Self Reward
Di tengah tekanan tinggi hidup di era digital seperti tuntutan akademik, ekspektasi karier, dan perbandingan di media sosial, banyak anak muda kini mencari cara untuk menjaga kesehatan mental mereka. Salah satunya melalui self reward: memberi penghargaan kecil kepada diri sendiri sebagai bentuk apresiasi internal. Lantas, bagaimana praktik sederhana ini bisa menjadi alat jitu Gen Z menjaga keseimbangan jiwa?
Apa Itu Self Reward?
Self reward adalah tindakan memberikan hadiah atau penghargaan pada diri sendiri setelah melewati usaha atau pencapaian. Self reward bukan sekadar kemewahan, melainkan kebutuhan emosional yang membantu mempertahankan keseimbangan mental.
Siapa yang Melakukan Self Reward?
Kelompok paling gencar menerapkan konsep ini adalah Gen Z. Di masa tumbuh mereka yang sudah sangat digital, penghargaan dari orang lain kadang tak selalu muncul, sehingga mereka memilih memberi apresiasi sendiri sebagai bentuk dukungan batin. Budaya ini tergambar dalam tulisan Kompasiana bahwa self reward kini menjadi bagian dari identitas emosional Gen Z.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Self Reward?
Tidak perlu menunggu pencapaian besar: self reward dapat diterapkan setiap kali kamu berhasil melewati tantangan kecil, menyelesaikan tugas, melewati hari berat, atau mencapai target pribadi. Menghargai diri bisa kapan saja, tak harus dalam momen spektakuler.
Di Mana Self Reward Dilakukan?
Self reward bisa terjadi di mana pun: dirumah menyendiri, nonton film, membaca buku. Diluar rumah pergi ke cafe, jalan-jalan ringan, bertemu teman.
Platform digital juga berperan: Gen Z sering berbagi momen self reward di media sosial, sebagai refleksi dan pengakuan diri.
Mengapa Self Reward Membantu Jaga Kesehatan Mental?
1. Meredakan stres & mencegah burnout
Ketika pikiran dan tubuh lelah, menghentikan sejenak aktivitas dan memberi waktu rehat bisa membantu memulihkan energi mental.
2. Meningkatkan motivasi & rasa dihargai
Menurut Garap Media, otak melepaskan hormon dopamin saat kita memberi penghargaan pada diri sendiri, yang memicu semangat untuk melangkah lebih jauh.
3. Membangun hubungan positif dengan diri sendiri
Dengan self reward, kita belajar menghargai proses dan usaha, bukan hanya hasil akhir. Hal ini penting agar tidak terlalu keras pada diri sendiri.
4. Menguatkan identitas & harga diri
Bagi banyak Gen Z, penghargaan eksternal mungkin kurang hadir. Self reward menjadi cara untuk mengatakan: “Aku layak dihargai.” Tulisan Kompasiana menyebut self reward sebagai cara merayakan pencapaian pribadi yang cocok untuk menjaga keseimbangan hidup.
Bagaimana Cara Melakukan Self Reward yang Sehat?
- Tetapkan batas atau anggaran: agar tidak berlebihan, buat batasan pengeluaran atau frekuensi reward agar tetap realistis dan tidak membawa stres finansial.
- Fokus ke pengalaman, bukan benda: self reward tak harus barang mahal. Waktu berkualitas (me time, olahraga ringan, journaling) bisa jauh lebih bermakna.
- Hindari impulsif buying: jangan biarkan self reward jadi pembenaran untuk konsumsi tanpa kontrol. Artikel dari Kompasiana memperingatkan fenomena “boros berkedok self-reward” sebagai hal yang harus diwaspadai.
- Konsekuensi & evaluasi: jika kamu merasa mood menurun atau keuangan terganggu setelah melakukan reward, evaluasi cara dan frekuensi yang kamu lakukan.
Penutup
Self reward bukan sekadar tren kekinian, tapi bisa menjadi alat ampuh untuk menjaga kesehatan mental Gen Z. Dengan memberi ruang apresiasi pada diri sendiri, sekecil apa pun kita menyadari bahwa perjalanan hidup layak dirayakan.
Baca juga versi lengkap dan artikel terkait hanya di Garap Media — di sana ada panduan sederhana bagaimana self reward bisa bikin hidup lebih bahagia.
