Snapping Turtle Ancaman Invasif pada Ekosistem Perairan di Berbagai Negara
Snapping turtle atau Chelydra serpentina merupakan spesies kura-kura air tawar yang berasal dari Amerika Utara. Spesies ini dikenal memiliki rahang kuat dan perilaku agresif sehingga mampu memangsa berbagai jenis hewan air.
Populasinya di luar habitat asli menimbulkan kekhawatiran besar. Snapping turtle memiliki daya adaptasi tinggi, yang membuatnya berpotensi mendominasi lingkungan baru dan mengganggu keseimbangan alam.
Mengenal Snapping Turtle
Snapping turtle memiliki tubuh besar, kepala besar, dan rahang kuat yang dapat mematahkan tulang atau jari manusia (BC Invasives, 2024). Satwa ini dapat hidup lebih dari 30 tahun serta berkembang biak cukup cepat, sehingga ketika masuk ke ekosistem baru, populasinya mudah meningkat.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Ecology and Evolution mencatat bahwa potensi penyebaran snapping turtle di wilayah Asia meningkat seiring perubahan iklim (Mu et al., 2023). Hal ini menambah urgensi pemantauan terhadap spesies tersebut.
Snapping Turtle sebagai Spesies Invasif
Dampak terhadap Keanekaragaman Hayati
Sebagai predator oportunistik, snapping turtle memangsa ikan, amfibi, bahkan burung air yang sangat penting untuk ekosistem perairan (BC Invasives, 2024). Keberadaannya terbukti mengurangi populasi spesies asli di beberapa wilayah seperti Kanada dan Amerika Serikat.
Selain itu, studi di Korea Selatan menemukan individu snapping turtle di alam liar yang menimbulkan kekhawatiran terkait potensi berkembangnya populasi invasif baru (Koo et al., 2020).
Ancaman bagi Kegiatan Ekonomi dan Keselamatan
Snapping turtle dapat merusak jaring ikan dan mengurangi hasil tangkapan nelayan. Gigitannya pun berbahaya bagi manusia jika terjadi kontak langsung.
Penyebab Penyebaran Snapping Turtle
Perdagangan hewan peliharaan eksotik menjadi penyebab utama penyebaran spesies invasif ke berbagai wilayah dunia. Studi menyebutkan banyak kura-kura asing yang dilepas ke alam liar oleh pemilik yang tidak mampu merawatnya lagi (Oryx-Cambridge, 2020).
Hal tersebut menjadi ancaman nyata. Ketika satu spesies asing masuk ke lingkungan baru tanpa predator alami, risiko penguasaan ekosistem meningkat drastis.
Upaya Pencegahan dan Pengendalian
Beberapa negara telah memperketat regulasi impor spesies eksotik termasuk snapping turtle. Pemerintah Kanada dan beberapa negara bagian Amerika bahkan melakukan eradikasi pada wilayah yang telah terinvasi (DFW Oregon, 2022).
Strategi utama yang terus digerakkan yaitu pelarangan pelepasan hewan peliharaan eksotik ke alam liar. Edukasi kepada penghobi reptil menjadi kunci penting agar masyarakat memahami konsekuensi ekologis dari perilaku tersebut.
Snapping turtle merupakan ancaman nyata bagi ekosistem perairan di berbagai negara. Keberadaannya harus diantisipasi dengan serius sebelum populasinya berkembang pesat dan sulit dikendalikan.
Ikuti terus berbagai informasi lingkungan dan edukasi konservasi lainnya hanya di Garap Media sebagai langkah mendukung kelestarian alam di masa depan.
Referensi
