Kebiasaan minum kopi atau teh saat Ramadan sering kali sulit ditinggalkan, terutama bagi mereka yang terbiasa mengonsumsi kafein setiap hari. Namun, apakah kebiasaan ini aman saat menjalankan ibadah puasa? Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS, pakar Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Institut Pertanian Bogor, mengingatkan bahwa konsumsi kopi dan teh selama Ramadan perlu diperhatikan, terutama dari sisi kandungan kafeinnya.
“Yang pertama kopi itu bersifat diuretik sehingga orang yang minum kopi akan lebih banyak mengeluarkan cairan via urine. Teh itu juga mengandung kafein tetapi mungkin tidak setinggi kopi sehingga dampaknya terhadap sifat diuretik itu tidak sehebat seseorang minum kopi,” kata Ali.
Efek Diuretik dan Risiko Dehidrasi
Menurut Ali, secara umum konsumsi kopi atau teh saat Ramadan tidak langsung mengganggu kesehatan. Namun, efek diuretik dari kafein bisa membuat tubuh lebih sering buang air kecil, sehingga cairan tubuh lebih cepat berkurang. Kondisi ini berpotensi memicu dehidrasi, terutama saat seseorang menjalani puasa lebih dari 12 jam tanpa asupan cairan. Dampaknya bisa terasa dalam bentuk tubuh lebih cepat lemas, mudah lelah, hingga kurang fokus saat beraktivitas. Karena itu, penting untuk mengatur jumlah konsumsi kafein agar tidak berlebihan selama Ramadan.
Gangguan Tidur Selama Ramadan
Selain berisiko menyebabkan dehidrasi, kafein juga memiliki efek stimulan yang membuat seseorang lebih terjaga. Pada bulan Ramadan, pola tidur memang sudah berubah karena harus bangun lebih awal untuk sahur. Jika konsumsi kopi atau teh dilakukan dalam jumlah besar, terutama menjelang malam, hal ini bisa memperburuk kualitas tidur. Akibatnya, tubuh menjadi kurang istirahat dan kondisi fisik saat berpuasa bisa menurun.
Perhatikan Asupan Gula Tambahan
Kebiasaan lain yang perlu diperhatikan selama Ramadan adalah penggunaan gula dalam kopi atau teh. Banyak orang menambahkan gula dalam jumlah cukup tinggi untuk meningkatkan cita rasa. Padahal, asupan gula berlebih saat sahur maupun berbuka dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti lonjakan gula darah hingga peningkatan berat badan. Mengurangi gula tambahan menjadi langkah bijak agar ibadah puasa tetap sehat dan nyaman.
Bagaimana dengan Campuran Susu?
Sebagian orang juga menambahkan susu ke dalam kopi atau teh. Ali menjelaskan bahwa mencampurkan susu bukan berarti menghilangkan nilai gizinya. Namun, ketika susu dicampur dengan kopi atau teh, manfaat nutrisinya tidak lagi dominan karena hanya menjadi pelengkap rasa.
“Oleh karena itu memang saya lebih menganjurkan kalau ketika anda sahur, ketika anda berbuka itu minum cairan-cairan lain, mungkin dampak terhadap problem yang dihadapi tidak terlalu besar,” ujar Ali.
Penutup
Ngopi tetap bisa dinikmati selama Ramadan dengan tetap memperhatikan jumlah kafein, waktu konsumsi, serta tambahan gula atau susu agar puasa tetap nyaman. Dengan begitu, tubuh tetap sehat dan energi terjaga sepanjang hari tanpa mengganggu ibadah.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar tips gaya hidup sehat, kesehatan, pola makan, minuman, tidur, hidrasi, nutrisi, puasa, kopi, teh, dan kafein hanya di Garap Media.
Referensi:
- Liputan6. (2026). Ramadan Bukan Alasan Stop Ngopi, Tapi Perhatikan Hal Ini. Retrieved from https://www.liputan6.com/health/read/6285186/ramadan-bukan-alasan-stop-ngopi-tapi-perhatikan-hal-ini
