Samudra Pasai: Cahaya Islam yang Tak Pernah Padam

Last Updated: 31 October 2025, 17:46

Bagikan:

Foto: https://www.rctiplus.com/
Table of Contents

Sejarah Nusantara mencatat, di ujung utara Pulau Sumatra pernah berdiri sebuah negeri yang menjadi pintu masuk cahaya Islam ke Asia Tenggara yaitu Samudra Pasai.
Negeri ini bukan sekadar kerajaan, tetapi mercusuar ilmu dan iman yang memantulkan sinarnya hingga ke seluruh dunia Melayu.

Didirikan sekitar abad ke-13, Samudra Pasai menjadi titik temu antara dakwah dan perdagangan. Di pelabuhannya, para saudagar Arab, Gujarat, dan Tiongkok bertemu dengan ulama, penyair, dan cendekia Aceh. Dari sinilah peradaban Islam tumbuh dan membentuk wajah keislaman Nusantara yang damai, berakhlak, dan berperadaban.


Awal Berdirinya Samudra Pasai

Kerajaan Samudra Pasai didirikan oleh Sultan Malik Al-Saleh pada tahun 1267 M. Berdirinya kerajaan ini menandai awal sejarah Islam di Indonesia, baik secara politik maupun sosial.
Sultan Malik Al-Saleh dikenal bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi juga pembaharu yang menyatukan masyarakat pesisir dalam semangat Islam.

Letak strategisnya di pesisir Aceh Utara menjadikan Pasai tumbuh pesat sebagai pusat perdagangan internasional. Para pedagang Muslim membawa rempah, sutra, serta ilmu pengetahuan. Islam pun tidak hanya menjadi agama, tetapi fondasi moral dan kebudayaan masyarakat.


Samudra Pasai sebagai Pusat Ilmu dan Dakwah

Pada masa keemasan, Samudra Pasai dikenal sebagai negeri para ulama dan penuntut ilmu. Bahasa Arab dan Melayu dijadikan bahasa ilmu dan dakwah, sementara masjid dan surau berfungsi sebagai pusat pendidikan dan peradaban.

Menariknya, Pasai juga telah mencetak uang emas dirham sendiri, bukti kemandirian ekonomi yang berlandaskan syariat Islam.
Dari negeri ini lahir banyak ulama besar yang kemudian menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara melalui jalur perdagangan dan kebudayaan  dengan pendekatan damai dan penuh hikmah.


Nilai Pendidikan dari Sejarah Samudra Pasai

Kisah Samudra Pasai menyimpan nilai pendidikan yang tinggi. Ia mengajarkan bahwa kemajuan sejati lahir dari perpaduan iman, ilmu, dan akhlak pemimpin.
Dalam konteks pendidikan masa kini, sejarah Pasai dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tumbuh menjadi insan yang religius, kreatif, dan terbuka terhadap perbedaan.

Di sekolah, kisah ini dapat dikaitkan dengan pelajaran SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), IPS, atau Projek P5 tema “Kearifan Lokal.”
Dari Pasai, kita belajar bahwa identitas keislaman dan keterbukaan terhadap dunia dapat berjalan beriringan.

Baca juga: https://garapmedia.com/tradisi-meurukon-jejak-diskusi-ilmiah-di-aceh/


Warisan yang Terus Hidup

Jejak Samudra Pasai masih dapat disaksikan hingga kini. Makam Sultan Malik Al-Saleh di Geudong dan reruntuhan istana di Lhokseumawe menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu.
Namun, warisan terpenting dari Pasai bukanlah batu atau emas, melainkan semangat ilmu dan dakwah yang terus menyala.

Generasi Aceh dan Indonesia hari ini memikul tanggung jawab untuk merawat sejarah dan nilai-nilai keislaman ini, agar cahaya peradaban Pasai tetap menerangi zaman.


Penutup

Samudra Pasai adalah kisah tentang cahaya yang tak pernah padam — cahaya ilmu, iman, dan peradaban.
Dari tanah Aceh inilah Islam tumbuh damai, berpadu dengan budaya, dan menyinari seluruh Nusantara.
Menelusuri Pasai berarti menelusuri akar jati diri bangsa: di mana dakwah bukan sekadar kata, melainkan peradaban yang hidup.

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /