Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengungkap adanya dugaan sabotase terhadap jembatan bailey yang dipasang di wilayah terdampak bencana di Sumatera. Temuan ini muncul di tengah upaya percepatan pemulihan akses transportasi bagi masyarakat yang terdampak banjir dan longsor.
Pernyataan KSAD tersebut langsung menjadi perhatian publik karena jembatan bailey merupakan infrastruktur vital dalam kondisi darurat. Dugaan pelepasan baut secara sengaja dinilai dapat membahayakan keselamatan warga sekaligus menghambat distribusi bantuan kemanusiaan.
KSAD Ungkap Sabotase Jembatan Bailey
KSAD Maruli menyampaikan bahwa pihaknya menemukan baut-baut pada jembatan bailey dalam kondisi terlepas. Ia menegaskan kejadian tersebut bukan disebabkan oleh kesalahan teknis, melainkan diduga kuat sebagai tindakan disengaja oleh pihak tidak bertanggung jawab (Antara News, 2025).
Dalam keterangannya kepada media, Maruli menyebut tindakan tersebut sebagai perbuatan yang tidak berperikemanusiaan. Pasalnya, jembatan bailey dibangun untuk membantu masyarakat yang sedang berada dalam situasi darurat akibat bencana alam.
Peran Vital Jembatan Bailey di Wilayah Bencana
Jembatan bailey merupakan jembatan rangka baja yang dirancang untuk dipasang secara cepat di lokasi darurat. Infrastruktur ini kerap digunakan TNI untuk membuka akses daerah terisolasi akibat banjir, longsor, atau gempa bumi.
Di Sumatera, jembatan bailey menjadi penghubung utama bagi kendaraan logistik, petugas medis, serta aktivitas ekonomi warga. Dugaan sabotase jembatan bailey berpotensi menimbulkan risiko kecelakaan dan memperlambat pemulihan wilayah terdampak (Kompas.com, 2025).
Dampak Sabotase terhadap Pemulihan Pascabencana
Dugaan pelepasan baut jembatan tidak hanya membahayakan struktur bangunan, tetapi juga keselamatan pengguna jalan. KSAD menegaskan bahwa jika jembatan tersebut digunakan dalam kondisi tidak aman, potensi korban jiwa sangat besar.
Selain itu, aksi sabotase juga dapat memperpanjang masa pemulihan. Akses yang terhambat akan berdampak pada distribusi bantuan, aktivitas ekonomi masyarakat, serta mobilitas aparat yang bertugas di lapangan (DetikNews, 2025).
Pemerintah dan TNI Tingkatkan Pengamanan
Menanggapi kejadian ini, TNI bersama instansi terkait meningkatkan pengawasan di lokasi pembangunan jembatan bailey. KSAD menegaskan bahwa fokus utama tetap pada penyelesaian pekerjaan infrastruktur, sambil melakukan penelusuran terhadap dugaan sabotase tersebut.
Di sisi lain, pemerintah pusat juga menyiapkan tambahan jembatan bailey untuk mempercepat pemulihan akses di daerah bencana. Langkah ini dilakukan agar masyarakat tidak terlalu lama terisolasi akibat kerusakan infrastruktur (Kumparan, 2025).
Solidaritas Jadi Kunci Pemulihan
KSAD Maruli mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga fasilitas umum yang dibangun di wilayah bencana. Ia menekankan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan kerja sama semua pihak, bukan justru dirusak oleh tindakan yang merugikan.
Kasus dugaan sabotase jembatan bailey di Sumatera menjadi peringatan serius bahwa pemulihan bencana tidak hanya menghadapi tantangan alam, tetapi juga faktor nonteknis. Pengamanan dan kesadaran bersama menjadi kunci agar infrastruktur darurat dapat berfungsi optimal.
Ikuti perkembangan berita nasional dan isu kebencanaan lainnya hanya di Garap Media. Temukan laporan mendalam dan informasi terkini seputar pemulihan bencana di berbagai daerah Indonesia.
Referensi
