Pengertian
Slap Fighting atau Slap Contest adalah olahraga unik yang semakin populer di berbagai negara. Dalam kompetisi ini, dua orang bergantian menampar lawannya hingga salah satu peserta tak mampu melanjutkan. Meski tampak sederhana, olahraga ini memiliki sejarah panjang dan kontroversial, terutama terkait aspek keamanan dan etikanya. Artikel ini akan mengulas sejarah Slap Fighting, perkembangannya, serta dampaknya di dunia olahraga.
Sejarah Slap
1. Awal Mula Slap Fighting
Slap Fighting bukanlah fenomena baru. Bentuk awalnya bisa ditelusuri hingga kompetisi kekuatan dan ketahanan fisik yang sudah ada sejak abad ke-19. Tradisi adu ketahanan tubuh seperti gulat sumo di Jepang dan kompetisi daya tahan di Rusia sering kali melibatkan pukulan atau tamparan sebagai bagian dari tantangan. Namun, format kompetisi khusus tamparan baru mulai dikenal dalam beberapa dekade terakhir.
2. Munculnya Kompetisi Formal
Popularitas Slap Fighting meningkat drastis pada awal 2000-an di Rusia dan beberapa negara Eropa Timur. Para atlet bertanding dalam kompetisi tidak resmi yang sering kali diadakan di pusat kebugaran atau bar. Pada tahun 2010-an, video-video pertarungan ini mulai beredar di internet dan menarik perhatian publik global.
Pada 2019, Vasily Kamotsky, seorang petani Rusia dengan tubuh kekar, menjadi ikon Slap Fighting setelah videonya menampar lawan hingga terjungkal viral di media sosial. Kesuksesan video ini mendorong berkembangnya turnamen Slap Fighting yang lebih terorganisir.
3. Peningkatan Popularitas di Amerika Serikat
Melihat potensi besarnya, Dana White, presiden UFC, mendirikan Power Slap League pada 2022 untuk membawa Slap Fighting ke tingkat profesional di Amerika Serikat. Turnamen ini mendapatkan lisensi resmi dari Nevada State Athletic Commission, meski menuai kritik dari berbagai pihak terkait keamanan para peserta.
Regulasi dan Aturan
1. Format Pertandingan
Dalam pertandingan resmi, dua peserta berdiri berhadapan di meja khusus dan bergantian menampar lawannya. Aturan dasar meliputi:
- Setiap peserta memiliki giliran untuk menampar dan menerima tamparan.
- Tidak diperbolehkan menyerang area sensitif seperti mata, telinga, atau tenggorokan.
- Wasit mengawasi pertandingan untuk memastikan aturan dipatuhi.
2. Sistem Penilaian
Skor diberikan berdasarkan kekuatan dan akurasi tamparan. Jika salah satu peserta tidak mampu melanjutkan setelah beberapa ronde, lawannya dinyatakan menang. Ada juga sistem KO (knockout) jika peserta langsung tumbang akibat tamparan.
3. Kritik dan Kekhawatiran
Meskipun telah memiliki aturan, banyak pakar kesehatan mengecam olahraga ini karena risiko cedera serius seperti gegar otak, kerusakan saraf, dan cedera wajah permanen. American Academy of Neurology bahkan menyebut Slap Fighting sebagai olahraga dengan risiko neurologis yang tinggi.
Dengan semakin banyaknya turnamen yang disiarkan di platform digital dan televisi, masa depan Slap Fighting masih diperdebatkan. Di satu sisi, olahraga ini semakin menarik banyak penggemar, tetapi di sisi lain, desakan untuk meningkatkan perlindungan bagi atlet terus meningkat. Beberapa negara bahkan mulai mempertimbangkan untuk melarang kompetisi ini secara resmi.
Slap Fighting adalah fenomena baru yang menarik perhatian dunia dengan kombinasi kekuatan dan ketahanan fisik. Namun, kontroversinya juga tidak bisa diabaikan. Akankah olahraga ini bertahan lama atau hanya menjadi tren sementara? Untuk berita lebih lengkap mengenai dunia olahraga dan fenomena menarik lainnya, kunjungi Garap Media sekarang juga!
Referensi:
- “Slap Fighting: The Rise of a Brutal Sport” – The New York Times
- “How Dana White’s Power Slap League Is Shaping the Future of Combat Sports” – ESPN
- “Medical Experts Warn Against the Dangers of Slap Fighting” – BBC Sports
- Youtube : Detektif Aldo
