Setengah Juta Tiket China–Jepang Hangus Gara-Gara Konflik Diplomatik
Ketegangan hubungan bilateral antara China dan Jepang semakin meningkat setelah pernyataan kontroversial dari pejabat Jepang mengenai isu Taiwan. Dampaknya sangat cepat terasa di sektor transportasi udara dan pariwisata, terutama setelah pemerintah China mengeluarkan imbauan agar warganya menunda perjalanan ke Jepang (Detik, 2025).
Dalam waktu singkat, imbauan tersebut memicu gelombang pembatalan tiket penerbangan ke Jepang. Media lokal Indonesia seperti Detik dan Liputan6 mencatat bahwa hampir 500.000 tiket dibatalkan hanya dalam beberapa hari. Situasi ini memicu kekhawatiran industri penerbangan dan pariwisata Jepang menjelang musim liburan akhir tahun.
Gelombang Pembatalan Tiket (tiket China Jepang)
Setengah Juta Tiket Hangus
Menurut laporan Detik (2025), pembatalan tiket mencapai sekitar 491.000 dalam rentang waktu tiga hari setelah imbauan dikeluarkan. Liputan6 (2025) juga mengonfirmasi total estimasi 500.000 tiket yang dibatalkan karena meningkatnya ketegangan diplomatik. Pembatalan ini tidak hanya mencakup wisatawan biasa, tetapi juga pelaku bisnis dan perjalanan keluarga.
Maskapai Ramai-Ramai Beri Refund
Maskapai besar di China memberikan refund penuh dan fleksibilitas perubahan jadwal sebagai respons terhadap lonjakan pembatalan. Agen perjalanan besar juga menghentikan penjualan paket tur ke Jepang dan menutup layanan terkait pengurusan visa, sebagaimana dilaporkan oleh Detik (2025).
Penyebab Utama Ketegangan Diplomatik
Pernyataan Jepang soal Taiwan
Polemik bermula dari pernyataan pejabat Jepang yang menyinggung kemungkinan respons militer jika terjadi eskalasi konflik di Taiwan. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari Beijing dan dianggap sebagai intervensi terhadap urusan internal China (Liputan6, 2025).
Selain imbauan perjalanan, sejumlah acara budaya, pertukaran akademik, hingga agenda perjalanan karyawan BUMN di China juga dibatasi.
Dampak Ekonomi pada Jepang
Pariwisata Guncang
China merupakan salah satu penyumbang wisatawan terbesar Jepang. Dalam publikasi Detik (2025), disebutkan bahwa 7,49 juta wisatawan China mengunjungi Jepang sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Dengan pembatalan besar ini, sektor perhotelan, retail, dan transportasi lokal diperkirakan mengalami kerugian signifikan.
Prediksi Pemulihan Lambat
Pelaku industri memperkirakan pemulihan akan berjalan lambat jika eskalasi politik tidak segera mereda. Situasi ini semakin sulit karena momentum akhir tahun biasanya menjadi periode puncak wisatawan China
Gelombang pembatalan tiket China Jepang tidak hanya menjadi persoalan logistik perjalanan, tetapi menunjukkan betapa rapuhnya sektor pariwisata terhadap gejolak politik. Konflik diplomatik yang terus memanas berpotensi memberikan dampak jangka panjang bila tidak segera diselesaikan.
Ikuti terus informasi terbaru terkait dinamika hubungan internasional, pariwisata, dan kebijakan global lainnya hanya di Garap Media. Baca juga berita lain yang relevan agar mendapatkan gambaran lebih luas mengenai situasi kawasan Asia Timur.
Referensi
