Rupiah Nyaris Rp18 Ribu, Dompet Warga Terancam?

Last Updated: 28 June 2026, 21:37

Bagikan:

Rupiah Nyaris Rp18 Ribu, Dompet Warga Terancam?
Table of Contents

Garap Media – Melemahnya nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan publik. Ketika kurs rupiah nyaris menyentuh level Rp18 ribu per dolar AS, kekhawatiran masyarakat pun mulai meningkat. Banyak yang bertanya-tanya, apakah kondisi ini akan kembali memicu kenaikan harga kebutuhan pokok seperti yang pernah terjadi pada masa krisis ekonomi?

Rupiah nyaris Rp18 ribu bukan sekadar angka di layar perdagangan valuta asing. Bagi masyarakat, pelemahan mata uang berpotensi langsung terasa di dompet, mulai dari harga pangan, tarif transportasi, hingga biaya pendidikan dan cicilan yang menggunakan acuan dolar AS. Situasi ini membuat publik waspada, terlebih di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Mengapa Rupiah Terus Tertekan?

Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh berbagai faktor global dan domestik. Salah satunya adalah kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.

Suku bunga AS yang tinggi membuat investor global cenderung memindahkan dananya ke aset berbasis dolar karena dianggap lebih aman dan menguntungkan. Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat, sementara banyak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan.

Selain itu, ketegangan geopolitik dunia, perlambatan ekonomi global, hingga ketidakpastian pasar keuangan turut memperburuk sentimen terhadap mata uang emerging market.

Menurut data Bank Indonesia, nilai tukar rupiah sepanjang beberapa bulan terakhir bergerak fluktuatif dengan tekanan yang cukup besar akibat sentimen eksternal.

Dampak Langsung ke Dompet Masyarakat

Pelemahan kurs tidak selalu langsung menyebabkan semua harga barang naik. Namun sejumlah komoditas dan produk impor berpotensi mengalami kenaikan harga lebih cepat.

Barang elektronik seperti ponsel, laptop, televisi, hingga peralatan rumah tangga sebagian besar masih mengandalkan komponen impor. Ketika dolar menguat, biaya impor meningkat dan berpotensi dibebankan kepada konsumen.

Bukan hanya itu, bahan baku industri dalam negeri yang masih bergantung pada impor juga bisa mengalami kenaikan biaya produksi. Jika kondisi berlangsung lama, produsen kemungkinan menyesuaikan harga jual.

Sektor transportasi juga berpotensi terdampak. Sebab sebagian kebutuhan energi dan komponen transportasi masih berkaitan dengan pergerakan harga global yang menggunakan dolar AS.

Harga Pangan Bisa Ikut Bergerak

Masyarakat paling sensitif terhadap kenaikan harga pangan. Meskipun mayoritas bahan pangan diproduksi di dalam negeri, sejumlah komoditas tertentu masih bergantung pada impor.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi pangan sering menjadi penyumbang utama kenaikan biaya hidup masyarakat. Bila nilai tukar terus melemah dalam jangka panjang, tekanan terhadap harga bahan baku impor untuk sektor pangan dapat meningkat.

Ekonom menilai pelemahan rupiah belum tentu otomatis memicu lonjakan inflasi besar. Namun risiko tersebut tetap harus diantisipasi, terutama apabila pelemahan berlangsung berkepanjangan.

Apakah Situasi Ini Sama dengan Krisis 1998?

Pertanyaan ini banyak muncul di tengah masyarakat. Sejumlah ekonom menilai kondisi saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998.

Cadangan devisa Indonesia saat ini berada pada level yang jauh lebih kuat. Berdasarkan data Bank Indonesia, cadangan devisa Indonesia per Mei 2026 tercatat berada di atas US$150 miliar. Angka ini dinilai cukup untuk menopang stabilitas ekonomi nasional dan membiayai kebutuhan impor selama beberapa bulan.

Selain itu, sistem perbankan nasional saat ini juga dianggap lebih kuat dibandingkan era krisis 1998 karena pengawasan sektor keuangan jauh lebih ketat.

Meski demikian, pemerintah dan Bank Indonesia tetap perlu menjaga stabilitas nilai tukar agar pelemahan tidak berlangsung terlalu dalam dan mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat.

Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, masyarakat disarankan lebih bijak mengatur keuangan. Mengurangi pengeluaran konsumtif, memperkuat dana darurat, serta menghindari utang berlebihan dapat menjadi langkah antisipatif.

Bagi masyarakat yang memiliki kewajiban pembayaran dalam mata uang asing, perencanaan keuangan yang lebih matang juga menjadi penting agar tidak terkena dampak pelemahan kurs secara signifikan.

Penutup

Rupiah nyaris Rp18 ribu memang memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat. Meski situasi saat ini belum dapat disamakan dengan krisis ekonomi 1998, pelemahan nilai tukar tetap perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi harga barang dan daya beli masyarakat. Yang terpenting, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat perlu bersama-sama menjaga optimisme sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika ekonomi global.

Sumber Referensi Sah:

  1. CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260625171038-78-1373291/kurs-rupiah-nyaris-rp18-ribu-lagi-apa-bahayanya-bagi-dompet-warga-ri
  2. Bank Indonesia: https://www.bi.go.id
  3. Badan Pusat Statistik (BPS): https://www.bps.go.id
  4. Kementerian Keuangan Republik Indonesia: https://www.kemenkeu.go.id

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /