Di tengah arus modernisasi yang kian deras, banyak tradisi lama perlahan memudar dari kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah Seumapa, sebuah tradisi Aceh yang begitu halus dan sarat makna. Seumapa bukan hanya rangkaian kata, melainkan cerminan adab dan budi pekerti yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur bangsa Aceh.
Makna dan Asal Usul Seumapa
Kata Seumapa berasal dari bahasa Aceh yang berarti menyapa atau berbalas pantun. Tradisi ini biasanya dilakukan saat dua pihak bertemu dalam suasana adat, seperti penyambutan tamu, upacara pernikahan, atau acara silaturahmi. Di masa lalu, Seumapa menjadi pembuka percakapan penuh kehalusan, di mana tuan rumah dan tamu saling berpantun dengan bahasa yang indah, sopan, dan penuh hormat.
Misalnya, saat rombongan mempelai pria tiba di rumah mempelai wanita, mereka tidak langsung masuk. Seorang wakil akan “menyapa” dari luar dengan pantun pembuka. Dari dalam, pihak keluarga perempuan menjawab dengan pantun balasan yang sarat makna. Begitulah Seumapa, ibarat tarian kata yang menuntun adab dan rasa.
Nilai Adab dalam Seumapa
Lebih dari sekadar hiburan, Seumapa mengandung ajaran moral yang dalam. Di dalamnya tersirat nilai kesopanan, penghormatan, dan kelembutan tutur kata. Setiap kalimat yang diucapkan bukan sekadar pantun, tetapi doa dan nasihat untuk kebaikan.
Tradisi ini juga menjadi media untuk melatih kecerdasan bahasa, kehalusan budi, dan kemampuan berpikir cepat. Seorang yang pandai Seumapa dianggap berilmu, beradab, dan berjiwa halus kualitas yang sangat dihargai dalam masyarakat Aceh.
Seumapa dalam Kehidupan Masyarakat Dulu
Pada masa dahulu, hampir setiap acara adat di Aceh tidak lepas dari Seumapa. Ia menjadi tanda penghormatan sekaligus pembuka suasana. Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari, Seumapa bisa dilakukan ketika seseorang berkunjung ke rumah kerabat atau tokoh masyarakat.
Anak-anak muda diajarkan pantun Seumapa oleh orang tua mereka sebagai bentuk pendidikan karakter. Dari sana mereka belajar bagaimana cara berbicara sopan, menghormati tamu, dan menyampaikan maksud dengan santun.
Baca juga: https://maa.acehprov.go.id/berita/kategori/adat-istiadat/indahnya-adat-seumapa-aceh
Tradisi yang Mulai Memudar
Namun kini, Seumapa mulai jarang dijumpai. Modernisasi dan gaya hidup serba cepat membuat generasi muda lebih akrab dengan bahasa singkat di media sosial daripada pantun berbalas. Banyak yang bahkan tidak tahu lagi bagaimana bentuk Seumapa yang sebenarnya.
Di beberapa gampong (desa), masih ada masyarakat yang berusaha menjaga tradisi ini. Mereka menampilkan Seumapa dalam acara adat, festival budaya, dan pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah. Namun, tanpa dukungan luas, dikhawatirkan tradisi ini hanya akan menjadi kenangan di buku sejarah.
Menjaga Warisan, Menyemai Adab
Seumapa bukan sekadar pantun, tetapi pelajaran hidup. Ia mengajarkan bagaimana berbahasa dengan santun, menghargai orang lain, dan mengekspresikan perasaan tanpa menyakiti. Nilai-nilai seperti inilah yang menjadi inti dari adab Islam yang melekat kuat dalam budaya Aceh.
Melestarikan Seumapa berarti menjaga jati diri bangsa. Melalui Seumapa, generasi muda dapat belajar bahwa dalam setiap kata tersimpan nilai hormat dan kasih sayang. Di tengah zaman yang serba cepat dan ringkas, Seumapa mengingatkan kita untuk kembali pada kelembutan tutur dan keindahan akhlak.
Baca juga: https://garapmedia.com/peusijuek-doa-yang-menetes-lembut-dalam-budaya-aceh/
Penutup
Aceh dikenal bukan hanya karena sejarahnya yang gemilang, tetapi juga karena adab dan budayanya yang luhur. Seumapa adalah bagian dari kekayaan itu warisan yang tak ternilai.
Mari kita hidupkan kembali Seumapa di rumah, di sekolah, dan di setiap acara adat. Sebab, di balik pantun yang lembut itu, tersimpan ruh keislaman dan keindahan budi yang menjadi ciri khas masyarakat Aceh sejati. Untuk mengetahui berita dan inspirasi lain seputar kehidupan spiritual dan sosial, baca berita menarik lainnya di Garap Media.
