Fenomena film zombie kembali mencuri perhatian di Indonesia dengan rilisnya film terbaru berjudul “Abadi Nan Jaya”. Film ini menegaskan bahwa kisah mayat hidup tak pernah kehilangan daya tarik.
Akar Mitologis
Bibit pengetahuan zombie berasal dari Afrika, di mana penduduk asli Gabon dan Kongo percaya pada roh mati (ndzumbi atau nzambi). Keyakinan ini menyebar melalui perdagangan budak Atlantik pada tahun 1500-an ke Karibia, paling terkenal di Haiti (Saint-Domingue) sehingga makna awal zombie bukan pemakan otak, melainkan proyeksi kesengsaraan budak Afrika yang membayangkan diri mereka dipenjara dalam tubuh selamanya.
Setelah Revolusi Haiti (1804), mitos ini berintegrasi ke dalam agama Voodoo, di mana bokor (pendeta/penyihir) mengklaim menciptakan dan mengendalikan zombie sebagai budak pribadi (mindless slave).
Era Sinema Awal
Kisah-kisah zombie mulai memasuki budaya Amerika setelah dibawa ke AS oleh pasukan Amerika Serikat selama pendudukan Haiti (1915-1934). Cerita-cerita ini kemudian diubah menjadi majalah fiksi picisan (pulp fiction) dan dongeng horor skala kecil. Tonggak sinema pertama adalah film White Zombie (1932) yang memperkenalkan konsep zombie Voodoo ke penonton Amerika. Pada masa ini, zombie digambarkan sebagai sosok yang tragis, tubuh tanpa jiwa, ceroboh, kaku, dan lambat, yang digunakan sebagai pekerja gratis.
Baca Juga: Kisah Atalanta, Pahlawan Wanita Hebat yang Sering Dilupakan
Revolusi Romero
Konsep zombie mengalami perubahan total dengan Night of the Living Dead (1968) karya George A. Romero. Film ini mengubah konsep zombie dari budak yang dikendalikan menjadi mayat hidup yang bangkit sendiri dan haus daging/otak (ghoul/flesh-eater). Secara visual, zombie Romero menunjukkan tanda-tanda pembusukan, kulit pucat, dan gerakan kaku-lambat. Zombie Romero (Dawn of the Dead, 1978) sering menjadi alegori atau kritik terhadap konsumerisme, ketegangan rasial, atau kapitalisme Amerika.
Evolusi Modern
Konsep zombie terus berevolusi menuju era fast-zombie yang lincah dan agresif (misalnya, 28 Days Later, 2002). Zombie dijelaskan melalui sains fiksi seperti virus, jamur, atau wabah global, yang menyebabkan pembengkakan gerombolan apokaliptik. Fenomena ini didominasi oleh video game (seperti Resident Evil dan The Last of Us) dan serial TV (The Walking Dead) yang mendefinisikan ulang zombie untuk generasi baru.
Dampak Budaya dan Ironi
Terdapat ironi tragis antara zombie Haiti—yang merupakan horor dehumanisasi dan penolakan perbudakan—dengan zombie modern yang telah menjadi simbol dan fantasi survivalism. Zombie saat ini berfungsi sebagai cerminan ketakutan kolektif modern, mulai dari pandemi, runtuhnya tatanan sosial, hingga krisis identitas.
Penutup
Mempelajari sejarah, zombie, horror dan Sinema adalah memahami ketakutan kolektif masyarakat modern. Dari ritual Voodoo yang nyata hingga infeksi global fiksi, zombie akan terus menjadi cerminan dari ancaman yang tak terlihat.
