Relapse: Bahaya Diam-Diam yang Mengintai Pemulihan
Relapse dalam pemulihan kesehatan mental adalah kondisi yang sering terjadi namun kerap diabaikan. Banyak orang mengira bahwa pemulihan berakhir saat gejala membaik, padahal kenyataannya, relapse atau kekambuhan bisa terjadi kapan saja dan membahayakan proses penyembuhan. Tanpa pemahaman yang cukup tentang relapse dalam pemulihan kesehatan mental, seseorang bisa terjebak dalam siklus berulang yang merusak mental dan emosinya.
Apa Itu Relapse?
Relapse adalah kondisi ketika seseorang kembali pada pola perilaku atau kebiasaan negatif setelah mengalami masa pemulihan. Istilah ini umum digunakan dalam konteks pemulihan dari kecanduan, seperti narkoba, alkohol, atau perilaku kompulsif lainnya. Namun, relapse juga terjadi dalam proses pemulihan dari berbagai gangguan kesehatan mental, seperti depresi atau gangguan suasana hati.
Tahapan Relapse
Relapse bukan peristiwa instan, melainkan sebuah proses bertahap yang terdiri dari:
Relapse Emosional
Seseorang mulai mengabaikan kebutuhan emosionalnya. Ia mungkin tampak normal, tetapi di dalamnya merasa cemas, tertekan, atau lelah. Komunikasi dengan orang lain mulai berkurang, pola tidur berubah, dan muncul rasa bosan yang ekstrem.
Relapse Mental
Pada tahap ini, konflik batin mulai muncul. Ada bagian dari dirinya yang ingin kembali ke kebiasaan lama, sementara sisi lain berusaha menahan. Pikiran seperti “sekali saja tidak masalah” sering muncul dan mulai menggoda logika sehat.
Relapse Fisik
Ini adalah puncaknya—seseorang benar-benar kembali pada perilaku atau substansi yang sebelumnya coba dihindari. Entah itu menggunakan narkoba, minum alkohol, atau melukai diri sendiri.
Penyebab Umum Relapse
Beberapa faktor yang memicu relapse antara lain:
- Stres dan tekanan hidup
Kehilangan pekerjaan, konflik keluarga, atau tekanan sosial bisa menjadi pemicu kuat. - Lingkungan yang tidak mendukung
Kembali ke lingkungan yang sama saat masih aktif dalam kecanduan dapat memicu kekambuhan. - Kurangnya strategi coping yang sehat
Tanpa cara yang sehat untuk menghadapi emosi, banyak yang kembali ke cara lama yang destruktif. - Merasa terlalu percaya diri
Keyakinan bahwa “saya sudah sembuh sepenuhnya” bisa menurunkan kewaspadaan terhadap potensi relapse.
Cara Efektif Mencegah Relapse
Bangun Sistem Dukungan
Dukungan dari keluarga, teman, atau kelompok sebaya sangat penting. Mereka bisa membantu mengenali tanda-tanda awal relapse dan memberi dorongan positif.
Terapi Rutin dan Konseling
Melanjutkan terapi walau merasa “baik-baik saja” adalah langkah preventif penting. Terapi membantu individu mengelola emosi dan stres secara sehat.
Jaga Pola Hidup Sehat
Olahraga teratur, tidur cukup, dan makan bergizi membantu menjaga stabilitas emosi dan fisik.
Kenali dan Hindari Pemicu
Tiap individu memiliki pemicu relapse yang berbeda. Mengenali dan menjauhinya bisa menghindarkan dari kekambuhan.
Menghadapi Relapse dengan Bijak
Relapse bukan akhir dari segalanya. Ia bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses panjang pemulihan. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang merespons kekambuhan tersebut. Mencari bantuan profesional, berbicara dengan orang terdekat, dan menyusun kembali strategi pemulihan adalah langkah awal menuju jalan yang benar.
Relapse bisa terjadi pada siapa saja yang sedang dalam proses pemulihan. Namun, dengan pemahaman yang tepat dan dukungan yang memadai, kekambuhan bukanlah akhir dari perjalanan. Jangan pernah takut untuk memulai kembali. Selalu ada harapan, dan selalu ada jalan keluar.
Baca lebih banyak artikel kesehatan mental dan pemulihan hanya di Garap Media – temukan wawasan yang membangun, inspiratif, dan solutif.
