Semarang Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas

Last Updated: 8 February 2026, 09:19

Bagikan:

pengelolaan sampah
Foto: Liputan6
Table of Contents

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus memperkuat komitmennya terhadap pengelolaan sampah berbasis komunitas, salah satunya dengan pembangunan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Bugen, Tlogosari Wetan. TPS Bugen dirancang tidak hanya sebagai lokasi pembuangan sampah sementara, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan gerakan sadar lingkungan bagi masyarakat setempat.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, TPS Bugen berbeda dengan TPS lainnya dan menjadi simbol kebersamaan warga.

“TPS Tlogosari Wetan bukan sekadar fasilitas, tetapi simbol kebersamaan kita. Dengan TPS ini, warga dapat memilah sampah dari sumbernya sehingga volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA) dapat dikurangi,” katanya.

TPS Bugen juga menjadi salah satu dari sedikit TPS yang dibangun tanpa penolakan warga dan dijadikan sebagai “pilot project” TPS percontohan Kota Semarang.

TPS Bugen: TPS Lebih dari Tempat Buang Sampah

Bugen dikembangkan sebagai pusat edukasi dan gerakan sadar lingkungan. Warga diajak untuk memilah sampah sejak rumah agar pengelolaan sampah lebih efisien. Wali Kota Agustina menekankan pentingnya lokasi TPS yang diterima masyarakat.

“Kalau TPS di pinggir jalan dibilang jelek. Di tengah permukiman juga diprotes. Tapi setiap orang menghasilkan sampah. Mau dibuang ke mana, kalau tidak ada TPS?” katanya.

Selain sebagai titik buang, TPS Bugen juga akan menjadi pusat budidaya maggot Black Soldier Fly untuk mengolah sampah organik, bekerja sama dengan tokoh masyarakat, jejaring lingkungan hidup, dan akademisi.

Revitalisasi TPS sebagai Pusat Ekonomi Sirkular

Agustina menekankan pentingnya sinergi TPS dengan sumber produksi limbah pangan, termasuk dapur besar SPPG dan program MBG. Sampah organik dipilah sejak awal dan disalurkan sebagai pakan maggot, sehingga volume sampah berkurang dan bernilai ekonomis.

“Kalau kita ingin perubahan dalam budaya bersih kota, prosesnya memang harus dimulai dari TPS. TPS ini harus hidup secara ekonomi, memberi manfaat bagi yang mengelola, dan berdampak bagi lingkungan,” katanya.

Dengan menjadikan TPS sebagai pusat ekonomi sirkular, pengelola sampah mendapatkan insentif ekonomi yang layak, sekaligus menciptakan lingkungan perkotaan lebih sehat dan bebas dari tumpukan limbah.

Urgensi Manajemen Sampah dari Hulu ke Hilir

Tantangan pengelolaan sampah di Semarang masih pelik, dengan timbulan harian lebih dari 1.200 ton. Hanya sebagian kecil yang dikelola menggunakan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) atau melalui sistem pengumpulan formal. Sisa sampah yang tidak terkelola sering berakhir di saluran air dan sungai, menyebabkan genangan dan banjir, terutama di Tlogosari. Pemerintah daerah terus mengawal TPS percontohan melalui pendampingan intensif dan sosialisasi berkelanjutan kepada warga.

“Program ini harus menjadi inspirasi lintas kelurahan, karena kota bersih dimulai dari rumah kita sendiri,” pungkas Wali Kota Agustina.

Kesadaran kolektif dan partisipasi aktif masyarakat dari rumah tangga menjadi kunci keberhasilan manajemen sampah kota.

Penutup

TPS Bugen menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis komunitas yang menggabungkan edukasi, inovasi, dan nilai ekonomi. Transformasi TPS ini dapat memberi manfaat lingkungan sekaligus ekonomi dan diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain, dengan kesadaran warga sebagai kunci kota yang bersih dan sehat.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar semarang, pengelolaan sampah, tps bugen, lingkungan, ekonomi sirkular, maggot, budidaya limbah hanya di Garap Media.

Referensi:

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /