox
Konsep kejutan tanpa mengetahui isi di dalamnya menciptakan ketertarikan bagi konsumen. Harapan akan mendapatkan sesuatu yang tak terduga mengundang rasa antusias saat membuka kotak. Untuk mendapatkan karakter edisi terbatas atau yang diinginkan, banyak orang yang melakukan pembelian berulang.
Fanbase Sebagai Wadah Sesama Kolektor
Disamping menjual produk, popmart juga mewadahi pembelinya dalam fanbase. Dengan dalih akan mendapatkan informasi ketika meluncurkan edisi terbatas membuat konsumen tertarik bergabung dengan fanbase. Event yang ditawarkan membuat orang di dalamnya terikat secara emosional dengan brand.
Strategi Bisnis Pop Mart dalam Menentukan Target Market
Pop Mart menyasar target market perempuan berusia 15-30 tahun. Di usia ini biasanya memiliki daya beli yang cukup tinggi. Pemilihan produk bukan hanya dilihat dari kualitas, melainkan dari sisi desain, branding, serta untuk mendapatkan kepuasan diri.
Memanfaatkan Media Sosial dengan Maksimal
Brand ini selalu berusaha aktif di sosial media, sehingga kedekatan dengan penggemarnya semakin erat. Pop Mart juga kerap melakukan kerja sama dengan influencer untuk menaikan brand awareness.
Simak Juga : Kenapa Brand Besar Suka Rebranding? Simak Alasannya!
Menjaga Kualitas Produk
Kualitas produk Pop Mart dinilai bagus meskipun dapat dibeli dengan harga terjangkau. Desain mainan dengan detail rapi memberikan nilai plus pada brand ini dan layak untuk dijadikan koleksi.
Strategi Bisnis Muncul di Waktu yang Tepat
Brand ini menampakan diri ke permukaan menggunakan perhitungan waktu yang tepat. Saat sedang menjamurnya tren koleksi mainan Pop Mart muncul dengan membawakan keunikan dan eksklusivitas, sehingga dapat menarik minat pembeli.
Kesimpulan
Strategi Bisnis yang digunakan Pop Mart dipertimbangkan dengan matang. Oleh sebab itu Pop Mart berhasil menjual produknya hingga ke tingkat global. Bahkan, Pop Mart bukan hanya dipandang sebagai tren namun juga memenuhi gaya hidup konsumen.
Referensi
- Mazaya. (2024, 17 Oktober). Populernya Labubu dan bisnis Pop Mart yang mendunia. First Media. https://www.firstmedia.com/article/populernya-labubu-dan-bisnis-pop-mart-yang-mendunia
- Purwadhika. (2024, 5 November). Misteri dibalik koleksi terbatas Pop Mart: Strategi jenius atau kebetulan belaka? Purwadhika. https://purwadhika.com/blog/misteri-dibalik-koleksi-terbatas-pop-mart-strategi-jenius-atau-kebetulan-belaka
- Susana, A. D., Putri, M. N. Y., & Permana, E. (2025). Strategi marketing Pop Mart dalam membentuk perilaku pembelian impulsif. Jurnal Ilmiah Ekonomi, Akuntansi, dan Pajak, 2(2), 190–211. https://doi.org/10.61132/jieap.v2i2.1054
