Sayur Babanci: Kuliner Betawi Langka Penuh Sejarah dan Rempah
Sayur babanci merupakan kuliner khas Betawi yang semakin sulit ditemukan di Jakarta. Hidangan ini dikenal dengan cita rasa gurih dan aroma rempah yang kuat, namun uniknya, tidak mengandung sayuran seperti umumnya hidangan berkuah. Makanan tradisional ini menjadi simbol keberagaman budaya Betawi yang lahir dari perpaduan unsur Arab, Tionghoa, dan Melayu (Antara, 2024).
Dahulu, sayur babanci disajikan pada momen-momen istimewa seperti Idul Fitri atau perayaan keluarga besar. Kini, hanya segelintir masyarakat Betawi yang masih mempertahankan resep aslinya karena bahan-bahan rempahnya semakin sulit ditemukan (Kemdikbud, 2024).
Asal-usul dan Filosofi Sayur Babanci
Nama babanci diyakini berasal dari gabungan kata “babah” dan “enci”, yang melambangkan perpaduan budaya peranakan Betawi-Tionghoa. Ada juga versi yang menyebut bahwa istilah babanci muncul karena hidangan ini tidak bisa dikategorikan secara jelas — bukan sayur, bukan gulai, dan bukan soto, sehingga disebut “galau” (Antara, 2016).
Sayur babanci dulunya merupakan hidangan mewah yang hanya dihidangkan oleh keluarga Betawi berada. Filosofi di baliknya menggambarkan nilai kebersamaan, di mana seluruh keluarga terlibat dalam proses memasak yang panjang dan rumit. Setiap bahan memiliki makna simbolik, mencerminkan kekayaan alam dan keberagaman masyarakat Betawi (Kompas, 2016).
Bahan dan Cita Rasa Khas Sayur Babanci
Meski disebut sayur, hidangan ini sebenarnya berisi daging sapi bagian kepala, kelapa muda, dan santan kental sebagai bahan utama. Terdapat sekitar 21 jenis rempah yang digunakan, di antaranya bawang merah, kemiri, kapulaga, kunyit, jahe, lempuyang, dan kedaung. Semua bumbu tersebut dihaluskan lalu dimasak perlahan hingga mengeluarkan aroma wangi yang khas (Antara, 2024).
Proses memasaknya memakan waktu lama agar bumbu benar-benar meresap. Kuahnya berwarna kekuningan kemerahan dengan tekstur kental menyerupai gulai, namun rasanya berbeda karena perpaduan gurih, pedas, dan sedikit asam dari asam jawa. Cita rasanya menggugah selera dan menjadi bukti keahlian masyarakat Betawi dalam meracik rempah (Kemdikbud, 2024).
Fungsi Sosial dan Kelangkaan Sayur Babanci
Sayur babanci dulunya menjadi menu wajib saat Lebaran, Idul Adha, dan hajatan besar di lingkungan Betawi. Namun kini, keberadaannya semakin jarang karena beberapa jenis rempah seperti kedaung dan lempuyang mulai sulit diperoleh di pasar Jakarta. Selain itu, proses memasak yang memerlukan waktu berjam-jam membuatnya tidak praktis untuk kehidupan modern (Antara, 2024).
Beberapa restoran Betawi di kawasan Setu Babakan dan Kota Tua masih mencoba melestarikan hidangan ini. Bahkan, dalam Festival Kuliner Betawi yang digelar setiap tahun, sayur babanci kerap menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal maupun mancanegara (Kemdikbud, 2024).
Sayur Babanci dalam Identitas Budaya Betawi
Lebih dari sekadar hidangan, sayur babanci adalah simbol identitas dan sejarah panjang akulturasi budaya di Jakarta. Setiap rempah mencerminkan keberagaman dan kearifan lokal masyarakat Betawi. Pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan telah menetapkannya sebagai bagian dari warisan budaya tak benda yang perlu dijaga kelestariannya (Kemdikbud, 2024).
Para ahli gastronomi menilai bahwa pelestarian sayur babanci menjadi contoh bagaimana kuliner tradisional bisa tetap hidup di tengah arus globalisasi. Dengan menggali nilai-nilai budaya di baliknya, generasi muda diharapkan dapat mengenali dan menghargai kekayaan kuliner lokal (Kompas, 2024).
Sayur babanci tidak hanya menawarkan kelezatan rasa, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga akar budaya. Melalui hidangan ini, masyarakat Betawi mengajarkan arti kebersamaan dan warisan kuliner yang sarat makna sejarah.
Melestarikan sayur babanci berarti menjaga identitas budaya Betawi agar tidak hilang di tengah modernisasi. Mari dukung upaya pelestarian kuliner tradisional Indonesia dengan terus membaca berita budaya dan kuliner Nusantara hanya di Garap Media.
Referensi
