Salmon Candy Viral dari Alaska, Camilan Ikan Manis yang Bikin Orang Penasaran
Salmon candy kembali ramai diperbincangkan di media sosial Indonesia. Banyak konten menampilkan ikan salmon yang diolah menyerupai permen manis dengan tampilan tidak biasa.
Fenomena ini menimbulkan rasa penasaran publik. Benarkah salmon candy merupakan makanan tradisional, atau hanya tren kuliner sesaat yang viral? Faktanya, camilan ini memang berasal dari Alaska dan telah lama diproduksi secara komersial. Namun, versi rumahan yang beredar memicu kekhawatiran soal keamanan pangan bila prosesnya tidak sesuai standar.
Mengenal Salmon Candy Khas Alaska
Salmon candy adalah salmon yang dipotong memanjang dan diasinkan ringan melalui proses brining. Ikan kemudian dilapisi gula atau glaze manis sebelum diasap hingga bertekstur kenyal seperti jerky. Produk ini diproduksi secara komersial oleh beberapa perusahaan seafood Alaska, termasuk Alaskan Pride Seafoods yang memasarkan “Smoked Salmon Candy” sebagai camilan siap santap (Alaskan Pride Seafoods, 2024).
Produsen Big Alaska Seafood juga menjelaskan bahwa salmon candy dibuat dari salmon liar jenis King Salmon. Ikan diasap menggunakan kayu alder atau cherry melalui metode pengasapan panas (hot smoked). Teknik ini menghasilkan tekstur yang lembut, rasa manis ringan, dan aroma asap khas (Big Alaska Seafood, 2024).
Proses Produksi yang Aman
Dalam skala industri, produksi salmon candy dilakukan melalui tahapan yang terkontrol, mulai dari pemilihan bahan segar, brining dengan rasio garam tertentu, penambahan pemanis alami (brown sugar atau maple glaze), hingga pengasapan pada suhu aman sesuai standar pangan.
Metode inilah yang memastikan kandungan bakteri patogen terkendali serta ikan matang sempurna. Tanpa pemrosesan sesuai standar, ikan yang hanya dimarinasi manis tanpa pengasapan matang berisiko mengandung mikroba berbahaya.
Viral Versi Rumahan dan Risiko Kesehatan
Berbeda dengan metode industri, salmon candy rumahan yang viral sering kali hanya mengandalkan curing gula dan penyimpanan dingin tanpa pemanasan optimal. ANTARA menyoroti bahwa proses seperti ini berisiko bila tidak disertai pemanasan matang serta sanitasi yang memadai (ANTARA, 2024).
Menurut ANTARA, ikan mentah dapat membawa bakteri seperti Listeria monocytogenes maupun parasit jika pengolahannya tidak tepat. Karena itu, masyarakat disarankan menghindari konsumsi salmon candy dari sumber tidak jelas atau hasil eksperimen rumahan tanpa standar keamanan pangan yang teruji.
Kandungan Gizi Salmon Candy
Secara alami, salmon mengandung protein tinggi, omega‑3, vitamin D, dan selenium. Dalam produk salmon candy komersial, sebagian besar nutrisi ini masih terjaga karena ikan tetap melalui proses pengasapan, bukan digoreng atau direbus lama (Acme Smoked Fish, 2024).
Namun, penambahan gula meningkatkan kadar kalori dan natrium. Karena itu, salmon candy tetap dikategorikan sebagai camilan, bukan menu konsumsi harian.
Popularitas Global dan Minat Pasar
Salmon candy tidak hanya dijual di toko oleh‑oleh Alaska, tapi juga diekspor secara daring ke berbagai negara. Produk ini dipasarkan sebagai kombinasi camilan sehat berbasis protein laut dan rasa unik yang berbeda dari snack konvensional.
Kehadiran salmon candy di pasar global membuktikan bahwa kuliner tradisional bisa naik kelas menjadi produk komersial modern, asalkan diolah sesuai standar kualitas dan keamanan pangan.
Fenomena salmon candy menunjukkan bagaimana kuliner lokal dapat mendunia lewat media sosial. Namun, perbedaan penting antara produk industri resmi dan versi rumahan tetap harus dipahami oleh masyarakat.
Untuk mengetahui cerita menarik seputar wisata kuliner, tren makanan, serta budaya populer dunia lainnya, terus ikuti berita terbaru di Garap Media. Temukan beragam kisah unik yang siap menambah wawasan dan inspirasi perjalanan Anda.
Referensi
