Rumah Subsidi Dikecilkan Jadi 14 Meter: Solusi atau Masalah Baru?

Last Updated: 24 June 2025, 01:31

Bagikan:

Potret nyata rumah subsidi 14 m² yang diperkenalkan pemerintah: mungil, multifungsi, namun menuai kontroversi soal kelayakan ruang hidup
Table of Contents

Rumah KPR Dikecilkan Jadi 14 Meter: Solusi atau Masalah Baru?

Program rumah subsidi atau Kredit Pemilikan Rumah (KPR) selama ini menjadi andalan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki tempat tinggal yang layak. Namun, belakangan muncul wacana kontroversial mengenai perubahan standar rumah KPR menjadi super mini, yaitu hanya 14 meter persegi. Rumah mungil ini ditawarkan sebagai solusi keterjangkauan, namun publik bertanya-tanya: apakah ini layak disebut “rumah”?


Rumah 14 Meter: Fakta Sebenarnya

Pada Mei 2025, Lippo Group bersama Menteri PUPR Maruarar Sirait memperkenalkan konsep rumah subsidi baru berukuran 14 meter persegi, dibangun di atas lahan seluas 25 m². Rumah ini dirancang dengan tipe studio, yang menggabungkan ruang tidur, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi dalam satu area.

Harga rumah ini dipatok mulai Rp100 juta, dengan skema cicilan sekitar Rp600.000 per bulan selama 20 tahun. Lokasinya direncanakan di wilayah strategis seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Konsep ini disebut sebagai solusi bagi generasi muda urban dan pekerja menengah bawah yang ingin tinggal dekat kota dengan harga terjangkau.


Regulasi dan Tujuan Pemerintah

Wacana rumah subsidi 14 meter ini sejalan dengan draf regulasi baru dari Kementerian PUPR tahun 2025 yang menurunkan standar minimal:

  • Luas tanah: dari 60 m² menjadi 25 m²
  • Luas bangunan: dari 21 m² menjadi 18 m² (14 m² adalah mock-up yang lebih kecil lagi)

Tujuannya adalah:

  • Menekan harga pembangunan rumah subsidi
  • Menyediakan lebih banyak unit dengan harga lebih rendah
  • Meningkatkan ketersediaan rumah di kawasan perkotaan yang padat

Reaksi Publik dan Kritik

Respon masyarakat terhadap konsep rumah 14 meter ini cukup tajam. Banyak yang menilai bahwa rumah sekecil itu tidak manusiawi dan berpotensi menimbulkan masalah sosial baru.

Menurut standar WHO, ruang hidup layak minimal adalah 7,2 m² per orang. Untuk keluarga dengan dua anak, luas ideal mencapai 36 m².

Beberapa kekhawatiran yang mencuat:

  • Ruang terlalu sempit untuk hidup sehat dan nyaman
  • Tidak cocok untuk keluarga, hanya cocok untuk individu lajang
  • Risiko munculnya kawasan kumuh jika tidak dikelola dengan baik
  • Tidak ada ruang tumbuh atau pengembangan

Asosiasi pengembang seperti REI dan Apersi juga meminta pemerintah mempertimbangkan ulang, dan menekankan pentingnya kualitas hidup, bukan sekadar kuantitas rumah.


Apakah Ini Solusi Nyata?

Meskipun niatnya untuk membantu MBR, rumah subsidi 14 meter ini justru memunculkan dilema. Di satu sisi, harga yang sangat terjangkau membuka peluang baru bagi kaum muda dan pekerja urban. Di sisi lain, kualitas dan kenyamanan hidup menjadi taruhan.

Solusi alternatif yang disarankan oleh para ahli antara lain:

  • Desain modular bertingkat
  • Fasilitas komunal yang menunjang keterbatasan ruang privat
  • Tetap mempertahankan standar luas minimum yang layak, sambil memperkuat skema subsidi

Kebijakan rumah subsidi 14 meter persegi memang menjadi inovasi dalam menjawab krisis perumahan. Namun, pemerintah perlu lebih cermat dalam menyeimbangkan antara kuantitas dan kualitas hidup. Rumah adalah hak dasar, bukan sekadar struktur fisik.

Untuk mengetahui perkembangan terbaru soal kebijakan perumahan dan kehidupan urban, baca terus berita terpercaya hanya di Garap Media.

Referensi:

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /